Roundhay park, jelajahi taman ini cocok buat ngabuburit nih!

Menikmati segarnya udara dan manjakan mata akan keindahan alam bisa kita nikmati di banyak taman kota yang ada di Inggris. Salah satunya di Kota Leeds.  Ya, karena setiap kota di Inggris memiliki taman kota yang siap manjakan warganya untuk beraktifitas dan bersantai bersama teman dan keluarga, seperti yang saya lakukan beberapa waktu yang lalu berkunjung ke sini di akhir pekan.

Roundhay Park Leeds

Taman yang ada di Kota Leeds ini bernama Roundhay Park. Luasnya 2,8 km2 yang terdiri dari taman, danau, hutan kota, kebun serta kanal. 

Awalnya, di abad ke-11 taman ini merupakan milik pribadi seorang bangsawan Inggris yang turun-temurun terus berpindah tangan dari satu ke yang lainnya, namun sejak tahun 1872 resmi menjadi milik pemerintah daerah dan dibuka untuk umum. Sejak itulah warga Leeds biasa habiskan waktu santainya di sini.

Di saat akhir musim semi jelang musim panas seperti ini banyak warga yang mengunjungi taman ini, baik anak muda, keluarga serta oma opa. Entah untuk berjalan santai nikmati suasana, mengajak anak-anak bermain ataupun mengasuh hewan peliharaaan, berolah raga dan sebagainya.

Kolam, air mancur, bunga beraneka rupa, rerumput hijau, pepohon rindang semuanya begitu asri, sejuk dipandang mata, segar dihirup paru-paru.

Roundhay park merupakan salah satu taman kota terbesar di Eropa. Dan tentunya menjadi  salah satu tempat rekreasi terfavorit warga Leeds serta wisatawan luar dan mancanegara yang datang ke kota ini.

Jika lelah mengelilingi taman di kita bisa duduk-duduk santai di banyak bangku taman yang ada di sini. Atau, jika lelah berjalan, sesekali waktu di sini ada kereta mini yang bisa kita naiki yang sebetulnya untuk menarik perhatian dan dinaiki pengunjung cilik.

Jadi, luasnya taman yang 2,8 km ini cocok juga untuk dijadikan tempat ngabuburit dengan cara yang menyehatkan, bukan?

Oiya, biasanya di saat musim panas antara Juli – Agustus, biasanya di taman ini kerap digelar acara-acara serupa festival serta keriaan lainnya. Seperti Food Festival, Music Festival dan lain sebagainya.

Suatu saat, ketika kamu melancong ke sini, boleh juga nih Roundhay park dijadikan destinasi kunjungan Anda 😉

Beberapa taman kota lainnya di Inggris yang patut di jajal ialah:

Canon Park di Kota Birmingham

St James’s Park London

Hyde Park London

Sensasi Tinggal di Rumah Bangsawan Inggris di Abad-18

Sebetulnya, ini bukan kali pertama saya berkunjung ke Bath, sebuah kota dekat Bristol. Dulu, klo gak salah, tahun 2008 pertama kali kami piknik ke kota ini diantar seorang kawan yang kini sudah almarhum (semoga Allah berikan tempat terbaik untuknya).

Nah, beberapa waktu, bersama genk grudukan aka teman-teman diaspora dan anak student yang siap jinjing tas saat mendengar kata “piknik” pergilah kami ke sini. Seperti biasa, piknik grudukan ini janjian ngumpul di TKP. 3 mobil, plus ada yang pake kereta. Namanya juga pergi dari rumah masing-masing plus dengan kerompongan masing-masing, walhasil nyampe di TKP pun bertahap dan eike yang duluan nyampe bo, padahal dari luar kota gituloh. Anyway, setelah ngumpul, piknik pun dibuka dengan gelar tikar (kain dink) 😀 BBQ’an, makan siang, obrol-obrol sambil bejemur (hayah! sok bule) 😀

Karena bawa bocah-bocah yang gak bisa diem, kepaksa acara duduk santei bubarrr… lipat kain, beberes barang, pindah lapak deh.. ngangon bocah di taman yang super luar, maen di playground pula. Sementara bocah yang diangon 4 orang yang ngangon 10 orang dewasa, nyantei sambil nikmatin es krim di bawah pohon rindang, saiikkkk….

20170507_151344
(pasukan minus yg main di playground)

Sementara itu, biarkan mereka anteng di sana, me and my partner in crime cabut, gak jauh dari situ, biasa.. nyari bahan dong ah. Jalan kaki sekitar 10 menit’an nyampelah kami ke Royal Crescent. Apakah itu?

Royal Crescent, Bath

Jadi, di abad ke 18 awal dibangunlah sebuah komplek kediaman elit. Pada waktu itu, hanya bangsawan, orang ternama, orang terpandang dan orang kaya sajalah yang mampu tinggal di sini (ya sekarang juga sih, cuman orkay, pk bgt, yg mampu tinggal di sini). Harga rumah di sini awalan T, bukan lagi M. Namanya juga kawasan elit gituloh.

Royal Crescent terdiri dari 30 rumah dengan tipe terrace house. Berjejer seragam berarsitektur georgian. Royal Crescent merupakan bangunan bergaya arsitektur Georgian terbesar di UK, maka tak heran jika masuk dalam Listed Building Grade I alias bangunan sejarah yang lindungi negara Grade I.

Tiap rumah terdiri dari 4 lain, plus base floor untuk para budak (belian) pada waktu itu loh ya.. abad 18 awal gituloh. Jadi basement ini untuk kamar para pekerja, dapur dan utility room dll.

Sekarang, satu rumah (4 lantai) itu bisa jadi berapa pintu. Maksudnya dibagi  jadi beberapa apartemen.  Karena tiap lantainya juga cukup luas. Tak hanya menjadi hunian pribadi saja, sekarang di Royal Crescent ini ada yang berubah fungsi menjadi hotel, spa, kantor dan lainnya. Khusus Royal Crescent nomor 1 dijadikan museum oleh pemerintah daerah setempat. Tak lain agar warga umum dan wisatawan dalam dan luar negeri mengetahui dan merasakan kehidupan di jaman itu. Karena semua furniture yang ada di sini diset seperti aslinya.

Kalau mau lihat seperti apa isi Royal Cresent no.1 klik aja link berikut ini.

Akses tangga yang ada di rumah elit ini ada dua. Tangga dari arah depan dengan model lurus, ukurannya lebar dan berkarpet empuk. Namanya juga untuk tuan nyonya dan para tamu. Nah akses tangga satunya lagi ialah tangga samping yang modelnya spiral, ukurannya sempit, nikung banget, curam pula, memang diset untuk para budak/pegawai kali ya.

Nah, saat saya harus melewati tangga tersebut untuk menuju dapur yang ada di basement, GEDUBRAK! terjadilah kecelakaan. Antara malu dan sakit, mana suasana hening  pula.
“Are you okey?” tanya pengunjung bule lainnya. Masa kujawab gak okey, ya okeyin aja deh. Walaupun ngejoprak agak lama di sana 😀

Dengan tertatih, saya keluar museum. Di koling-koling itu pasukan genk kemana.. gak ada yang nyaut. Pada anteng maen prosotan apa pada ketiduran bejemur gitu ya? Sementara my partner in crime entah kemana karena doi juga punya projek sendiri di seputaran saya. Akhirnya, beberapa saat kemudian semua aprokan dan kembali buka lapak di taman depan Royal Crescent ini.

Bath, Royal Crescent
Abaikan kaos kaki putih di depan kami, karena abis ngurut pergelangan kaki saya yang mulai membengkak 😀

Ya sudah, lupakan kaki bengkak, mari kita lanjut kembali piknik, mumpung matahari panass… padahal udah jam 7 ini. Kembali buka perbekalan n BBQ lain, anggap aja makan malam 😀

Bath itu dekat dengan Bristol, jadi kalau melancong ke Bath jangan lupa mampir ke Bristol? Ada objek wisata apa saja di Bristol? Banyak! Salah satunya kamu bisa ke sini:

Pelabuhan Bristol Jadi Objek Wisata Andalan 

Satu Tas Untuk Semua Destinasi

Sebagai tukang jalan, bagi saya, tas adalah barang yang sangat esensial untuk dibawa.
Dan bagi saya, tas jalan itu ya ransel. Bukannya apa, soalnya kalau tas selempang kadang pegel aja bawanya gitu, udah gitu gak bisa memuat banyak barang, gak seimbang pula karena talinya cuman satu. Slempang kiri-slempang kanan, bergantian. Kalau perjalanan gak begitu jauh sih okey-okey aja.

Tas tenteng pun, saya kurang suka. Kecuali menghadiri acara resmi dong ya?
Jalan bawa tas tenteng ala-ala ibu-ibu itu bawanya ribeud, bok. Karena kalau bawa tas tenteng pasti tangan satu gak bisa lepas dari tas. Sedangkan yang dimaksud “jalan” disini adalah jalan sambil nyari “bahan”. Bahan apa? bahan yang satu ini nih 😉. Yang pastinya kedua tangan saya harus free gak nenteng apapun. Karena harus siap siaga pegang kamera begitu nemu objek tertentu.

Makanya kalau kamu liat foto jalan saya di IG ataupun video saya di NET_CJ 95%nya nemplokin ransel di punggung.

Ransel seperti apakah yang asik dibawa jalan?

Pertama, ukurannya harus pas sesuai kebutuhan.
Acara “jalan” setengah hari atau seharian, tentunya tidak sama dengan ransel yang diperlukan untuk beberapa hari jalan, ya kan?

Kedua, pilih model yang sesuai dengan yang kamu sukai.
Beneran, kalau kita pake sebuah barang, apapun itu, kalau kita suka modelnya, pasti dipakenya juga lebih PD.

Ketiga, bukan hanya modelnya bagus tapi juga kualitasnya bagus.
Kualitas bagus salah satu penentunya ialah materialnya yang bagus juga proses produksinya yang bagus.
Sering kali, kalau barang itu punya “merek” biasanya itu bisa dijadikan jaminan mutu.
Masih masuk dalam kualitas bagus ialah ransel itu bandel aka tahan lama alias gak rusak-rusak 😀

Keempat, modelnya sesuai dengan tema “jalan” kita.
Kenapa? karena ransel-ransel jaman sekarang makin banyak modelnya yang disesuaikan dengan kebutuhan kita.
Misal, ransel kerja tentunya gak sama dengan ransel gunung dong ya?
Yaealah… 😉

Dari keempat hal di atas itu, saya sering menggunakan tas ransel yang berikut ini:

Ransel keren
Lokasi: China Town London

Saya memilih ransel ini karena memenuhi 4 kriteria di atas tadi. Ukurannya pas sesuai kebutuhan kami (saya dan suami). Kalau kami travel ke London, dari pagi hingga malam banyak tempat yang kami jajal untuk dijadikan liputan. Alhamdulillah seperti beberapa waktu lalu, sekali kayuh 2-3- 5-7 objek terlampui. Sehingga segala kebutuhan kita mampu ditampung di ransel segede gitu doang itu. Pakaian, makanan-minuman, peralatan rekam dan tektek bengek lainya. Termasuk laptop. Mulai dari Sabtunya ke Oxford, minggunya ke London.

Modelnya saya suka banget. Keren aja gitu. Bentuknya juga ngotak, sehingga penyusunan barang-barang di dalamnya lebih rapi teratur. Udah gitu, banyak bagian-bagiannya yang terdiri dari belasan kantong didalamnya, termasuk buat printilan yang kecil-kecil seperti untuk bolpen dll). Sehingga tempat laptop, tempat dokumen, tempat makanan, tempat minum, tempat dompet, tempat alat make-up (hayah.. maksudnya bedak, lipstik, pelembab, hand sanitizer dll) punya tempat tersendiri. Total jendral, ransel ini memuat 16L barang bawaan.

Tentunya selain modelnya bagus kualitasnya juga bagus. Padahal itu tas udah dibawa kemana-mana, Indonesia-UK. Bebannya pun berat, sampe tripod dan stabilizer kamerapun menjadi penghuni tetapnya, tapi  ranselnya bandel karena emang jahitannya kuat. Bahannya juga bikin gak  kusut serta gak mudah kotor karena berbahan polyester. Kalau kotor kena goresan lumpur, tinggal dilap pake lap basah aja, beres.

Model kayak gitu tuh bisa masuk ke acara resmi, juga bisa dipake “jalan” santai. Buktinya waktu liputan Indonesian Regal Heritage beberapa waktu lalu di kampus Oxford, ransel ini cucok diajak masuk ke “dalam”.

Saking seringnya pake ransel ini kemana-mana sampai-sampai gak sadar kalau setiap kali PTC/oncam alias nampang kamera, itu ransel nemplok terus di punggung, seperti beberapa video berikut ini yang diambil di hari yang sama, kunjungi pasar Portobello London, kemudian berlanjut ke musim semi Jepang Rasa Inggris dan liputan paska kejadian serangan teror di Westminster Abbey London.

Info Seputar Locker di Bandara

Di postingan lalu, saya ceritakan tentang kepulangan saya ke Inggris yang penuh drama di link berikut ini:

Rekor, Perjalanan Indonesia-Inggris 2,5 hari.

Di postingan tersebut, saya harus habiskan waktu 7 jam di bandara sebelum terbang ke Inggris memeluk orang-orang terkasih yang selama sebulan itu saya tinggalkan.

7 jam? di bandara? kebayangkan kan kesel bin BTnya minta ampun.

Waktu itu, saya berpikir, hmm.. baiknya saya ke kost’an sepupu saja aja dulu. Mayan kan bisa rebahan, tiduran, makan-makan atau jalan-jalan mungkin. Atau, janjian ketemuan sama teman.

Dalam memikirkan hal itu, saya berpikir, ngak mungkin kan saya membawa koper sebanyak dan seberat ini. 2 koper besar (bagasi), satu koper kecil (kabin) dan sebuah ransel. Klo ransel mah enteng, saya gak bisa travel tanpa nemplokin benda yang satu ini di punggung saya.

Baiklah, hal pertama yang harus saya lakukan adalah, mencari informasi. Setahu saya, kalau di bandara luar negeri ada locker tempat penitipan koper. Harusnya di Bandara Soeta juga ada dong ya? Iya dong.

Saya hampiri meja informasi. Oh, ternyata ada di lantai bawah. Bergegaslah saya menuju lift yang harus melewati pintu bandara. Adempun berganti panas. Waktu itu, waktunya musim umroh, maksudnya, Desember-Januari itu memang peminat umroh cukup membludak sehingga saya harus menunggu antrian lift. Dimana dari dua lift hanya satu yang beroperasi. Yang mana masing-masing orang membawa troley pula seperti halnya saya.

Tiba di bawah, saya clingukan. Saya pikir konter atau tempat locker penitipan koper itu gede. Taunya kecil banget 😀
Letaknya dekat terminal kedatangan Internasional (terminal 2)

Saya pun masuk dan coba bertanya berapa tarifnya, mudah-mudahan gak mahal dan mudah-mudahan bisa itungannya per jam.

Ternyata, ngitungnya per hari alias per 24 jam. Walaupun sebenernya saya cuma mau nitipin sekitar 5-6 jam doang. Tapi ya gimana ya.. ya sutralah..

Petugas: Ditimbang dulu yang bu!
Saya       : saya?
Petugas: kopernya bu! 😀
Oh… 😀

Saya pikir, itungannya total berat barang bawaan. Taunya ditimbang per-koper.
Bentar, saya cari bukti slipnya tapi kok ya ilang.
Seingat saya, total saya bayar 115k apa 135k gitu. Dengan rincian, 1 koper L, 2 koper M.
Karena itungan berat koper berdasarkan ukuran S, M, L, EL (kayak ukuran baju ya?) 😀

Small             =    0 – 10kg
Medium        = 11 – 20kg
Large             = 21 – 30kg
Extra Large = 31 – 50kg

Nah, soal harga per-kriteria itu yang saya lupa, klo liat websitenya urutannya 25k, 35k, 45k, 55k (2011).
Duh, sayang slipnya gak tau nyelip dimana, biasanya saya tertib loh dalam pengarsipan. Mungkin karena waktu itu saya BT kali ye.. Ntar klo slipnya ketemu n ada ketidakcocokan tarif, nanti saya koreksi.

Kalau ada pembaca yang mengalami hal serupa dengan saya (nitip di locker Bandara Soeta) boleh dikoment ya kaka…

Tempat penitipan barang di bandara

Anyway, ketiga koper itupun saya titipkan, plus bonus, jaket Eiger, si jaket kojo itupun saya titipkan pula. Setelah slipnya saya masukin ke ransel Eiger yang juga ransel kojo melengganglah saya dengan bebas dan ringan.

Ransel keren

Setelah itu, hal pertama yang saya lakukan adalah makan dulu. Di salah satu resto cepat saji yang ada di Bandara Soeta. Sambil kontak-kontakan dengan sepupu saya yang kerja di Jakarta. Jauh dari bandara sih, sekitar 40 menit perjalanan. Tapi tak mengapa, tadinya mau sekedar ngaso bentar di rumahnya dia. Etaunya beliau lagi dinas ke luar kota.

KFC Bandara

Hmm.. yasud. Dengan dititipkannya koper tersebut saya jadi bebas ke toilet. Tadinya sempet berpikir ini troley isi 3 koper klo sy ke toilet pengimane urusannya? trus klo mau sholat pegimane pula urusannya?

Dengan dititipkannya ketiga koper itu kan saya jadi khusuk sholat di mushola bandara sambil leyeh-leyeh santai di dalam bandara.

Ruang tunggu bandara
Ngaso dulu ah.. untung sepatu dan celana panjangnya nyaman dipake jarah jauh.

Singkat cerita, selang beberapa jam kemudian, saya pikir, sudah waktunya saya check in.

Saya ambilah ketiga koper itu di tempat penitipan barang aka Left Baggage Service atau istilah lainnya locker.

lalu, chek in lah saya.

Dan taukah pemirsah? drama ketinggalan passport berPermanent Resident yang tertinggal di Bandung itu? Kalau belum tau tragedinya, silakan baca dulu artikel berikut ini 😀

Seperti kesimpulan drama di malam itu, akhirnya saya memutuskan menginap di rumah emak. Dan tau dong, betapa rempongnya bawa-bawa 3 koper ini. Akhirnya, saya kembali ke tempat Penitipan Barang aka Left Baggage bin Locker.

Maksud saya, penitipan barang di sana itu kan berlaku 24 jam. Nah, tadi kan saya cuma nitipin sekitar 5 jam doang. Saya pikir, boleh dong nerusin yang tadi 😀

Ealah.. tapi tak begitu kawan. Katanya, karena saya sudah menandatangi pengambilan barang. Kalau mau nitip lagi harus bikin slip baru lagi dan bla.. bla.. bla…

Baiklah, ketiga koper itupun kubawa keluar bandara, padahal besok bakal kesini lagi pulak.

Bener ya, pengalaman itu gak selalu harus manis, sesekali miliki pengalaman ngenes seperti ini tuh bikin hidup makin hidup. Bikin kita mangkin banyak tau segala hal.

Satu hal lainnya, saya jadi bisa berbagi informasi kepada Anda. Semisal kamu transit di Bandara Soeta terus mau travel kemana dulu gitu tanpa rempong bawa koper gede, titipin aja di sini.