Sekilas, Makartsteg Bridge yang berada di pusat Kota Salzburg ini sama halnya dengan jembatan kebanyakan. Namun ada yang menarik di jembatan yang melintas di atas Sungai Salzach di negara Austria ini.
Di kedua sisi pembatas jembatannya tergantung ribuan gembok. Bahkan mungkin lebih. Ini bukan gembok biasa, tapi gembok cinta. Ya, pada gembok-gembok tersebut tersemat nama-nama sepasang kekasih ataupun keluarga dan saudara tercinta.
Pemilik gembok-gembok ini secara simbolik menyatukan nama mereka dengan maksud dan harapan agar hati keduanya tergembok, tertaut dan terkunci selamanya.
Dari tahun ke tahun jembatan yang menjadi objek wisata andalan Austria ini makin dipenuhi gembok-gembok cinta yang beraneka warna, bentuk dan rupa.
Hal ini tentunya menjadi fenomena unik dan menarik. Banyak pelancong yang datang dari berbagai daerah dan berbagai belahan dunia ikut menambatkan gembok cinta di sini. Tak lupa mereka mengabadikan diri berfoto berlatar belakang jembatan yang unik ini.
Untuk wisatawan yang tidak membawa gembok dari rumah, jangan khawatir, karena di toko-toko suvenir di area wisata ini dijual aneka jenis gembok.
Karena kehadiran gembok-gembok cinta yang memenuhi pagar pembatas jembatan, nuansa jembatan salzburg inipun menjadi romantis.
Bagusnya, jika hendak melancong ke sini ajaklah orang terkasih anda. Jangan lupa sematkan gembok cinta kalian di jembatan nan romantis yang didekap suasana sungai Salzach nan menawan.
Selain kekuatan gembok cinta, objek wisata ini menjual pesona alam berupa keindahan Sungai Salzach yang menenangkan serta tebing-tebing tinggi melatarbelakangi bangunan megah sekitarnya yang bergaya artisektur Austria yang khas.Banyak turis yang duduk-duduk, tiduran atau bersantai sambil berjemur di tepian Sungai Salzburg yang berumput hijau sambil menyaksikan keindahan alam sekitar yang tanpa batas.
N10-12. NAdes.0507072016
Intip juga wisata Austria yang kece lainnya berikut ini:
doe– a deer a female deer ray– a drop of golden sun me– a name i call myself far– a long long way to run sew– a needle pulling thread la– a note to follow sew tea– a drink with jam and bread that will bring us back to do… oh oh oh
Ada yang kenal dengan lagu di atas?
Hmmmm, kayaknya cuman orang-orang kece seangkatan saya ke atas deh yang kenal sama lagu di atas itu.
Iya, mungkin seangkatan ibu kamu, ayah kamu, om-tante kamu 😀
FYI, lagu ini merupakan salah satu sountrack lagu film The Sound of Music.
Jadul banget memang, film ini di Amrik sana beredar tahun 65. Tapi kan nyampe di Indonesianya telat banget. Maklum jaman dulu belom ada youtube n internet 😀
Jadi, apa-apa yang yang nge-hit di “Barat” nyampenya beberapa tahun kemudian 🙂
Udah gitu, pada waktu itu, gak semua orang mampu nonton film bioskop. Makanya walaupun di Amrik sana film ini beredar tahun 65 tapi saya nontonnya jaman SD di TVRI beberapa belas tahun kemudian 😛 Itulah suatu bukti saking fenomenalnya film drama musikal ini.
Penasaran seperti apa fenomenalnya film legendaris tersebut?
Buat anak kemarin sore, intip cuplikannya di bawah ini!
Nah, buat kamu-kamu seangkatan saya ke atas, atau penggemar film klasik silakan lempar memory Anda ke masa lalu. Masih ingat kan plotnya?
Ringkasnya, adalah seorang Nanny yang mengasuh 7 anak kapten “DUREN” yang kaya raya. Mengurus 7 anak ini penuh keseruan. Sang Nanny yang bernama Maria orang Austria ini orangnya mengasyikan, salah satunya ia mengajarkan anak-anak menyanyi. Tak heran jika di film ini ada banyak lagu yang terkenal hingga saat ini. Diantaranya do-re-mi seperti yang di atas tadi, Sound of Music dan Edelweiss.
Sebentar, kalau gak salah, setelah film ini beredar di Indonesia, menyusul film sejenis di tanah air yang dibintangi oleh Immaniar dengan The Big Kidsnya. Pada jaman itu, siapa yang gak kenal keluarga Said Kelana 😉
Klo gak salah yang jadi bapaknya Edi Soed.
Kalau saya salah, dan masih ada yang inget, koreksi ya..
Dan itu artinya, kamu udah tua! 😛
Mau tau, kabar Immaniar saat ini? Intip aja di artikel saya berikut ini!
BTW, “Do-Re-Mi” di atas entah ada hubungannya dengan “Do-Mi-Sol”nya Bang Haji feat Rita Sugiarto, entah tidak, saya kurang paham. Tapi, bisa jadi Bang Haji nyiptain lagu tersebut terinspirasi dari film The Sound of Music ini 🙂
Mungkin juga kali ya?
kwkwkw.. jadoel amat gue 😀
Udah jadoel, dungdat pulak! 😛
Secara, itu lagu keluarnya kan taon 70’an.
Bagaimana dengan Budi doremi?
Mungkinkah ide lagunya dari film The Sound of Music juga?
Au deh.
Eh, malah ngelantur kejauhan.
Jadi, meski sudah lebih dari 50 tahun alias setengah abad, namun lagu ini masih banyak diingat dan dinyanyikan banyak orang. Begitulah film The Sound of Music melekat di hati banyak orang, termasuk saya.
Selain film serta sountracknya yang fenomenal, satu hal lainnya yang menarik perhatian dari film ini adalah Mirabell Gardens. Yang tak lain tempat seting film sound of music yang melegenda itu.
Mirabell Gardens berada dalam kompleks Mirabell Palace yang berdiri pada tahun 1606. Karena historisnya bangunan ini masuk dalam situs warisan budaya Unesco. Taman Mirabell yang melingkup Mirabell Palace ini sangat luas, berumput hijau, berhias bunga-bunga cantik aneka rupa dan beberapa air mancur.
Kepopuleran Mirabell Gardens berhasil menarik minat wisatawan untuk bertandang ke sini. Baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan manca negara.
Uniknya, seting tamannya masih sama seperti yang di film The Sound of Music setengah abad yang lalu. Perhatikan saja detailnya di video berikut ini!
Keindahan Taman Mirabell membuat wisatawan betah berlama-lama di sini. Baik sekadar menikmati suasananya, menapaki bagian sejarahnya, ataupun ingin merasakan rasa “The Sound of music” yang melegenda itu. Ada pula yang memanfaatkan taman cantik ini sebagai lokasi pemotretan pre-wedding.
Untuk memasuki taman yang terletak di Kota Salzburg ini tidak dipungut biaya alias gratis.
N12. NAdes06072016
Masih ada wisata Austria lainnya yang menarik untuk dikunjungi.
Ini dia!
Menonton drama indoor? itu biasa. Menonton pertunjukkan drama outdoor, itu baru unik.
Nah, di Cornwall Inggris ada sebuah teater terbuka bernama Minack Theatre.
Minack Theatre merupakan salah satu destinasi wisata Cornwall yang banyak diburu wisatawan. Baik lokal maupun manca negara, karena lokasi dan kontur teater terbuka ini sangat menakjubkan. Letaknya terpencil di tepi tebing.
Latar belakang teaternya bukan lukisan yang biasa digonta-ganti penata pangung. Melainkan scenery asli. Llangit luas, tanpa batas, membiru, laut lepas, menenangkan.
Sebelah kiri teater terbentang lukisan alam berupa tanjung yang memanjang. Tanjungnya mendekap ceruk pantai. Dimana di atas tanjung tersebut terhampar rerumput hijau.
Untuk memasuki Minack Theatre kita harus membayar tiket seharga £4.5 atau sekitar Rp. 80.000,
Sayangnya, Minack Theatre tidak mengelar pertunjukkan setiap hari. Ada waktu-waktu tertentu. Biasanya seminggu 2-3 kali di akhir pekan. Dimana pertunjukan biasanya digelar di sore hari. Sehingga ketika sunset tiba dan tata lampu dinyalakan membuat suasana romantis kian terasa.
Ada atau tidak ada pertunjukkan, Minack Theatre terbuka bagi pengunjung. Setiap hari, mulai pukul 10 pagi hingga pukul 4 sore. Kelebihan lainnya mengunjungi Minack Theatre diluar jadwal pertunjukkan, kita bisa leluasa berfoto ria, menikmati suasana dan menjelajah setiap sudut teater berbentuk setengah lingkaran tersebut.
Minack theatre memiliki tempat duduk yang unik, terbuat dari batu. Untuk kelas biasa posisinya melingkar di tengah area. Kelas VIP agak lebih tinggi, posisinya sebelah kiri. Uniknya bangku-bangku batu itu diberi nama sesuai judul film legendaris yang sempat dipentaskan dramanya di sana.
Ada lagi bangku VVIP, letaknya di balkon. Namanya juga balkon, tentu saja posisinya lebih tinggi. Di tempat ini semua penjuru terlihat jelas. Cakrawala benar-benar ada di depan mata.
Untuk mengetahui sejarah berdirinya Minack Teater kita bisa melihatnya di museum aka ruang pamer yang tak jauh dari teater tersebut. Minack theatre lahir dari tangan Rowena Cade. Seorang wanita perkasa yang mempunyai mimpi besar terhadap seni drama. Pada 1931 hingga akhir hayatnya pada 1983, Rowena mendirikan dan membiayai teater Minack sendiri.
Rowena lahir pada 1893 dari keluarga berada. Saat perang dunia pertama keluarganya jatuh bangkrut. Kondisi memaksa Rowena remaja menjadi pengurus kuda dan tinggal di karavan. Sampai akhirnya ia dan keluarganya pindah ke Cornwall.
Pada 1929 ia menggelar pertunjukan drama dan mendapat sambutan hangat dari kerabatnya. Dari sana ia memiliki ide gila. Ia ingin mengubah tebing bebatuan itu menjadi tempat pertunjukan. Dibantu dua orang pegawainya ia berhasil mewujudkan mimpinya tersebut. Dan jadilah Minack Theatre yang bisa kita kunjungi sampai saat ini.
Mau lihat seperti apa indahnya Minack theatre, ini dia video hasil jalan-jalan kami beberapa waktu yang lalu itu:
Wisata belanja London tak melulu wisata belanja kelas atas seperti Harrods dan sebagainya. Satu wisata belanja yang patut anda jajal saat melancong ke London adalah pasar tradisionalnya, karena di sini kita bisa melihat sisi lain kota London.
Salah satu pasar tradisional yang masuk dalam daftar destinasi kunjungan wisata london ialah Brick Lane Market yang buka setiap hari Minggu.
Pasar ini telah ada sejak abad ke-17 yang awalnya menjual sayur dan buah hasil petani lokal. Namun seiring waktu, sekarang bisa kita jumpai segala macam produk di sini. Tak hanya sayur dan buah, barang antik, pernak-pernik, pakaian, tas, sepatu, suvenir dan lainnya lengkap tersedia.
Meski beragam barang dijual di sini namun lebih dari setengahnya merupakan penjual kuliner. Uniknya, sebagai kota multi etnik dan beragam bangsa, di sepanjang Jalan Brick Lane ini akan kita temukan segala rupa kuliner dari berbagai negara di dunia. Asia, Afrika, Amerika, Eropa.
Kuliner Malaysia, Singapura, Korea, Cina, Burma, Thailand, Vietnam, India, Pakistan, Bangladesh, Jepang, Maroko, Turki, Brasil, Spanyol, Athena, Italia, Jerman, Polandia, Caribia, bahkan kuliner Ethiopia pun ada dan masih banyak lagi kuliner negara lainnya.
Mulai dari makanan kecil hingga makanan berat. Mulai dari yang asin hingga yang manis. Rata-rata harga makanan yang ditawarkan di sini per-porsinya £5 pounsterling atau sekitar Rp. 90.000. Sedangkan untuk minuman, yang termurah £1 atau sekitar Rp. 18.000 untuk segelas jus stroberi.
Adapun lapak jualan mereka menggunakan tenda non permanen. Ada pula yang menggunakan mobil seperti yang saya temui. Yaitu penjual kopi yang menggunakan black cab alias taksi hitam, ciri khas taksi London, sebagai boot jualanannya.
Di pasar ini terdapat dua toko beigel yang sangat laku dan legendaris. Telah ada sejak tahun 1855 dan 1974.
Melirik ke belakang, kawasan ini cukup menarik untuk diketahui. Brick lane diambil dari kata brick yang artinya bata karena pada abad ke-15 di kawasan ini terdapat pabrik bata.
Di abad ke-19 kawasan ini didatangi para migran dari Irlandia dan migran Yahudi. Di abad ke-20 masuklah para migran Banglades bersamaan dengan perlahan keluarnya kaum Yahudi di kawasan ini.
Hingga sekarang kawasan ini didominasi migran Banglades. Tak heran jika penamaan jalan di kawasan ini selain menggunakan Bahasa Inggris juga menggunakan Bahasa Urdu. Tak heran pula jika di sini terdapat mesjid yang cukup besar bernama Brick Lane Jamme Masjid. Nuansa keragaman pun terasa ketika melewati mesjid ini manakala bel gereja sebelah berdentang kencang.
Diantara hiruk pikuk wisatawan yang tengah hilir mudik musisi jalanan menambah marak suasana pasar ini. Jika Anda memasukkan Brick Lane Market sebagai salah satu destinasi tujuan anda melancong ke London, catat waktunya, ya! karena Brick Lane Market hanya buka di hari minggu saja, mulai pukul 10 pagi hingga 5 sore. Sedangkan di hari lain kawasan ini tidak begitu ramai karena hanya toko-toko permanen saja yang buka.
****
Waktu kian merapat siang, saya pun segera meninggalkan Brick Lane Market untuk menghadiri perayaan HUT RI di Wisma Nusantara yang tak lain adalah kediamannya Pak Dubes kita. Mau tahu keseruan acara 17’an kami? Mari merapat kemari..