Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.
View all posts by Rosi →
Inggris selalu menjadi salah satu pilihan para pelancong untuk dikunjungi. Tidak hanya karena mercusuar gaya hidup internasional, tetapi juga karena kaya akan budaya. Tidak heran banyak penulis lahir dari negeri Ratu Elizabeth ini. Seperti Arthur Conan Doyle yang terkenal dengan tokoh detektifnya, Sherlock Holmes.
Tokoh detektif Sherlock Holmes lebih terkenal ketimbang penulis novelnya. Ada 56 cerpen dan 4 novel yang fenomenal, kesemuanya telah dialihbahasakan ke berbagai bahasa dan tersebar ke seluruh dunia. Selain itu Sherlock Holmes telah dijadikan dalam film, mulai klasik hingga yang modern dan juga dijadikan serial. Karena, fenomenalnya Sherlock Holmes pula, maka dibuatlah museum Sherlock Holmes.
Museum Sherlock Holmes adalah kantor atau rumah Sherlock dan temanya Dr. Watson yang dipakai dalam film klasiknya. Letaknya hanya berjarak satu blok dengan Museum Madame Tussaud, tepatnya di Baker Street No. 211b. Di depan pintu museum ada pegawai museum yang memakai seragam polisi. Sebelum masuk ke museum, harus membeli tiket dulu di toko suvenir sebelah museum.
Resensi Jelajah Inggris dimuat di Koran Radar Sampit,16 Agustus 2015
Sebagai orang Sunda yang hidup di jaman sekarang dan tinggal jauh dari tanah air pula, mendengar alunan musik jaipong itu suatu yang sangat istimewa.
Dari serangkaian acara perayaan HUT RI ke-70 di London, pertunjukan jaipongan itu ditampilkan. Begitu musik jaipong diperdengarkan dan suara tepuk tangan riuh terdengar, segera saya menuju arah panggung, meninggalkan teman-teman yang kala itu kami sedang bercengkerama.
Dari kejauhan, gerakan jaipong yang dimainkan oleh tiga penari luwes tersebut menarik perhatian. Tidak hanya gerakannya, tapi juga kostum yang mereka kenakan terlihat cantik. Sangat kontras dengan karpet dan latar belakang panggung yang serba merah putih. Kebaya merah, kain putih, serta aksesoris lainnya membuat klop penampilan mereka.
Setelah ditilik dengan seksama, loh, salah satu penarinya ternyata bule. Salut deh. Makin merapatlah saya ke arah panggung. Saya yang orang Sunda saja ngak bisa berjaipong, hanya penikmat tarian jaipong saya. Lah, ini, bule, segitu luwesnya.
Tak hanya saya, semua penonton yang berada di bawah panggung pun menikmati tarian tradisional Jawa Barat ini, termasuk mas/mbak bule.
Mengerti akan ketertarikan penonton terhadap tarian yang sangat langka dipertontonkan di luar negeri ini, salah satu penari memberikan workshop super singkat alias mengajari kami, para penonton, untuk berjaipong bersama. Gerakan demi gerakan ia ajarkan dalam waktu beberapa menit. Setelah dirasa semua paham. Musik jaipong untuk tarian yang kedua pun dimainkan. Dan mulailah penonton menari mengikuti gerakan tiga penari yang tergabung dalam Sanggar Tari Lila Bhawa ini.
Namun, ya begitu deh, meski sudah diberi arahan singkat step by step gerakan tariannya, pada praktiknya para penonton lebih bergaya bebas, termasuk mas MC yang beraksi di panggung. Meski tak kompak, namun tak mengurangi keseruan kami dalam berjaipong ria.
Bagi kami, jauh dari tanah air, rasanya makin cinta tanah air. Salah satunya adalah dengan hal-hal yang seperti ini. Ketika kami berada di Indonesia, mana ada rasa keinginan untuk menari jaipong seperti ini. Setidaknya untuk saya pribadi. Entah untuk yang lain. Ini salah satu rasa kecintaan saya pada budaya Indonesia. Bagaimana dengan anda?
Diawal-awal punya hobi baru bikin NET_CJ saya jalan sendiri. Artinya, saat ada acara gathering ataupun saat berwisata bersama keluarga, saya sok sibuk rekam sana rekam sini. Saat tiba di rumah dan waktunya nongkrong di depan PC berlanjut edit sana edit sini. Seterusnya saya postinglah video NET_CJ tersebut. Jika videonya sudah tayang kadang saya kasih tahu suami. Tapi kadang responnya lempeng aja.
Seiring waktu, jika pas lagi ada event ataupun berwisata n saya sibuk dengan hal lainnya seperti ngobrol-ngobrol sama teman ataupun sibuk makan 😀 kadang saya minta tolong suami untuk ngerekam. Tapi ya itu, hanya selingan aja. Selebihnya saya tuntaskan. Termasuk saat editing, narasi dan aploding.
Lama-kelamaan, saya sering minta tolong doi, dan lama kelamaan pula doi seneng banget dengan hobi barunya ngerekam tersebut. Seperti saat beberapa waktu lalu pas kami ke Bristol untuk menonton Balon Festival. Saya lebih anteng ngobrol dengan yang lainnya sambil duduk-duduk nonton pertunjukan balon udara sambil cemal-cemil makanan. Sedangkan doi sibuk wara-wiri rekam sana-sini.
“Sibuk amat, pa?” 😀
Sesampainya di rumah, doi olahlah itu hasil rekam sana-sininya itu, editing, narasi, aploding. Dan, tara…. videonya itupun mejeng di NET10. Selamat ya, pak 😛
Tayang Senin, 10 Agustus 2015, NET10.
Komen pertama darinya setelah liat tayangan video di atas itu:
“Ya.. ko banyak dipotong?”
Secara, doi udah riweuh wara-wiri plus wawancara, bisa dilihat di sini.
Dari durasi yang nyaris lima menit, jadi tayangnya cuman 1.11 menit doang.
“Ya emang begitu pak. Karena NET punya formula sendiri tentang durasi tayang, angle mana yang mau dia ambil, dsb. Jadi, begitu, pak.” 😉
Baiklah.
Rupanya, video pertama itu memicu semangatnya untuk ngeramu NET_CJ lainnya. Dan, video kedua pun tayang selang 3 hari dari video pertamanya.
Loh, kok ada akyunya 😛
Abis itu si bapak belom PD oncam. Terpaksa deh akyu mejeng.
“Lain kali, bapak yang mejeng yaa…,” 😉
*NET_CJ ke-2, tayang Kamis 13 Agustus 2015.
Bapak bener-bener semanget 45 deh, hari ini NET_CJnya tayang lagi. Temanya sesuai banget dengan jiwa tekniknya 😀
Sayang videonya blom tayang di youtube 😉
Seperti halnya saudara-saudara kita yang tinggal di tanah air, kami, masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri pun ikut merasakan kemeriahan peringatan HUT RI dengan segala kegiatan lomba khas 17 Agustusan.
Keriaan peringatan HUT RI yang diselenggarakan di luar negeri biasanya dilakukan di kota besar, seperti London. Beruntunglah bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di ibu kota negara yang ditempatinya. Bagi WNI Londoners tinggal gabung dan memeriahkan acaranya. Tapi bagi kami yang tinggal di luar kota, tentunya perlu perjuangan khusus.
Dari Kota Worcester tempat kami tinggal, diperlukan waktu 3 jam perjalanan. Meski demikian, jarak dan waktu tidak mengendurkan kami untuk ikut berpartisipasi dalam memeriahkan HUT RI yang ke-70 kali ini. Apalah artinya 3 jam perjalanan dibanding upaya para pahlawan kita dalam memerdekakan bangsa ini. Kalau dipikir-pikir, enak banget ya kita-kita yang hidup setelah jaman kemerdekaan. Semoga Allah SWT, Tuhan sekalian alam, memuliakan para pejuang negeri ini di alam sana.
Jujur, setelah delapan tahun tinggal di negeri ini, ini kali pertama saya dan suami mengikuti perlombaan 17 Agustusan yang digelar KBRI London dan PPI London. Itu juga karena suami diajak bermain badminton, ganda putra, oleh seorang teman. Sambil nunggu mereka badminton, kenapa enggak saya ikutan perlombaan lainnya.
Dari sekian banyak jenis perlombaan, saya memilih dua diantaranya. Yaitu lomba karaoke dan lomba congklak. Kalau lomba congklak terhenti di urutan ke-4, sedangkan lomba karaoke lumayan jadi juara ketiga. 😀
Perlombaan digelar di dua tempat. Indoor dan outdoor, dimana keduanya masih berada di kompleks yang sama. Jenis perlombaan yang dilakukan di gedung olah raga ialah: badminton, tenis meja, lomba karaoke, lomba congklak, gaple dan catur. Tentunya saya lebih berlama-lama di sini. Saya menuju lapangan outdoor hanya sesekali untuk melihat perlombaan lainnya, dimana beberapa stand makanan/jajanan/indonesian groceries tersedia di sana.
Acara dimulai pada pukul 10 lewat. Perlombaan demi perlombaan terus bergulir. Suami beberapa kali tanding berakhir kemenangan, juara tiga. Mayan lah. Saya peserta pertama lomba karaoke yang dimulai pada pukul satu lewat. Setelah itu, saya ikutan lomba lainnya, congklak, bersama ibu dubes, staf KBRI dan peserta lainnya yang duduk lesehan di atas matras pinggir lapangan.
Enaknya yang sedang tanding congklak, catur, gapleh, tenis meja dan bulu tangkis di GOR tersebut, karena diiringi lagu peserta lomba karaoke yang jumlahnya belasan. Suaranya bagus-bagus, yang atraktif juga banyak. Apalagi yang milih lagu dangdut Jablaynya Titi Kamal. Heboh deh.
Jelang usai perlombaan-perlombaan, saya menuju outdoor untuk ngerekam kegiatan. Setelah itu kembali lagi ke GOR. Ealah… saya disambut seorang teman.
“Mbak, tadi dipanggil tuh! Juara karaoke.
“What? gak salah?” 😛
“Makanya, takutnya saya salah dengar. Sana, tanya mas/mba Juri aja, gih!”
Oh, baiklah…
Dan ternyata, benar 😛
Aneh deh, soalnya suaraku tuh pas-pasan pake banget hehehe..
Dan, penyerahan hadiah untuk semua pertandingan tersebut dilakukan selang seminggu yang bertepatan dengan perayaan HUT RI ke-70 bersama masyarakat Indonesia lainnya di Wisma Nusantara, kediaman Bapak Dubes. Panitia bilang, para pemenang lomba karaoke, musti naik panggung untuk menyanyikan sebuah lagu. Waduh! 😀 Mau mengintip keseruan perayaan HUT RI tersebut, intip aja di sini. Minus akyu yang naik panggung dong ya… 😀 takutnya kalian pada mules liatnya 😀
Sayangnya, video durasi 4 menit yang saya buat, jadinya cuman seuprit. Karena digabung dengan kontributor lainnya 😀
Dan inilah penampakkannya. Tapi, kalau mau melihat versi lengkapnya klik aja link yang di atas tadi 😉
Video barjamaah kedua, setelah yang ini video duo, sekarang video trio 😀