All posts by Rosi

About Rosi

Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.

Tulisan Perjalanan Majalah Paras, Pesona Wales

Wales adalah Negara Bagian Inggris yang memiliki banyak objek wisata nan amat beragam. Wisata alam, wisata sejarah dan budaya, wisata bangunan tua dan masih banyak lagi. Agar keragaman pesona wisata yang terkandung di wilayah seluas 21 ribu km persegi ini terjelajah sempurna, maka tak cukup hanya sekali – dua kali kunjungan saja.

Ini perjalanan saya ke Wales untuk kesekian kalinya. Jika kunjungan pertama tertarik pada Lembah Valley yang eksotik. Kunjungan kedua tertarik akan bangunan sejarah dan kastil-kastilnya. Kunjungan ketiga tertarik Pontcysyllte Aqueduct, alias jembatan airnya. Maka kunjungan keempat ini saya tertarik akan air terjunnya.

Just Pack and Go

Waktu itu Lebaran kedua, si bapak masih ada cuti tersisa. Ketika sarapan, tiba-tiba muncul tanya: “Mau kemana kita hari ini?” Begitulah kami, terkadang muncul ide travel secara spontan.

Target, wisata alam yang tak jauh dari tempat kami tinggal. Setelah browsing dan berunding dengan teman-teman yang akan ikut berwisata bersama. Maka jatuhlah pilihan pada Brecon Beacon National Park. Dengan tujuan utama mengunjungi empat air terjun yang ada di dalamnya.

Setelah rencana matang dan menyiapkan perbekalan serta mencatat post code pada satnav, mobil pun meninggalkan Kota Worcester. Dengan perkiraan waktu tempuh kurang dari dua jam. Sedangkan dua keluarga/dua mobil lainnya berangkat dari Kota Bristol.

Kami janjian di titik henti yang telah ditentukan. Sesuai dengan yang tertera di website Brecon Beacon National Park. Ternyata, kami tiba lebih dahulu. Setelah menunggu beberapa saat, yang ditunggu tak kunjung tiba. Maka, kami, saya, suami beserta dua bujang cilik memutuskan untuk memasuki Taman Nasional tersebut.

Begitu memasuki Taman Nasional Brecon Beacon (TNBB), nyep..  hening, sunyi, dingin terasa. Meski hari itu matahari bersinar terang, namun udara TNBB begitu sejuk. Akibat rimbunnya pepohonan yang memayungi kami.  Sinar mentari tak diberi ruang untuk memasukinya.

Namun, sesekali, ada dedaunan terhampar di tanah yang berkilau keemasan. Itulah dedaunan yang terkena jatuhan sinar mentari yang berhasil menelusup payung pohon yang amat rindang. Indah sekali.

Kami menapakai jalan bebatuan yang lebarnya sekira satu setengah meter. Di sebelah kiri jalan datar tersebut menjulang dinding bebatuan. Plus pepohonan yang lebat dan tinggi pula. Sedang di  sebelah kanan jalan berbatas jurang rendah/lembah yang cukup curam menuju sungai nan elok.

Dikatakan elok, karena sungai berair bening itu bentuknya unik berkelok-kelok tajam dengan apitan bebatuan besar di kiri-kanan lekukan sungainya. Beberapa sisi sungai tersebut berdinding batu yang tinggi. Eksotik sekali. Ada beberapa lekukan sungai yang dalam. Menjorok ke dinding sungai yang gelap, terkesan angker. Seperti menyimpan misteri.

Kicauan burung yang beraneka rupa dan suara, sungai nan elok, airnya nan bening, suasana nan senyap, udara nan segar, bebatuan masiv, pepohonan tinggi dan rimbun, dinding bantuan alam yang gagah, sesekali terdapat gua kecil, membuat langkah kami terhenti-henti. Demi merasakan detail indah KuasaNYA.

Sekitar satu jam langkah perlahan, tak juga terlihat tanda-tanda air terjun di depan sana. Padahal kami sudah membayangkan keindahan air terjun itu sedari tadi. Seperti yang terdapat di papan informasi di muka pintu masuk TNBB tadi.

Bagaimana ini? Tak ada kabar dari dua keluarga lainnya. Karena begitu memasuki kawasan TNBB sinyal ponsel langsung lenyap. Sehingga kami tak bisa bertukar kabar. Akhirnya kami memutuskan untuk berputar balik, kembali ke pintu masuk tadi. Dengan niat menunggu mereka di gerbang masuk TNBB dan untuk mendapatkan sinyal ponsel.

Ditengah gontai perjalanan balik, perut kami mulai keroncongan. Maklumlah sedari pagi baru terisi ketupat sayur.  Akhirnya kami menemukan tempat membuka bekal makan siang di spot yang tepat.  Viewnya indah. Di pinggiran sungai, di sana terdapat sebuah batu besar nan datar yang cukup luas. Saya tertakjub pada batu yang telah mengkilat dimakan waktu. Batu itu bak karpet alam yang disediakan untuk kami yang ingin menikmati indahnya pingiran sungai itu.

Kami membuka bekal makan. Menunya sederhana dan biasa, namun romansanya sungguh luar biasa. Makan dalam keheningan alam. Dimana di hadapan mata tersaji keindahan sungai yang eksotik lengkap dengan aliran airnya yang bening dan tenang. Hingga dasar sungai, lumut-lumut, bebatuan serta ikan-ikan yang tengah berenang terlihat jelas.

Sengaja kami makan sedikit sekali. Karena masih ada sesi makan siang bersama yang lainnya. Setelah cukup menganjal perut dan merekam keindahan alam dalam ingat, segera kami bergegas, tanpa meninggalkan sampah. Malu rasanya jika meninggalkan sampah. Karena sedari gerbang masuk TNBB tak secuil sampahpun kami temukan di sana.

Tiba di muka TNBB, sinyal kembali kuat. Ternyata, benar saja, dua keluarga lainnya terpencar. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya semuanya berkumpul. Meski benar post code menunjuk di titik pintu masuk TNBB, namun ada jalan lain yang lebih pendek menuju air terjun yang kami maksud. Begitu menurut petugas tourist information centre yang berada di sana. Ketiga mobil pun melaju mengitari separuh kawasan TNBB.

Saatnya Makan, Main, Shalat, Bertadabur Alam

Sekira dua puluh menit, tibalah kami di sebuah area parkir plus lapangan piknik yang luas. Hanya ada dua mobil terparkir di sana. Hmm, mungkin bukan akhir pekan. Pantas saja sepi. Kami segera membuka perbekalan makan siang dan bertukar menu di meja piknik yang tersedia di sana.

Sementara itu, bocah-bocah berlarian ke sana kemari sambil menyeprotkan air lewat water gun-nya.  Dimana airnya didapat dari sungai yang berada di tepi area piknik tersebut. Cukup lama kami menghabiskan waktu di sana. Setelah puas, segera kami mengambil air wudhu di sungai jernih yang amat sangat dingin itu. Hingga kaki kami memerah nyaris beku.

Karpet dan sejadah digelar. Kami ber-shaf. Iqomat diperdengarkan. Takbir, lafaz-lafaz, rukuk, sujud, hening, senyap. Hanya suara serangga, desir angin serta gemericik sungai sajalah yang memecah sunyi. Sendu sekali. Rasanya, saat itu, hanya kami, Tuhan dan Alam.

Usai dzuhur dan Ashar yang disatukan, semua barang dimasukan bagasi. Barulah perjalanan menuju empat air terjun kami mulai. Tiga keluarga, dua belas orang. Ayah, bunda dan anak-anak. Riuh sekali perjalanan kami menapaki jalanan bebatuan, sempit, dipeluk alam yang sunyi dan pepohonan lebat. Riuh itupun kemudian tak terdengar lagi setelah lelah datang.

Swing.. swing…

Kurang dari satu jam, tibalah kami di air terjun pertama. Segera kami merapat, penuh antusias. Di tepi air terjun tersebut terdapat swing atau gelayutan/ayunan yang terbuat dari seutas tambang nan kuat dengan dudukannya dari kayu melintang.      Kehadiran swing itu menarik perhatian kami. Beberapa dari kami mencobanya. Lumayan ekstrem. Letaknya tinggi, ketika terayun jauh, sejajarlah badan kita di tengah sungai yang curam, beraliran deras dengan bebatuannya yang tajam. Namun demikian, saya menikmati ayunan alam tersebut. Ngeri-ngeri sedap. Semakin terayun jauh, semakin ngeri sedap. Jika tak ingat waktu dan yang lain menunggu, rasanya ingin berlama-lama berayun-ayun liar di swing tersebut.

Lepas dari air terjun pertama, perjalanan dilanjutkan, kembali didekap alam. Jalan yang kami lalui cukup sempit. Sesekali melewati jembatan kecil, di bawahnya mengalir air yang sepertinya dari mata air menuju sungai besar. Kurang dari satu jam, tibalah kami di air terjun kedua yang letaknya lagi-lagi di lembah. Segera kami menuruni jalanan yang curam bebatuan penuh antusias. Karena jalanan licin, kami harus berhati-hati  terutama anak-anak.

Setibanya di area air terjun semua langsung melebur. Ayah bunda ada yang duduk-duduk di bebatuan besar di tepian air terjun, sekedar melepas lelah, menikmati polah para bocah yang bermain air sesuka hati. Ada pula yang ikut bermain air bersama anak-anaknya.

Sesekali diantara kami terpeleset. Akibat bebatuan dasar sungai/air terjun yang licin berlumut. Pecah tawa seketika. Sorak ledek pun menggema. Ruih dan hangat sekali suasana air terjun yang hanya milik kami ber-12 sore itu.

Hari kian merambat senja. Mau tak mau, kami harus menyudahi petualangan alam bebas di salah satu sudut alam Wales itu. Terpaksa dua air terjun yang sedianya akan kami singgahi di depan sana harus digagalkan. Tak hanya karena waktu, tapi juga karena tenaga. Biarlah lain kesempatan kami bertandang lagi ke sini. Ke wisata alam yang masih perawan dan sepertinya akan terus perawan. Asri alami. Tanpa tangan-tangan usil yang berniat merusaknya, mengotorinya, mengubahnya.    Benarlah, empat kali mengunjungi setiap sudut wisata di Wales belum cukup sudah.

tulisan perjalanan majalah Paras

Jalan-jalan kami ini telah dimuat di Majalah Paras, Edisi akhir Juli 2015, Rubrik Pesona Wisata.

Cambridge, Kota Pelajar yang Menawan

Sejak kapan waktu, saya pengen banget berwisata ke Kota Cambridge. Dan akhirnya, setelah lama menunggu, kesempatan itu datang juga.

Ketika usai melaksanakan halal bihalal bersama masyarakat Indonesia rumah Pak Dubes pada 17 Juli lalu, kami langsung pergi menuju Utara. Sekitar satu setengah jam perjalanan, tibalah kami di Kota Cambridge.

Kesan pertama yang saya tangkap, ini kota bernuansa kota pelajar merangkap kota Wisata. Jejeran sepeda terparkir di beberapa spot di area parkir sepeda di pusat wisata/kota/gedung universitas. Rombongan tur anak-anak/pelajar bergerombol di sana-sini.

Puluhan bangunan tua, kokoh, klasik berdiri tegak di sana-sini. Dimana bangunan-bangunan itu kebanyakan merupakan college/universitas. Jadi, Cambridge ini merupakan Kota Pelajar-nya Inggris.

Mau tahu seperti apa suasana dan nuansa kota yang melahirkan banyak ilmuwan Inggris ini? Berikut ini saya kasih unjuk penampakkan kotanya.

*NET CJ-17 yang tayang pada Jumat, 31 Juli 2015.

Serunya Perayaan HUT RI ke 70 di London

 

Dalam rangka memeriahkan HUT RI ke 70 KBRI London mengelar tiga rangkaian acara. Dimulai Minggu, 9 Agustus 2015 berupa lomba olah raga, karaoke, permainan tradisional, dll.

Berlanjut pada Sabtu, 15 Agustus 2015 acara Perayaan HUT RI di Wisma Nusantara, kediaman Dubes RI untuk Inggris Raya dan Irlandia, di London. Acara dimulai pada pukul 11 hingga pukul 5 sore dalam suasana hangat penuh kekeluargaan.

Sudah dua tahun terakhir ini KBRI London tidak mengundang penyanyi dari tanah air sebagai pengisi panggung hiburan. Namun demikian tidak mengurangi kemeriahan acara. Panggung dan suasana wisma menjadi milik kami bersama, masyarakat Indonesia yang berpartisipasi di dalamnya, Staf KBRI, pihak sponsor (Garuda Indonesia, BI, BNI, Bank Mandiri), PPI London, Duo MC yang heboh dan kocak, Duo artis lokal London Orbar dan Ana, serta pengisi acara lainnya.

Beberapa sajian hiburan yang menarik adalah Aubade cilik yang menyanyikan medley lagu-lagu daerah. Mulai dari lagu “Bunggo Jempa” hingga lagu “Buka Pintu”. Meski mereka berlatih singkat namun penampilannya cukup memuaskan. Mau tahu seperti apa aksi mereka yang keren menggemaskan itu? Berikut ini linknya:

Hiburan menarik lainnya adalah tarian Timor Leste yang dipersembahkan oleh saudara-saudara kita warga Timor Leste yang jauh-jauh datang dari Kota Bristol. Mereka yang tergabung dalam Sanggar Tari DaDili ini menyumbangkan dua tarian. Kedua tarian tersebut tidak dilakukan di atas panggung tapi di bawah panggung. Dimana tarian kedua yang mereka tampilkan melibatkan kami para penonton untuk menari bersama dalam satu lingkaran tarian.

Diiringi iringan musik dan lagu tradisional secara live kami menari penuh keakraban. Bahkan ibu Dubes pun ikut menari bersama. Berikut saya tampilkan cuplikan videonya:

Masih ada sajian menarik lainnya, yaitu tarian jaipong dari Sanggar Tari Lila Bhawa yang menari dengan luwesnya termasuk seorang mbak bule. Usai tarian jaipong pertama, mbak-mbak cantik ini memberikan workshop jaipongan. Setelah penonton paham gerakan demi gerakan untuk tarian jaipong berikutnya, musikpun dimainkan. Dan penonton pun menari bersama, walaupun dengan gaya bebas masing-masing 😀 Termasuk mas MC yang atraktif 😀

Sajian kuliner indonesia yang beraneka ragam (sate, pempek, bakso, es cendol, nasi kapau dll), lomba permainan khas 17’an (tarik tambang, balap karung dll) serta sajian lagu-lagu yang dibawakan Duo Orbar dan Ana menambah ramai suasana. Apalagi saat mereka membawakan lagu dangdut. Wisma pun digoyang dengan hebohnya, seru. Terutama, mas MC yang entah siapa namanya. Nah, kalau mba MC yang juga tak kalah heboh, beliau lebih atraktif ketika pengocokan raffle tiket 😀

Raffle tiket diakhir acara adalah saat yang dinanti-nanti. Dimana bejibun hadiah keren menanti. Semua hadiah doorprize tersebut merupakan sumbangan dari para sponsor yang disebutkan di atas. Dimana hadiah utamanya sangat mengiurkan sekali. Yaitu dua tiket London – Jakarta persembahan dari Garuda Indonesia.

Sedangkan puncak acara dari rangkaian perayaan HUT RI ke 70 yang diselenggarakan KBRI London adalah upacara pengibaran bendera pada tanggal 17 Agustus 2015 mulai pukul 10 pagi yang berlangsung di tempat yang sama, Wisma Nusantara di Bishop Avenue London.

Cerpen Bobo, Muatan Lokal, Edisi 18

Alhamdulillah cerpen saya dimuat lagi di Majalah Bobo (edisi 18), setelah dua cerpen sebelumnya berturut-turut dimuat di sana (edisi 16 &17).

Tema cernak kali ini lain dari biasanya. Yaitu mengangkat tema bermuatan lokal. Jika cerpen Janji Salju lebih ke muatan ke Eropa-eropaan atau Pesta Putri Sherly lebih ke dongeng putri-putrian, maka cernak kali ini lebih ke cerita permainan jaman saya kecil dulu.

Sebenarnya, dari kapan taun saya ingin menuliskan cerpen ini. Cuman dulu saya pikir, apa cerita ini bakal jadi menarik? Setelah maju mundur cantik mood dan lama terlupakan, maka ketika saya ingin membuat cernak, saya semedi mikir sejenak. Ehm… kali ini nulis cernak tema apa ya?..

Setelah buka-buka draft lama yang pada menggantung, akhirnya dipilihlah cernak ini. Judulnya Dirawu kelong. Heuheu.. judulnya gak okey banget, ya?

Cerpen ini bermuatan lokal Jawa Barat. Buat Orang Sunda seangkatan saya, pasti senyum mengerti arti judul ini. Tapi buat non Sunda dan anak kemaren sore atau usianya 20-10 taun di bawah saya, mungkin gak kenal dengan kata ini.

Bersyukur saya lahir, tumbuh dan besar di era non gadget seperti sekarang ini. Sehingga bisa menikmati semua permainan tradisional pada masa itu. Bermain petak umpet salah satunya. Permainan ini memiliki banyak nama, tergantung daerahnya. Kalau di Tatar Sunda, kami menyebutnya ucing sumput. Dari sinilah ide cernak saya ini bermula.

Ketika saya ingin membagikan cerita sebuah permainan jadul ini, saya harus berpikir lebih. Kira-kira, bumbu apa yang sekiranya bisa membuat manis cernak ini. Akhirnya saya eksekusilah cernak ini dengan judul yang agak aneh (menurut saya) dan konflik hilangnya Salma di saat magrib.

Ketika memberi judul “Dirawu Kelong” saya sempet gak PD karena kesannya deso banget. Lalu berpikir, klo Bobo suka konten cernaknya, tak cocok judulnya, pastilah Bobo mengubah judulnya. Ternyata, BOBO memilih judul aslinya.

Dirawu kelong apaan sih? 😀

Jadi, dulu, anak-anak seumuran kami, pantang main di hari menjelang magrib.

Secara ilmiah/agama silaken tanya Mbah Gugel, fenomena alam apa yang terjadi antara perpindahan waktu dari ujung senja ke bibir malam.. tsahhh…

Berat amat, yak, pendalaman materi untuk sebuah cernak, hahaha..

Ketika anak-anak seumuran kami di jaman itu bertanya kepada orang tua kami, biasalah.. untuk memudahkan jawaban, mereka sering kali mengeluarkan kata-kata pemungkas yang kadang ngak masuk akal.
“Bisi dirawu kelong!”kata mereka 😀

Dalam Bahasa Sunda,
dirawu = diambil dari posisi atas (ngarawu beas = menyiduk beras)
kelong = kelelawar
Jadi dirawu kelong artinya diambil/diculik/ditangkap dari posisi atas oleh kelelawar.
Lah, kelewar kan kecil 😀
Itulah ajaibnya orang tua dulu, kadang pinter menciptakan  tokoh myth.
Kelelawar di sini maksudnya kelelawar raksasa yang menyerupai kelelawarnya perempuan hahaha..
Deuh! orang tua jaman dulu tuh ya.. daya imajinasinya tinggi.
Keren tapi, lebih keren dari JK Rowling.
Kenapa mereka dulu ngak bikin novel fantasi ya? 😀

Saya merasa, ketika pertama kali mendengar kata “kelong atau kelong wewe (kelong awewe), saya punya bayangan tersendiri di otak saya.
Itu mahluk duduk di dahan pohon yang besar, bentuknya menyerupai kelelawar raksana dengan tubuh separuh manusia, perempuan, bentuk dan wajahnya menyeramkan. Duduk sambil ucang angge (mengayun-ayunkan kaki). Saat magrib tiba, ia siap merawu (menerkam, menyulik, menangkap kita) Iyyhhh..

Benar-benar hebatlah orang tua dulu menggambarkan myth ini sehingga saya dan teman lainnya pantang main/keluar magrib. Kecuali pergi ke mesjid untuk mengaji (Ini kali pesan moral yang ingin disampaikan orang tua kami dulu)

Balik lagi ke cerpen dirawu kelong ini, tentunya saya tidak menceritakan tentang tokoh si kelong ini. Sayang, majalahnya baru edar, jadi saya blur bacaannya ya… hehehe..
Buat yang penasaran, merapat aja ke lapak koran terdekat, okeh?

Cernak Dirawu kelong