All posts by Rosi

About Rosi

Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.

Dukungan BNI Kepada Kami

Jika ditanya apa peran Corporate Social Responsibility BNI terhadap masyarakat luas?
Jawabnya, banyak. Banyak sekali!

Dalam menjalankan bisnisnya bank nasional yang berkemampuan global ini tidak melulu memikirkan keuntungan rupiah semata. BNI berinvestasi dalam bentuk lain.

Dana yang dikeluarkan BNI tidak harus berbalik keuntungan bagi BNI. Lebih dari itu. BNI memberi, lalu melepas keuntungan itu seluas-luasnya bagi masyarakat banyak. Karena kebaikan itu tidak harus menerima. Cukup dengan memberi. Supaya orang yang diberi bisa memberikan kebaikan kepada yang lainnya lagi. Begitu dan terus begitu hingga banyak kebaikan yang bermula dari satu kebaikan.

Program CSR Bina Lingkungan contohnya. Tahun kemarin, BNI berhasil mengucurkan dana sebesar  Rp. 59.133.322.379,-
Nyaris 60 M.
Dana sebesar itu digunakan untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan, pelestarian lingkungan, peningkatan kesehatan, sarana ibadah, pengembangan sarana dan prasarana umum, pengentasan kemiskinan dan korban bencana alam.

Lebih detailnya lagi, untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan, BNI mengucurkan dana 18,5 M. Dengan dana sebesar itu BNI berupaya memfasilitasi lahirnya tunas bangsa yang berpendidikan baik, berkualitas, terampil dan mampu berkarya demi mengangkat taraf hidup dirinya dan keluarganya hingga mencapai kesejahteraan pada umumnya.

Bina Lingkungan hanyalah satu dari sekian banyak program CSR BNI lainnya yang bertujuan: Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas.

Tahukah anda, upaya BNI dalam meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas tersebut tidak hanya dirasakan oleh anak bangsa di tanah air saya. Bagi kami, masyarakat Indonesia yang bermukim di Inggris pun merasakan hal yang sama. Suatu bukti bahwa BNI juga peduli pada komunitas kami.

Banyak gelaran acara yang dilakukan komunitas kami yang mendapat sponsor/dukungan finansial dari BNI London. Salah satunya ialah kegiatan Indofest Nottingham yang telah saya ulas di sini dan di sini. Dalam gelaran tahunan yang digagas oleh PPI Nottingham ini diisi acara talent show. Dimana hadiahnya berupa sejumlah pounsterling yang menggiurkan.

indofest

Tidak hanya sampai di situ. Sebagai bentuk apresiasi yang diberikan BNI London kepada mereka, pengisi acara sekaligus peserta talent show yang merupakan mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang tengah mengambil study di Inggris tersebut diundang ke London untuk mengisi acara ulang tahun BNI yang ke-69.

Menurut Made Ari, yang tempo hari saya wawancarai, ia sangat senang sekali diundang oleh BNI ke London. Padahal ia tinggal di Glasgow, Skotlandia, yang merupakan negara bagian Inggris. Jarak bukanlah masalah, karena akomodasi dan apresiasi yang diberikan BNI membuatnya senang dan bangga bisa tampil pada perayaan ulang tahun BNI ke-69 yang bertajuk London Spectacoolar bersama masyarakat Indonesia lainnya di London.

Acara lainnya yang disponsori oleh BNI London ialah kegiatan Personal Leadership Workshop yang digagas oleh PERIUK (Perhimpunan Rantau Indonesia di UK) bekerja sama dengan University of Westminster. Juga acara Hello Indonesia di Trafalgar Square London tahun lalu. Serta banyak lagi acara komunitas kami lainnya di Inggris yang didukung oleh BNI London.

Kabar terbaru dan masih hangat saya dapatkan dari laman FB KBRI, BNI London juga menjadi salah satu sponsor rangkaian perayaan 17 Agustusan bagi masyarakat Indonesia di Inggris. Mulai dari tanggal 9 Agustus, 15 Agustus, hingga puncaknya pada 17 Agustus 2015.

Selamat ulang tahun Republik Indonesia yang ke 70.
Selamat ulang tahun BNI 46 yang ke 69.

Selisih kalian hanya satu, 11-12. Maka, marilah kita bergandengan tangan menuju masyarakat Indonesia yang lebih sejahtera, aman, damai dan sentosa.

Salam hangat dari Inggris!

***
Tulisan ini disertakan dalam lomba blogging yang diselenggarakan BNI. Buat yang mau ikutan lombanya silakan kunjungin website BNI berikut ini. Jangan lupa like panpage BNI di Facebook juga follow twitternya BNI.

Kukenal BNI Sejak Kecil

Jika ditanya bank apa yang pertama kali saya kenal? Pertanyaan ini melemparkan ingatan saya ke masa dulu, dulu sekali. Masa era 80’an. Pada masa itu, mama sering mangajak saya ke satu-satunya bank yang ada di lingkungan kami. Bank BNI 46 namanya.

BNI kami terletak di Jalan Jendral Sudirman Bandung. Dari rumah kami yang letaknya di gang, kami hanya tinggal berjalan kaki. Keluar dari gang, melewati Jalan Cibadak, belok ke kiri sedikit, tak jauh dari sana berdirilah sebuah bank yang dikenal masyarakat setempat. Duh, memori saya benar-benar digiring kembali ke masa kecil nan indah.

Lokasi BNI sangat strategis. Kenapa strategis? Karena dekat dengan pasar Andir. Pasar tempat mama berbelanja kebutuhan dapur dan rumah tangga. Sebagai anak paling besar, perempuan pula, saya sering diajak mama ke pasar. Jadi, BNI ini sering kami lewati. Tentulah kami jadi familiar karenanya.

Ketika bapak mendapat proyek yang lumayan besar, untuk pertama kalinya mama membuka deposito di sana, di BNI 46. Saya akan ceritakan lebih lanjut, bagaimana bapak yang hanya pegawai negeri golongan rendah bisa memiliki deposito di BNI. Terlebih dahulu, ijinkan saya berbagi cerita tentang hal lainnya yang terekam kuat di memori tentang BNI ini.

Memori terkuat di ingatan saya adalah.. BNI = membayar listrik.

Loh? Kok!
Iya, bagi kami, waktu itu, BNI sama dengan bayar listrik, 😀
Jadi, kalau ada tetangga yang bertanya,
“Mau kemana?”
“Ke BNI.”
Itu artinya mau membayar listrik.
Atau sebaliknya. Mau membayar listrik? itu artinya ke BNI.
Keren, ya? punya rekening ataupun tidak, tetap, bilangnya mau ke bank, BNI 46.

Jadi, seingat saya, waktu itu, baru diterapkan pembayaran listrik melalui Bank BNI. Atau, entah mama saya yang baru tahu akan hal itu. Yang jelas, sejak itu, mama dan para warga di lingkungan kami selalu membayar listrik di BNI dan saya sering diajaknya.

Biasanya, sehabis membayar listrik, seterusnya mama suka mengajak saya ke pasar. Sering pula mengajak saya makan bakso dan es campur yang letaknya di depan parkiran BNI Sudirman ini. Bakso dan es campur yang juga langganan para karyawan BNI ini rasanya mantap. Duh, semakin terbayang jelas nuansa serta aroma masa itu.

Itulah ingatan terkuat yang saya miliki akan BNI. Bank pertama yang saya kenal dan di sanalah tempat membayar listrik.

Tempat pembayaran listrik tersebut menempati gedung sebelah kiri BNI yang tersekat gedung berkaca lebar. Kami, para pembayar listrik, duduk berjejer memungungi dinding kaca tersebut. Sering kali saya mencuri pandang kegiatan di dalam bank. Pernah terlintas dalam hati, ketika besar, saya ingin bekerja di bank. Sepertinya mengasyikan, setiap hari bersigungan dengan uang.

Entah prosesnya bagaimana, mungkin karena mama sering ke BNI untuk membayar listrik hingga akhirnya ketika mama memiliki uang lebih, mama membuka rekening di sana. Seterusnya, mama juga menyimpan uangnya di deposito BNI seperti yang saya ceritakan di atas.

Bapak saya adalah pegawai negeri, anaknya lima. Kakak saya meninggal usia tujuh tahun karena sakit. Setelah itu, jadilah saya yang paling besar. Sebagai pegawai negeri golongan rendah dengan lima anak dan seorang istri yang full bekerja mengurus keluarga tentunya bapak harus memiliki konsep perencanaan keuangan yang tepat bagi kehidupan dan pendidikan kami.

Gaji pegawai negeri waktu itu tidaklah seberapa. Oleh karena itu, bapak memanfaatkan hobinya untuk mencari uang tambahan. Dengan perangkat fotografi dan ruang cetak foto milik kakek, bapak menerima pesanan jasa pemotretan. Baik untuk acara pernikahan, sunatan dan perayaan lainnya.

Kegigihan bapak dalam mencari nafkah terus berlanjut, beliau menerima pembuatan pas foto untuk sekolah-sekolah dan instansi-instansi. Pas foto tersebut digunakan untuk arsip dan identitas karyawan/siswa.

Uang hasil sampingan itu dipakai untuk mencukupi kebutuhan harian, membeli perlengkapan dan peralatan usaha, sisanya barulah ditabung sedikit demi sedikit. Ada suatu masa, dimana bapak mendapat orderan besar. Keuntungan dari proyek itu bapak mempercayakannya kepada BNI. Bapak menyuruh mama untuk menitipkan uangnya di deposito BNI 46.

Itulah sepenggal kisah pengalaman saya dan keluarga bersama bank nasional yang berkemampuan global, BNI 46. 

Penggalan kisah pengalaman ini disertakan dalam lomba blogging menyambut ulang tahun BNI yang ke-69.

*****

Kini, deposito BNI hanyalah salah satu dari sembilan jenis simpanan yang dimiliki BNI 46. Kedelapan jenis simpanan lainnya ialah: Taplus, Taplus Anak, Taplus Bisnis, Tapenas, Simpanan Haji, BNI dollar, Giro dan Safe Deposit Box.

Apapun jenis simpanannya, BNI yang telah matang di dunia perbankan selalu memberikan pelayanan terbaik bagi nasabahnya. Sesuai dengan salah satu visi misinya, yaitu: Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah, dan selaku mitra pilihan utama.

Tak ingin memberi jarak, BNI mendekatkan diri dengan nasabahnya melalui sosial media berikut ini: facebook, twitter dan website. Hingga kita sebagai nasabah bisa lebih akrab dan lebih dekat berinteraksi.

Jika dilihat dari usia manusia, 69 memasuki masa oma-opa yang senantiasa menganyomi anak cucu dalam dunia perbankan Indonesia. Seperti yang termaktub dalam logonya: Melayani Negeri, Kebangaan Bangsa.

Ngak suka liat wajah sendiri di TV :D

Beberapa hari yang lalu saya kan mosting tentang Net Sport di sini.

Seperti yang saya bilang, waktu ini saya penasaran pengen liat penampakakn video setelah diedit tim NET CJ. Sebagai perbandingan aja gitu… Karena selang beberapa hari setelah tayang tak kunjung nongol juga versi Youtubenya.
Ya sudah… aku rapopo 😀
Walaupun teuteup ngarep.

Kemudian, kemarin itu, ada teman yang ngasih tau ada penampakkanku di NET10. Wah, yang mana ya? Karena belum bisa buka PC, jadi saya belum bisa liat, yang tayang tuh yang mana. Perkiraan saya sih yang Cambridge.

Etaunya, temanku bilang yang di stadion itu.
Hah? yang di stadion?
Perasaan aku kirim video tentang stadion udah tayang keduanya.

Dan setelah saya berkesempatan buka video youtubenya, oh… yang ini…
Hmmm, bukannya yang ini udah tayang di program lain?
Kalau pun iya, gak apa-apa juga sih.
Saya mah seneng-seneng aja 😉

Satu yang kurang seneng tuh, saya gak suka liat wajah sendiri dilayar kaca 😛
Entah kenapa, sebel aja liatnya 😀
Tapi mau ngak mau, oncam itu adalah salah satu bagian dari video CJ yang kita bikin.
Biasanya, option lainnya yang saya lakukan adalah mewawancarai orang lain. Nah, masalahnya, saat pengambilan video ini berlangsung sore hari, beberapa saat sebelum pintu gerbangnya ditutup, jam 8.

Oiya, saat lagi anteng-antengnya ambil Video, kami disamperin Pak Satpam 😀
Saat ia menghampiri, saya bertanya dalam hati.
Wah, kenapa nih?
Jangan-jangan ngak boleh ambil gambar.

Etaunya, doi bilang, “Maaf, sebentar lagi gerbang stadion ini akan ditutup,” ujarnya ramah.
Ohhhhh….
Baiklah.

Eh, jam 8 itu, sore apa malam, sih? 😀
Secara, matahari masih terik banget.
Sore kali ya?..
Soalnya buka puasa jam 9.30

Waktu oncam, kami kesulitan mengatur posisi yang tepat yang didukung pencahayaan yang baik.
Tau dong, kalau oncam ngebelakangin matahari, pastinya gambar kita jadi gelap, ya kan?
Nah, tapi, kalau berlawanan dengan matahari pastinya silau banget ke mata.
Yaudah, jadi kesimpulannya, saya membelakangi samping stadion sekaligus menantang sinar matahari. Dan resikonya, waktu oncam itu saya harus mengernyit dalam sekali (nyureng – sunda).
Beneran, silauuu.. banget. Hal tersebut tentu saja jadi menganggu saat oncam.
Mana gak bawa kaca mata item pulak.

Akhirnya suami bilang, “Nih, pake kacamata ini aja,” doi nyodorin kaca mata minusnya.
Ih, ternyata pusing pakenya. Tapi silaunya gak ketulungan.
Ya udah deh, daripada super nyureng.

Walhasil sambil oncam sambil pusing liat kameranya, hahaha..
Sesekali saya ngomong sambil merem ataupun sedikit melek 😀
Mana take-nya beberapa kali lagi.
Entah nyambung entah tidak, makanya saat oncam saya ngomong terbata-bata, antara pusing liat kamera dan emang gak pinter ngomong aja kali yaaa…
*Sumpeh, saya kalau oncam gini suka blibet 😀

Mangkanya, pas liat video ini, aduh, ngak banget deh 😀

Jadi, ini video CJ ke berapa ya? 15 apa 17 ya?
17 kayaknya 😀

*oncam = on camera aka nampang bin mejeng depan kamera 😉

Cerita Monster, Bobo Edisi 17, 2015

Yipyyyy… cerpenku dimuat lagi di Majalah Bobo yang keren itu. Baru juga kemarin dapat berita bagus tentang pemuatan cerpenku di edisi 16, eh.. sekarang dapat berita bagus lagi. Alhamdulillah.

Cerpen anak di Majalah Bobo kali ini tentang cerita monster. Tips yang ingin saya bagikan kali ini adalah: Carilah tema-tema menarik yang bikin pembaca cilik penasaran.

Monster. Wah, apa tuh? Monster Diona. Kira-kira seperti apa itu bentuknya, ya?

Meski ini cerita tentang monster. Tapi bukan berarti kita ngayal sembarangan. Diperlukan pengetahuan tentang hal ini. Cerita monster sebagai pembuka ilmu. Dan saya harap pembaca cilik mengetahui dan menyukai dunia Flora. Bahwa, iniloh.. di dunia ini ada tumbuhan yang seperti ini.

Ide Cerita

Ide cerita ini seperti kebanyakan cerpen saya lainnya adalah hasil pengalaman pribadi. Dulu si cakep Alba ingin dibelikan Venus Fly Trap. Seperti apakah tanaman aneh itu? Silakan baca tulisan saya tentang tanaman monster itu di sini.

Udah dibuka linknya?
Loh, itu udah dimuat di majalah lain kan?
Iya benar.

Tips, kedua dari saya adalah: Satu tema beberapa karya.

Jadi, jika tulisan di Majalah Soca itu masuk dalam rubrik Flora, maka di Majalah Bobo ini formatnya cerpen. Asik kan? Satu tema jadi dua karya. Atau mungkin bisa jadi tiga karya. Misalnya, suatu saat saya berhasil mengembangbiakkan tanaman ini lalu membuat buku “Panduan pengembangbiakan Venus Fly Trap” 😀

Karena majalahnya baru edar hari ini, jadi saya ngak bisa kasih unjuk penampakkannya secara jelas. Yang penasaran, bisa merapat ke lapak koran/majalah atau toko buku terdekat. Okeh?

Tapi tenang, saya kasih bocoran sinopsisnya, ok?

Adalah tiga ekor lalat yang bersahabat. Satu diantara gak suka makan sayur, sukanya makan daging dan cake,puding serta makanan manis-manis, makanya gendut. Kegendutan itu bikin ia susah bergerak, mudah lelah dan mudah tertidur. Itu terbukti ketika dia terjebak dilahap monster Diona, ia tidak bisa melepaskan diri.

Tips ketiga dari saya: Jangan lupa, sertakan selalu pesan moral dalam setiap cerpen yang kita buat. Pesan moralnya bisa satu bahkan lebih. Dalam cernak ini saya sisipkan beberapa pesan moral. Diantaranya: tentang membaca, dengan membaca jadi banyak tahu. Juga tentang pola makan. Makanan yang sehat.

Kembali ke cerita, ketiganya pergi ke hutan angker dimana konon katanya, setiap lalat yang masuk ke hutan itu tidak pernah kembali. Mengapa hal itu terjadi? ternyata di sana terdapat monster Diona.

Seperti apakah monster tersebut? Hmm… baca aja versi lengkapnya di majalah bobo edisi 17 😉

Inilah penampakkan cerpennya:

Cerpen di majalah bobo

Wah, ilustrasi gambarnya bagus! Saya suka banget ilustrasi gambarnya.

Dan inilah penampakkan Alba ketika masih memelihara Monster Diona di rumah kami, waktu dia masih imut banget 😉

Tanaman Carnivora