Rosi Meilani content creator Channel Youtube Rosi Meilani | Citizen Journalist | Guide Jalan-Jalan London & Inggris | Vloger | Blogger | Tinggal di Inggris sejak 2007.
View all posts by Rosi →
Berpuasa 19 jam itu gimana rasanya, sih? banyak teman dan saudara di tanah air yang bertanya demikian.
Ehm.. gimana ya?.. ya biasa aja tuh. Yang jelas, durasinya lebih lama dari Anda yang tinggal di tanah air.
Awalnya agak-agak kesal nunggu berbuka puasa yang tak kunjung tiba. 9.37 gituloh. Lama-lama sih terbiasa. Biasanya saya baru masuk dapur untuk nyiapin makanan berbuka jam 8 malem.
Saking lama menunggu waktu berbuka puasa, acara ngabuburit yang kami lakukan tidak hanya di taman kota atau jalan-jalan di pusat perbelanjaan daerah kami, tapi sampai ke luar kota.
Ya, weekend kemarin kami ngabuburit ke kota sebelah, Birmingham. Meski yang namanya luar kota, tapi jarak tempuhnya hanya 45 menit saja. Kebetulan rumah saya dekat pintu tol. Jadi, ya langsung blas… 45 menit, sampailah kami di Kota kedua terbesar di Inggris.
Dari beberapa tujuan ngabuburit kami hari itu, menyambangi Aston Villa Foot Ball Club adalah salah satunya. Semua klub sepak bola Inggris memiliki nama untuk kandang berlatihnya. Seperti MU dengan old traffordnya. Nah, kalau si Aston Villa ini kandangnya bernama Villa Park.
Mau tau seperti apa penampakkannya kandang Aston Villa tersebut, cekidot dimari 😉
Seperti biasa, ketika video CJ kita tayang, akan diikuti oleh sebuah email yang masuk. Seperti sebuah email yang masuk di akhir Juni lalu.
SELAMAT!
VIDEO ANDA YANG BERJUDUL “WU BUKA PUASA JERMAN + INGGRIS” (SENIN, 29 JUNI 2015) SUDAH TAYANG DI NET 10 . SELAMAT DAN TERUS BERKARYA.
Makasih mimin atas pemberitahuannya….
Karena JKT lebih cepat enam jam dari UK, so.. acara NET10 yang tayang jam 10 pagi tersebut sangat jarang sekali saya pantengin. Biarpun gak bisa liat penampakkan video CJku di layar TV, tenang aja.. kan ada youtubenya.
Siang hari setelah kerjaan domestik beres, barulah waktunya buka PC n ngepoin versi youtube khusus di laman NET TV. Ih, kok videonya ga ada? Oh, kali blom diaplod, kupikir. Padahal, sepertinya video CJ yang tadi tayang di NET10 udah ada youtubenya termasuk yang buka puasa di Jerman itu (liat cover videonya doang)
Udah diselang kerjaan ini itu, saya balik lagi ke laman yang sama. Ih.. blom nongol juga. Saya intip deh imel yang tadi, rasa-rasanya ada yang aneh gitu deh. Saya baca ulang dengan seksama dan berhenti di kalimat “VIDEO ANDA YANG BERJUDUL “WU BUKA PUASA JERMAN + INGGRIS… “
Saya balik lagi deh ke deretan youtube NET10 yang tadi siang tayang. Trus, saya klik
video tadi yang saya liat covernya doang itu. Saya tonton dengan seksama. Dan, pas setengah durasi jalan… Eh, itu videoku.
Hmm.. jadi satu video itu kontennya suasana berbuka puasa di Jerman dan di Inggris yang disatukan dalam satu video NETCJ. Baru kali ini videoku digabung dengan videonya orang lain.
Jadi, honornya gimana ya? hahahaha…
Dibagi dua pastinya dong ya..
Ga papa juga sih.
Cuman, klo boleh nawar, mbok ya judul n cover videonya tertulis lengkap gitu loh mas/mba mimin NETCJ yang ketje. Jadinyah akyu yang bingung nyari-nyari youtubenya sedari tadi. 😀
Mahakarya Indonesia, persembahan anak bangsa. Meski tak besar, tapi ini jati diri kami. Rasa bangga kami. Pada negeri nan elok. Pada tumpah darah yang selalu dirindukan. Meski jauh dari ibu pertiwi, Indonesia selalu di hati.
*****
Siang nan hangat di sebuah bagian negeri Inggris berkumpul warga Indonesia dari berbagai wilayah asal. Meski acara digagas PPI setempat namun pengunjung yang hadir tidak hanya para mahasiswa tapi juga dari latar belakang profesi yang beragam dan dari suku yang bermacam-macam pula. Meski beda, meski beragam, satu yang menyatukan kami, Indonesia.
Ya, karena kami, satu bangsa, satu bahasa dan satu budaya. Budaya yang amat kaya. Budaya yang harus tetap dipegang oleh masing-masing kita, anak bangsa. Salah satunya budaya tari.
Musik gamelan menggema diiringi tepukan tangan nan riuh menyambut hadirnya seorang penari Bali yang pentas di panggung sederhana, namun kaya nuansa. Riuhnya tepuk tangan itu seolah mencerminkan hausnya segala sesuatu yang berbau “Indonesia”.
Tepuk riuhpun diberikan warga asing yang turut hadir disana, dimana jumlahnya sangat banyak. Tepukan riuh mereka bagaikan bentuk ketertakjuban. Hei, inilah Mahakarya Indonesia itu!
Sejak diawal pertunjukan tari, saya tertegun, begitupun penonton lainnya. Kami tersirap tariannya. Termasuk bapak Hamzah Thayeb selaku Duta Besar RI untuk Inggris. Kami hidmat menikmati gerakan demi gerakan tariannya yang melebur kental bersama iringan musik gamelan yang melingkup kami di area terbuka Nottingham kala itu. Benar-benar merasa dalam dekapan Indonesia. Suasananya, nuansanya, rasanya.
Adalah Made Ari Mahadi, seorang mahasiswa S2 University of Glasgow, yang mempersembahkan tari Bali dengan penuh penjiwaan. Bukan hanya penyatuan olah tubuh dan iringan musik gamelan. Tapi lebih dari itu. Ia memainkan tariannya sepenuh ruh.
Menurut Made Ari, yang menjadikan tarian Bali itu bernyawa adalah taksu. Taksu itu sendiri merupakan tingkat spiritual tertinggi yang hadir dari dalam jiwa seorang Hindu yang erat kaitannya dengan peribadatan.
Sedangkan taksu yang dimaksud Made di sini adalah taksu dalam hal berkesenian. Seni tari salah satunya. Taksu memberikan energi, kehalusan jiwa, dan kemurnian pikiran yang mampu menggerakkan setiap gerak para penari. Sehingga tarian yang tersaji terlihat memesona dan berkharisma. Hingga mampu membuat penonton terkesima.
Masih menurut Made Ari, Taksu itu ada dua macam, yaitu Taksu bawaan lahir dan taksu yang digali sendiri. Menurutnya ia tidak memiliki taksu bawaan. Meski demikian, taksu bisa diciptakan dalam jiwa seseorang. Caranya adalah dengan kegigihan, kesabaran dan kerendahan hati.
Dengan banyak berlatih tari, aura-aura taksu akan tercipta dengan sendirinya. Tidak mudah memang. Itu memerlukan waktu. Bisa bertahun-tahun, mungkin pula berbelas tahun. Namun bisa pula berproses cepat. Tergantung sebesar apa kegigihan, kesabaran dan kerendahan hati seorang penari saat berlatih tari dan ketika ia menari di depan umum. Kuncinya adalah menari dari hati. Bukan hanya Wiraga (olah tubuh) dan wirama (menyelaraskan irama gamelan) tapi juga wirasa, ini yang penting.
Wirasa adalah kemampuan untuk menghayati tarian yang dimanifestasikan dalam bentuk ekspresi wajah dan pengaturan emosi diri. Hidupnya suatu tarian sangat dipengaruhi oleh penjiwaan sang penari dalam memerankan karakter yang dibawakannya.
Jika wirasa selalu dihadirkan dalam setiap tarian yang dipentaskan, lama kelamaan taksu itu akan hadir melekat dalam diri penari tersebut.
Niat Kuat dan Kegigihan Kunci Keberhasilan
I Made Ari Mahadi nama lengkapnya. Made panggilannya. Pertama kali belajar menari Bali ketika memasuki SMP Negeri. Jika saja waktu itu ia bersekolah di SD Negeri, pastinya ia sudah mendapatkan pelajaran menari Bali sejak usia 6 tahun. Sayangnya, waktu itu Made bersekolah di SD Swasta yang tidak menerapkan kurikulum menari Bali sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal.
Menurut Made, sebagai orang Bali, menari Bali adalah sesuatu yang ingin ia pelajari dan kuasai. Diawal-awal, Made merasakan kesulitan mempelajari tarian Bali. Ia harus mempelajari gerakan-gerakan dasar selama satu semester. Selama itu, belum diperkenalkan dengan irama gamelan. Sementara teman-teman lainnya yang dulu bersekolah di SDN sudah menguasai tari Bali.
Meski diawal terasa sulit, namun berkat kegigihannya, seiring waktu Made bisa menari Bali dan ia sangat menikmatinya. Progres cepat yang didapat Made tidak berlaku untuk semua temannya. Tergantung seberapa gigih, seberapa ulet dan seberapa besar kecintaan seseorang terhadap. Ada juga teman Made yang tidak juga bisa menari Bali. Karena ia beranggapan, untuk apa belajar tari Bali sebegitu seriusnya. Toh hal tersebut tidak akan terpakai saat seseorang memasuki dunia kerja.
Benar memang, tapi Made memiliki pemikiran lain. Biarpun menari tidak akan dijadikan profesinya di kemudian hari, namun ia tetap mempelajarinya. Selain karena kecintaanya pada tari Bali ia memiliki pemikiran lain. Baginya, mampu menari Bali adalah sebuah bentuk identitas diri. Karena semenjak SMP ia sudah mematri diri. Suatu saat, saya akan bersekolah di luar Bali, ujar anak Kabupaten Tabanan ini. Malah kemudian seiring waktu, niatnya bertambah kuat. Bahwa, suatu saat saya akan pergi (entah itu sekolah ataupun bekerja) ke luar negeri.
Dan pada akhirnya, niatnya yang kuat tersebut benar-benar membawanya ke luar Bali. Selepas kuliah, ia berkarir di Jakarta selama dua tahun sebagai seorang marketing. Mimpinya untuk bisa ke Luar Negeri masih terpatri. Dengan kegigihannya, akhirnya ia berkesempatan mendapatkan beasiswa S2 di University of Glasgow.
Sebagai orang Bali yang didekap dunia pariwisata, Sarjana Ekonomi ini kemudian memilih jurusan Tourism. Seperti halnya menari, memberikan sajian seni yang bisa dinikmati khalayak ramai, dunia pariwisata pun demikian adanya. Bali dan penduduknya yang memiliki budaya gotong-royong memiliki jiwa melayani, hospitality.
Apapun Profesinya, Menari Adalah Bagian dari Identitas Diri
Sedari awal, tujuan Made ingin menguasai tari Bali ada dua. Yang pertama, karena ia menyukai dan menikmatinya. Tidak terlintas dalam benaknya jika suatu saat bisa tampil di hadapan khalayak ramai. Jika kemudian ia didampuk untuk menari di lingkungan kampusnya, maka itu adalah sebuah bonus. Made beberapa kali tampil di Britania Raya. Diantaranya di Glasgow, Skotlandia, di Nottingham dan di London pada 14 Juni 2015 kemarin.
Tujuan kedua adalah sebagai identitas diri. Dan itu terbukti sudah. Ketika ia berkuliah di negeri orang ia mampu menjadi duta Bali, duta Indonesia, lewat tariannya itu. Ia mempersembahkan tarian Mahaharya yang dimiliki Indonesia tersebut di hadapatan warga asing. Sehingga mereka membuka mata dunia Inilah Mahakarya Indonesia itu.
Dimana untuk bisa tampil dengan sesempurna itu Made harus mempelajarinya bertahun-tahun, melatih dirinya dengan penuh kegigihan, kesabaran dan kerendah hati. Semua usaha yang dilakukan Made membuahkan hasil berupa apresiasi dari penonton. Dan yang paling penting adalah kepuasan hati yang dirasakan Made Ari.
Betapa, apa yang dicitakannya sedari dulu tercapai sudah. Bahwa ia memiliki jati diri sebagai bangsa Indonesia, sebagai putra daerah Bali.
Apapun profesinya nanti, menari Bali akan tetap ia tekuni.
Indonesia…
Bangsa yang rekat. Walau ribuan pulau memisahkan yang satu mimpi.
Walau terbagi beribu suku, kita membuka telinga untuk semua teladan. Kita akan senantiasa merunduk dan mengasah sebuah keaslian rasa. Kita merendahkan hati. Kita tak melompat atau terbang. Kita melangkah mantap. Satu, demi satu, demi satu. Setiap helai benang dan torehan. Setiap tetes dan gerakan. Untuk nikmati aroma keberhasilan. Kita bersabar. Kita menempa kualitas diri dan menjaganya agar tak pernah berubah. Dan saat sesuatu berjalan selayaknya, kita setia, patuh pada tata cara. Kita lupakan satu, sampingkan sendiri. Lalu memupuk kesempurnaan bersama. Karena kapal ini butuh semua tenaga. Kita bergotongroyong. Lihatlah, sesuatu yang dimulai dari dalam tak akan runtuh terkikis waktu. Inilah jiwa Indonesia. Jiwa yang menciptakan mahakarya (234 Mahakarya Indonesia)
Duh, dalam banget. Narasi di atas merupakan pesan sponsor yang saya kopas dari blognya Katerina.
Jarak lima tahun tidak pulang ke tanah air, Desember kemarin saya berkesempatan mudik ke Bandung. Ya, Tuhan.. Bandung makin sesak saja sekarang. Hal yang paling saya keluhkan adalah muacetnya ituloh. Ampun deh. Lima tahun lalu, memang Bandung suka macet. Tapi sekarang lebih parah lagi.
Rasanya, jika ngak ada urusan yang penting-penting amat mendingan diam ngadem di rumah. Tapi mana mungkin. Mumpung di tanah air, banyak urusan yang harus diselesaikan. Juga menjadwalkan silaturahmi dengan keluarga besar dan teman-teman. Jadi mau tak mau, bermacet ria sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Bahkan demi menuju suatu tempat makanpun kami harus bermacet-macet ria.
Tapi mau gimana lagi, terima aja deh. Berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian. Bermacet-macet dahulu, makan-makan kemudian. Walaupun berharap keajaiban: makan getuk dan kue pukis, kawan-kawan berdatangan, duduk-duduk manis, makan-makan kemudian. 😀
Buat kami yang tinggal di Luar Negeri, sebelum mudik pastilah sudah membuat daftar wisata kuliner yang harus dijajal. Buat saya, dari sekian banyak target kulineri itu, baso malang salah satunya, glek!
Ngomongin soal baso malang (ini baso malang tapi lahirnya di Bandung loh :D) saya ajak Anda mundur ke tahun 1992. Ada baso malang yang enak di Bandung yang merupakan pionernya, mungkin. Yaitu yang berlokasi di area Mesjid Istiqomah Jalan Citarum. Wuihh.. pada waktu itu pembelinya selalu berjejal.
Seiring waktu, bermunculanlah baso malang lainnya di Kota Bandungku nan tercintah. Salah satunya adalah Baso Malang Karapitan aka BMK (berdiri pada 1995). Dinamakan demikian karena letak resto basonya di jalan Karapitan. Meski buka cabang di mana-mana, tetap saja namanya Bakso Malang Karapitan aka BMK. Sedari dulu, resto baso malang ini memang popular.
Nah, ngomongin BMK, pas liburan kemarin itu, saya serombongan keluarga menyempatkan diri ke BMK untuk bernostalgia. Sekalian nyari HP di BEC, beli buku di Gramedia Merdeka, belanja di BIP dan ada beberapa urusan di daerah Asia Afrika, maka kami memilih BMK yang dibelokkan Merdeka-Aceh.
Nah ini, setelah perjuangan bermacet-macet ria, nyari tempat parkir juga gak mudah. Di Gramedia udah penuh, akhirnya keliling-keliling, dapat parkiran di BIP. Udah gitu, baru deh jalan ke BMK. Mana udah jalan (kaki) seharian (shopping dll), walhasil saya dan kakak ipar gempor, karena salah memakai alas kaki, haknya mayan tinggi, bo 😀
Iparku, sudah kakinya pegel pake banget, trus lecet pula. Sepatu baru, ya sis? 😉 Eh.. memilih BMK di lantai dua pulak! Biar privasi katanya 😛 Beliau udah nyengir-nyengir menghawatirkan gitu :D. Ia sempet telanjang kaki, aka nenteng sepatu kerennya itu bin nyeker. Kepikiran juga untuk beli sendel jepit. Tapi mana ada kios yang jual sendel jepit deket resto BMK yang keren itu 😛
Well, perjuangan mendapatkan semangkuk baso malang itu pun tidak hanya sampai di situ. Kami duduk-duduklah, milih-milih menulah, nunggulah, recok (ribut) pesen ini-itu yang terus berubah-ubah. Selang beberapa waktu, mba waitresnya menghampiri kami. Baru deh pesen.
Sesudah memesan menu pilihan, masih makan waktu juga. Beuh.. lapar nih.. lapar… 😀 Saya liat jam, wah belum magrib. Ya sudah, saya numpang shalat di sana. Ya Tuhan, sekelas gedung megah ini, tempat shalat (karyawan)nya sempit banget, pengap, kotor, panas, di lantai paling atas (atap). Ya sudalah…
Eh, selesai shalat, itu pesanan belum datang juga. Baiklah.
Setelah pesanan datang, gerombolan kami yang asalnya ribut, senyap seketika menikmati BMK yang sedari keluar rumah tadi diidamkam. Akhirnya… setelah sekian lama…
Waktu itu, saya belum kenal Food Panda. Duh! Nyesel banget baru kenal Food Panda sekarang 😀
Food Panda paan sih?
Sini, saya kasih tahu! Food Panda adalah restoran online.
Restoran online? What?
Heran ya?
Saya juga awalnya heran.
Kirain cuman belanja baju aja yang bisa online.
Ternyata… restoran juga ada yang online.
Ya dong… Food Panda gituloh!
Jadi, Food Panda ini bekerja sama dengan restoran-restoran ternama. Dengan jenis resto/menu makanan yang sangat beragam. Mulai dari makanan cepat saji semacam Burger King hingga kuliner bercita rasa Indonesia asli seperti Ayam Penyet Surabaya. Mulai dari makanan italia seperti Papa Ron’s Pizza, hingga makanan Jepang Celebrity Sushi. Mulai minuman segar seperti es teler 77 sampai cemilan oleh-oleh terkenal Kartika Sari. Wah, pokoknya, buanyak buanget deh ragam kulinerinya.
Untuk saat ini, Food Panda baru melayani 4 kota besar di tanah air. Yaitu: Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali. Berdoalah semoga besok lusa Food Panda hadir juga di kotamu 😉
Trus, gimana cara pesannya?
Gampang banget!
Nih, tonton deh…
Etapi, sebelum liat youtubenya, sebentar saya ringkaskan dulu.
Jadi, pertama-tama kamu instal dulu aplikasinya. Search aja Food Panda, langsung nongol deh. Hitungan detik, itu aplikasi udah siap dipakai. Trus kamu register. Selanjutnya pilih kota dan areanya. Habis itu, pilih deh restorannya, kemudian pilih juga menunya. Setelah memesan makanan, kamu bisa pilih minta diantar atau diambil sendiri? Pastinya lebih asik dikirim ke rumah dong ya? Kayaknya 99% pelangan Food Panda mengambil opsi ini. Setelah itu isi data diri, termasuk alamat lengkap rumahmu. Setelah itu tentukan cara pembayarannya. Bisa bayar di tempat kok. Udah! Gitu aja! Gampang pake banget, kan?
Jadi, untuk bisa menikmati semangkuk BMK tidak usah Berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian. Bermacet-macet dahulu, makan-makan kemudian, seperti kisah drama saya di atas tadi. Duh, masih terbayang aja mimik meringis ipar saya saat menaiki tangga BMK Merdeka. Pegel ya, kaka? 😀 lecet juga ya, kaka? 😛
Dengan Food Panda, mari kita ubah peribahasa di atas tadi. Lagi makan getuk dan kue pukis, kawan-kawan berdatangan, duduk-duduk manis, makan-makan kemudian. 😀
Mengapa begitu?
Ya iyalah..
Proses pemesanannya cepat. Selama menunggu itu kita bisa mengerjakan ini-itu. Semisal pulang kerja capek banget nih. Pulang kerja langsung pesan makanan yang kami inginkan via Food Panda. Selang menunggu pesanan datang, kamu bisa mandi dulu, sholat dulu (di mushola/tempat shalat kita yang bersih, rapi dan harum 😉 ) ngerjain ini-itu dulu. Mandi beres, sholat beres, urusan beres, makanan datang. Asik banget kan?
Dengan Food Panda, kamu bisa menghemat energy, menghemat waktu dan menghemat biaya bensin n parkir juga dong ya…. 😉
Keren gak tuh Food Panda?
Ya keren donggg..
Ayo, instal sekarang aplikasinya!
Atau mungkin kamu udah jadi pelanggan Food Panda? 😉