Category Archives: Cerpen Anak

Cerpen Anak di Majalah Soca/Koran Sinar Harapan

SOCA adalah sebuah nama majalah. Singkatan dua anak bocah laki dan perempuan. Yaitu Soni dan Caca. Tulisan saya pernah dimuat beberapa kali di sana. Untuk genre jalan-jalan, flora, feature, dan liputan khusus. Selengkapnya bisa dilihat di sini. Karena saya penulis kutu loncat, alias penulis segala macam genre, tergantung mood datang, saya pun mencoba mengirimkan cerpen anak ke sana.

Tidak seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya, Soca bertransformasi, dari format majalah menjadi format koran, yang menginduk pada Sinar Harapan. Jadi, untuk 4 tulisan saya sebelumnya masuk di Majalah Soca, kalau yang cernak ini masuknya ke koran Sinar Harapan SabtuMinggu. Tapi teuteup dua lembar rubrik anak-anak ini bernama SOCA.

Cerpen anak yang saya kirimkan ke SOCA berjudul Konde Leluhur dan dimuat dengan judul yang sama seperti yang saya kirimkan. Konsep cerita ini muncul ketika saya masuk dalam sebuah kelas cernak yang isinya satu guru keren dan 4 murid yang tak kalah keren 😉

Salah satu murid tersebut ada yang bernama Tary. Nah, saya tuh kadang mengambil nama tokoh cernak yang saya buat dari nama-nama orang terdekat saya. Misalnya, nama anak saya sendiri, nama teman-temannya anaks saya, nama ponakans, nama sepupus, nama temans dan relasi. Dengan catatan, namanya menarik, mudah diingat, mudah dibaca, keren, ngak jadul.

Nah, karena waktu itu saya satu kelas dengan Tary, maka nama itulah yang saya ambil untuk tokoh cernak yang saat itu harus saya selesaikan sebagai PR.

Dan berikut ini cernak saya dalam naskah lengkapnya:

Konde Leluhur
(Rosi Meilani)

 Beberapa hari lalu, telah terjadi pencurian di istana. Pencuri berhasil mengambil kotak perhiasan Sang Ratu. Beruntung aksi tersebut berhasil digagalkan. Ketika Si Pencuri melewati benteng istana, pengaman istana yang bernama Paman Arya memergokinya.  Paman Arya mengejar pencuri yang ternyata Si Codet. Pencuri paling berbahaya di negeri itu. Terjadilah aksi kejar-kejaran.

Si Codet pontang-panting. Ketika akan menyeberangi sungai, ia terpeleset, lalu terjatuh. Berhamburanlah hasil curiannya. Paman Arya mencoba mengejar Si Codet. Namun tak terkejar.  Lagi pula Paman Arya harus segera memunguti perhiasan Ratu sebelum terhanyut aliran sungai.

Sesampainya di istana, Paman Arya menyerahkan kotak perhiasan kepada Ratu. Namun wajah Ratu terlihat kuyu

“Mengapa Ratu terlihat sendu?” tanya Paman Arya.

“Terima kasih atas usaha yang paman lakukan. Tapi ada satu barang yang hilang,” jawab Ratu.

“Apakah itu?”

“Konde Leluhur. Konde pemberian leluhurku yang diwariskan secara turun-temurun. Konde itu sangat berharga untukku,” lirih Ratu.

***

Seperti biasanya, sepulang dari hutan untuk mencari kayu bakar, Tary berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba matanya terkena silau sebuah benda. Tary segera menghampiri sumber kilau. Lalu  memungut benda yang tersangkut di ranting pohon tepi sungai itu.

“Eh, ini kan konde? Bentuknya indah sekali.” gumannya sambil mengamati  konde yang bersemat taburan bebatuan bening nan berkilauan. “Apakah ini yang disebut dengan batuan berlian itu? Ehm, entah lah. Yang jelas, konde ini akan kupakai saat parade besok lusa.” lanjutnya.

Hari dinanti tiba. Tary didandani oleh Ibu. Ia memakai pakaian adat dan diberi riasan sangul di kepalanya. Setelah itu Tary menyelipkan konde di sangulnya, tanpa sepengetahuan Ibu. Lalu Tary diantar Ayah ke istana.

Di halaman istana tengah digelar perayaan ulang tahun Ratu Amira. Acara dimeriahkan parade anak-anak yang berpakaian tradisional. Meski acaranya berlangsung meriah, tapi Ratu Amira terlihat gundah.

***

Ketika iring-iringan parade dimulai, Tary menjadi pusat perhatian. Karena sangulnya memancarkan kilau ketika terkena sinar matahari. Ratu Amira  terperanjat . Seketika ia berdiri dari singgasananya di teras istana itu.

“Paman Arya, bawa anak itu kemari!” titah Ratu menunjuk ke arah Tary.

Paman Arya bergegas. Sayang, Paman Arya kalah cepat dengan Si Codet. Tary diculik oleh Si Codet.

Rupanya semenjak pencurian tempo hari ini, Si Codet terus mengintai istana. Ia masih penasaran ingin memiliki konde leluhur yang sangat bernilai tinggi. Ketika  menyusup saat parade, ia tahu benar, bahwa konde yang dipakai oleh Tary adalah konde yang diincarnya sedari dulu.

“Tolong … tolong …,” Tari meronta-ronta saat tubuhnya dipikul di pundak Si Codet.

Codet berlari kencang. Paman Arya mengejarnya. Orang-orang yang berada di sana terlihat bengong dan bingung. Apa yang terjadi, pikir mereka. Lalu Paman Arya berteriak.

“Penculik … penculik …,” pekiknya. Serta mertalah orang-orang ikut mengejar Si Codet.

Dasar Si Codet penjahat ulung, ia menyambar kuda istana. Lalu menungganginya. Sedangkan Paman Arya dan yang lainnya hanya bisa mengejarnya dengan berlari saja. Hingga tertinggal.

Melihat situasi tersebut, Tary langsung mencabut kondenya. Lalu ia tusukkan ujung konde yang tajam itu pada punggung Si Codet.

“Awww … ” Si Codet kesakitan, tapi Tary belum juga terlepas dari pundsak Si Codet. Sekali lagi Tary menusuk punggung Si Codet.

“Aww …,” Si Codet kesakitan. Kali ini, terlepaslah Tary.

Tary terpelanting. Untunglah sebelum jatuh ke tanah, badan Tary berhasil ditangkap Paman Arya. Selamatlah Tary.

Kejadian itu membuat heboh pesta ulang tahun Ratu. Namun demikian, Ratu Amira kini berbahagia. Karena Konde Leluhur telah kembali ke tangannya. Karena aksi Tary yang sangat cerdas dan berani, Ratu Amira memberikan hadiah kepada Tary. Berupa konde lainnya. Namun kecil dan mungil. Semungil tubuh Tary.

*****************************************

Demikianlah naskah aslinya yang saya kirimkan ke SOCA. Nah, yang di bawah ini adalah penampakkan cerpennya yang sudah tayang. Ayo pelajari! Bagian mana yang diedit! Dengan begitu, kita jadi tahu dan bisa membandingkan serta mengambil ilmunya.

Cerpen anak di majalah soca
Cerpen Anak Soca, dimuat 10 Mei 2015

 

Tips menulis cerpen anak kali ini adalah:

  • Pilih nama tokoh cernak yang keren, unik, mudah dibaca.
  • Gunakan kalimat efektif.
  • Hindari kalimat bersusun. Karena kita sedang menyuguhkan bacaan untuk anak-anak. Jadi buat kalimat sesimple mungkin.
  • Pesan moral. Ini yang penting!

Hmm.. menurut kalian, pesan moral dari cerpen anak ini, apa ya?…..

Oiya, buat kamu yang mau ngirim cerpen anak ke Soca, catet alamat imel berikut ini: redaksisoca@sinarharapan.co.id

Tips Menulis, Ide Cernak Dari Makanan

Udah lama ngak nyernak (nulis cerpen anak). Tetiba dimuat di Majalah Ummi, rasanya seneng banget. Cernak kali ini berjudul “Kue Pastel Mak Ijah”.

Sebagai jawaban dari pertanyaan beberapa teman yang kadang bingung nyari ide buat nulis cernak, tema makanan adalah salah satu ide yang jitu.

Jujur, beberapa cernak saya terinspirasi oleh makanan dan pengalaman sendiri. Contohnya, di cernak berbagi kasih, saya dapatkan idenya dari pengalaman sendiri. Ketika itu saya makan di fast food. Setelah melalui pengembangan imajinasi, akhirnya dimuatlah di Koran Anak Berani.

Adalagi tentang rumah kue. Ide awalnya, ketika itu saya masuk kelas cernak. Kemudian ada tugas bikin twist dongeng klasik. Akhirnya, cernak inipun dimuat di Koran Suara Merdeka.

Nah, kalau yang dimuat di Majalah Ummi kali ini, idenya adalah dari dapur sendiri. Saya seneng banget bikin makan pastel. Ketika menikmati pastel, terbersit ide. Dibikin cernak, bagus juga kali ya? 😉

Ini penampakan pastel buatanku. Sstt.. waktu itu pernah diposting di FB. Etaunya ini foto ada yang ngaku. Deuh! makanya langsung kukasih nama 😉

pastel ku

Dari ide muncul, eksekusi, pengendapan, self editing, kirim ke media, dicuekin, ditanyain, ditolak halus, diambil kembali, edit ulang, kirim ke media lain, duduk manis di waiting list. Akhirnya nongol juga nih cernak 😉

Makasih Ummi.

Permata Ummi
cerita anak Majalah Ummi

Karena Majalahnya baru edar, tulisannya aku bikin blur yaaa…

Yang penasaran, beli aja majalahnya 😉

Tips Menulis Cerita Anak, Dimuat di Bobo

 

Dari kemaren-kemaren kebanyakan posting tips menulis tulisan pejalanan. Sekali-kali posting genre tulisan yang berbeda ah…

Yang saya rasakan, kalau terlalu lama menulis di satu genre terus-menerus kadang bosan juga. Untuk menyiasatinya, saya suka selingkuh genre. Entah itu menulis resensi ataupun menulis cerpen. Atau nulis apa aja deh. Yang penting bisa ngilangin kejenuhan sama si tulper.

Nah, genre tulisan kedua yang paling saya sukai setelah tulper, adalah cernak a.k.a cerita anak.

Kenapa saya suka nulis cernak? Alasannya banyak. Diantaranya:

Pertama. Karena saya, kamu, kita semua pernah ngejamanin masa kanak-kanak.
Masa kanak-kanak saya sangat indah. Kalau kamu?
Kadang saya ingin kembali ke masa kanak-kanak. Tapi mana mungkin? (membaca saja sulit 😛 Anak 80’an pasti apal sama jargon layanan masyarakat itu) :v :v :v

Kedua, lewat cernak saya bisa berimajinasi tanpa batas. Namanya juga pikiran anak-anak 😉 Saya pernah bikin cernak berjudul Janji Salju, dimuat di Bobo. Kadang, cernak tak perlu pake nalar normal, termasuk hadirnya peri-perian. Tapi ending ceritanya bernilai sebuah moral. Itu yang penting.

Ketiga, dengan menulis cernak, kita bisa jadi lebih bijak. Bisa menyelami pemikiran dan perasaan anak-anak. Karena dengan nulis cernak, kita melebur menjadi anak-anak.

Keempat, menulis cernak tuh bisa sebagai sarana jalan-jalan ke masa lalu.

Bayangkan, umur saya udah kepala 4 (sstt… jangan bilang-bilang yang lain ya…) 😛
Diumur semuda itu 😀 saya suka kangen masa kecil. Maka, cara saya kembali ke masa kecil itu, dengan cara menulis cernak. Banyak ide cernak saya diambil dari masa kecil saya sendiri. Bersyukur Allah memberikan ingatan yang kuat.

Misalnya tentang cernak yang satu ini. Judulnya: Pohon Payung Untuk Sarah. Telah dimuat di Majalah Bobo edisi akhir September 2014.
pohon payung bobo
Waktu ini, saya ingat betul. Sebagai kakak saya biasa main sama adik-adik (ga bisa dibilang ngasuh juga sih, soalnya saya kakak yang nga ngemong 😀 Dulu tapiii… 😉

Nah, ujung dari bermain-main itu adik saya tertabrak becak.
Ehmm.. pokonya ceritanya panjang. Nanti saya kasih bocoran mentahnya.
(maksudnya naskah asli sebelum diedit sama Mba V, si editor yang baik hati. ting! 😉

Balik lagi ke soal tips menulis cerita anak.
Jadi, buat kamu yang mau nyoba-nyoba nulis cerita anak, buruan dieksekusi. Jangan kelamaan mikir. Kamu kan pernah jadi anak-anak. Masa sih ga ada cerita yang seru dimasa kecilmu? Cerita yang sendu-sendu juga boleh. Tapi jangan lebay. Karena editor kurang suka sama cernak yang menampilkan kesedihan melulu. Kasih aura ceria, semangat, manfaat dan ending pesan moral yang baik kepada pembaca cilik kita.

Dan terakhir, berikut ini saya sertakan naskah mentahnya, semoga bermanfaat.

Pohon Payung Untuk Sarah
Oleh: Rosi Meilani

            “Kakak, aku ingin payung-payungan seperti itu,” Sarah menunjuk pada Lea yang menyandarkan sebatang tanaman di bahunya.

Oh, Cyperus alternifolius, ujarku dalam hati. Aku tahu nama latinnya, karena minggu lalu mempelajarinya. Tanaman tersebut sejenis rumput-rumputan. Tapi ukurannya lebih besar dan tinggi. Batangnya saja bisa seukuran kelingking. Malah tingginya ada yang sampai satu meter. Ujung batangnya ditumbuhi belasan daun. Daun-daunnya kurus melengkung ke bawah, mirip sebuah payung.

“Nanti, ya, Sar? Kakak ganti baju dan menyimpan tas dulu,” jawabku yang kala itu dicegat Sarah sepulang sekolah.

“Ya … ka, sekarang aja, Ka. Plis….,” rayuan Sarah membuatku iba.

“Lea, dimana kamu mendapatkan payung-payungan itu?” tanyaku.

“Di rumah kosong, Jalan Pelangi, itu loh. Aku dikasih sama kak Luna,” Lea menyebutkan nama kakaknya

“Ayo, aku tahu tempatnya, kak,” Sarah menarik tanganku. Tak lama, “Tuh, lihat kak!” Sarah menunjuk rumah besar di seberang jalan.

“Tunggu di sini, ya! Jangan ikut menyeberang!” ujarku, Sarah mengangguk.

Jalanan padat oleh kendaraan yang berlalu-lalang. Sebetulnya aku bisa menyeberang di penyeberangan jalan (zebra cross), tapi jauh. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Setelah lengang, barulah menyeberang.

Kudorong pintu gerbang rumah kosong itu, tapi terkunci. Untunglah rumpun tanaman payung-payungan itu menjulur keluar pagar besinya. Kurogohkan tangan untuk memetiknya. Setelah berhasil, kutunjukkan pada Sarah yang berada di seberang jalan.  Sarah berjingkrak senang.

Karena jalanan sangat ramai,  aku harus menunggunya hingga lengang. Tapi Sarah tak sabar. Di luar dugaanku, kakinya melangkah. Sepertinya ia akan menyeberang jalan.

“Sarah, jangan!” berteriaku. Tapi telat. Dalam waktu yang bersamaan  sebuah becak melintas dengan cepatnya. Dan dalam waktu yang bersamaan pula aku langsung menutup mata.

BRAK! Terdengar suara benturan yang amat kencang. Aku langsung membalikkan badan dan berlari tanpa tujuan hingga masuk ke sebuah gang. Sambil berlari aku bingung. Apa yang telah kulakukan? Aku kaget dan merasa bersalah. Aku takut dimarahi Mama.

Perasaanku gundah. Terbayang Sarah terkapar di tengah jalan, berdarah-darah. Aku takut pulang. Aku takut Mama Papa memarahiku habis-habisan. Hingga akhirnya aku terduduk di sudut teras sebuah rumah kosong.

Aku terduduk lama di sana. Jantungku terus berdebar. Pikiranku bingung. Apakah aku harus pulang? ataukah tetap bersembunyi di sini. Mana aku lapar lagi. Karena sedari pagi belum bertemu nasi. Setelah beberapa lama, dari kejauhan terdengar suara yang kukenal memanggil namaku berulang-ulang.

“Tiara… Tiara…,” ujarnya.

Jantungku makin berdebar. Aku menciutkan badan.

“Kemana ya, anak itu?” lanjutnya, tepat dibalik tembok tempatku bersembunyi.

Aku tak bergeming. Tapi perutku yang kosong berontak. Ia ingin mengeluarkan anginnya. Meski kutahan, tapi ia memaksa juga. Akhirnya, duuttt… suara itu keluar kencang beserta wanginya.

“Nah, loh! Ketahuan!,” ujar tanteku memasang wajah yang lucu. “Ayo pulang!” ujarnya.

“Aku takut pulang, Tan. Takut dimarahi mama,” ujarku bertahan, tapi Tante Silvi menyakinkan bahwa Mama tidak akan marah padaku. Akhirnya, aku pun menuruti bujukkan Tante Sivi.

Selama perjalanan pulang aku terus-terusan membayangkan Mama dengan wajahnya yang marah. Tapi ketakutanku bertolak belakang. Mama menyambutku dengan pelukan.

“Tiara, Mama mengkhawatirkanmu. Kamu dari mana saja? Ayo makan nak! Kamu pasti lapar.”

“Mama ngak marah?” tanyaku heran.

“Kenapa harus marah?”

“Bukannya Sarah…,” aku celingukan ke setiap sudut rumah.

“Sarah ngak apa-apa kok,”  ujar Mama yang menarik kursi makan.

“Hah? Lalu, suara itu?”

“Suara apa?”

“Suara kencang itu? seperti suara tabrakan?”

“Oh itu. Gara-gara si abang becak kaget melihat Sarah bergerak maju. Spontan ia menginjak rem, lalu becaknya oleng dan menabrak pagar rumah orang lain.”

“Jadi?” aku ternganga.

“Jadi, Sarah baik-baik saja,” ujar Mama. “Lain kali, kamu ngak boleh ninggalin Sarah begitu saja, ya? Untung waktu itu Tante Silvi lewat di tempat kejadian. Lalu Sarah diantar pulang,” lanjut Mama.

Ah, akhirnya aku merasa lega. Perasaan bersalahku hilang sudah. “Iya, Ma,” jawabku.

Dalam waktu bersamaan Sarah datang.

“Kakak! Kakak abis dari mana?”

“Maapin kakak, ya, Sarah. Nih!” kuberikan sebatang Cyperus alternifolius yang sedari tadi kupegang.

“Asikkk… Makasih kakak.” Sarah memelukku erat lalu berlengak-lengok menyandarkan sebatang Cyperus alternifolius di bahunya seolah sedang kehujanan.

****

Sampai jumpa di postingan tips menulis cernak berikutnya.. 😉