Sejak kapan waktu, saya pengen banget berwisata ke Kota Cambridge. Dan akhirnya, setelah lama menunggu, kesempatan itu datang juga.
Ketika usai melaksanakan halal bihalal bersama masyarakat Indonesia rumah Pak Dubes pada 17 Juli lalu, kami langsung pergi menuju Utara. Sekitar satu setengah jam perjalanan, tibalah kami di Kota Cambridge.
Kesan pertama yang saya tangkap, ini kota bernuansa kota pelajar merangkap kota Wisata. Jejeran sepeda terparkir di beberapa spot di area parkir sepeda di pusat wisata/kota/gedung universitas. Rombongan tur anak-anak/pelajar bergerombol di sana-sini.
Puluhan bangunan tua, kokoh, klasik berdiri tegak di sana-sini. Dimana bangunan-bangunan itu kebanyakan merupakan college/universitas. Jadi, Cambridge ini merupakan Kota Pelajar-nya Inggris.
Mau tahu seperti apa suasana dan nuansa kota yang melahirkan banyak ilmuwan Inggris ini? Berikut ini saya kasih unjuk penampakkan kotanya.
Udah lama banget nih ngak ngirim tulisan ke media cetak. Sebagai obat kangen, minggu kemarin saya menuliskan pengalaman saya ngabuburit di Kota Birmingham. Dan alhamdulillah dimuat di Koran Pikiran Rakyat, Edisi 12 Juli 2015, Rubrik Backpacker.
Ada yang pernah dengan kata “liliput“ ?
Ehm, sepertinya hanya angkatan empatlima saya ke atas yang pernah dengar kata ini.
Jadi, kalau masa kecil kamu pernah dengar kata liliput. Tandanya kamu udah tua! 😛
Pertama kali saya mendengar kata liliput dari mamah saya. Dulu, duluuu… banget, waktu saya kecil. Waktu itu mamah sering mendongengkan tentang liliput dan negri raksasa. Saking seringnya mamah bercerita tentang negri raksasa dan liliputnya, hingga tertanam di daya khayal saya. Bahwa negri raksasa itu ada. Bahwa liliput alias manusia bentuk mini itu ada. Dalam pikiran saya waktu itu, manusia liliput itu seukuran jari-jari manusia.
Ehhmm.. daya imajinasi seperti inilah yang kayaknya masih nempel di otak saya yang kadang suka bikin cernak fantasi. Seperti yang pernah dimuat di bobo berikut ini. 😀
*****
Time Flies.
Pada awal 2010, tepatnya, pas, persis, di tanggal 1 Januari. Saya dan keluarga nonton film berjudul Gulliver’s Travels. Saya inget banget moment ini. Soalnya memorable banget. Alias dongkol banget.
Ceritanya waktu itu, dalam rangka celebrate something, bapaknya anak-anak ngajak nonton. Biasalah, si bapak ini serba teknologi, sampe-sampe pesen tiket pun via inet.
“Ayo, anak-anak, mau film apa? Mau nonton yang jam berapa? dimana?” kata si bapak.
Kalau tanya dimana, ya gak ada pilihan lagi. Pastinya cuman di VUE Cinema. Satu-satunya bioskop yang ada di kota kami 😛 Cian ya? 😀
Mungkin maksud di bapak mau ngajak nonton ke luar kota? 😀 Ah, ga usah lah. Masa untuk nonton film yang sama harus ke luar kota.
Waktu itu film Gulliver’s Travels baru aja keluar. Udah gitu, yang mainnya Jack Black. Pas banget. Si Jack Black ini kan aktor idolanya si bungsu. Gara-gara akting sebelumnya di film School of Rock yang bikin ia suka. Hingga ditonton berkali-kali. Dan, bahkan, sountrack lagu film ini kami masukan dalam lagu pilihan peneman road trip kami lintas England-Scotland. Seru deh, nyanyi-nyanyi bareng lagu ini.
Balik lagi ke soal film Gulliver. Saya pikir, karena film ini baru keluar, maka kami pesan tiket online plus milih tempat duduk sendiri, VIP pulak.
Dan ternyata pemirsah! di kota Worcester saat itu sepi sodarah-sodarah. Termasuk suasana Vue tersebut. Dan kamipun baru sadar. Ya ea lah. Ini kan tanggal 1 Januari. Ini bukan Indonesia. Ini Inggris. Dimana mereka masih pada nyungsep akibat hangover. Sisa mabok semalam. Milih jam tayang siang pula. Walhasil itu kursi bioskop kosong melompong. Ya.. hanya bisa dihitung jari gitu deh. Nyesel bingits pilih korsi VIP 😛
Ah, dasar!
Tapi, asik juga, sih. Jadi serasa bioskop pribadi. Film dimulai dan kami menikmatinya.
Adalah Gulliver. Seorang OB di sebuat perusahaan media cetak. Ia mendapat tantangan untuk membuat sebuah artikel. Dengan modal kopas sana-sini artikel tersebut diacungi jempol oleh bosnya. Hingga akhirnya ia melakukan sebuah ekpedisi. Maka dari itu film ini diberi judul Gulliver’s Travel. Nasib sial menimpa si Gulliver, singkat kata, doi terdampar di Negri Liliput.
HEI! ini kan dongeng sebelum tidur yang sering mamah saya ceritakan dulu.
Ebentar.. ebentar.. saya coba mengingat-ngingat kembali masa kecil saya. Seingat saya, waktu saya kecil, saya juga pernah nonton film sejenis ini di TV. Dulu… duluu.. banget.
Eh, dan ternyataa… emang cerita ini diambil dari novelnya Jonathan Swift yang ditulis pada abad 18. Ya pantesan aja. Artinya Gulliver’s Travel yang dimainkan oleh Jack Black adalah versi kesekian.
Yang baju merah temannya Gulliver 😀 Foto diambil taun 2010’an deh kayaknya.
Nah, ngomongin soal negri liliput. Mari kita bayangkan dengan seting tempat hasil liputanku ini…. (Gak nyambung dengan prolognya sih) 😛
Senin kemarin adalah Bank Holiday Monday yang bertepatan dengan liburan sekolah. Kebetulan pula si Yayang ngabisin jatah cuti, jadi hari itu kami pergi ke kota sebelah, Gloucester. Ni ya.. orang Inggris tuh kadang hambur kata, itu ditulisnya Gloucester, dibacanya cukup Gloster doang 😀
Hari itu cuaca Inggris cepet sekali berubah. Sebentar panas, sebentar mendung. Sebentar angin sepoi, sebentar angin kencang. Tapi okelah, dibandingkan dengan hari sebelumnya yang gerimis seharian.
Dari Worcester (nah ini lagi, dibacanya cukup Wuster aja) ke Gloucester ditempuh dalam waktu 40 menit saja. Untuk memasuki festival tahunan ini kami harus membayar tiket masuk £2 per orang, sedangkan untuk anak di bawah 16 tahun, gratis. Setelah membeli tiket, kami diberi gelang kertas berwarna hijau. Hal dimaksudkan karena festival ini bertempat di arena terbuka di dermaga. Jadi kita bisa keluar masuk sesuka hati ke banyak area hiburan di tempat itu dengan hanya menunjukkan gelang tersebut.
Festival ini berlangsung di Gloucester Historic Dock, sebuah dermaga besar yang letaknya dekat pusat Kota Gloucester. Ada belasan kapal yang dipamerkan di sana. Kapal-kapal yang usianya seabad itu masih terawat rapi dan masih beroperasi. Pengunjung boleh menaiki kapal-kapal tersebut, tapi dengan biaya lebih. Untuk menaiki kapal bermaterialkan kayu dan bertiang layar amat tinggi ini tiketnya £6 yang dibeli ketika memasuki area festival.
Banyak atraksi yang disajikan. Diantaranya ialah Pirate ship battle. Pertunjukkan ini seru sekali. Dimana dua kapal bajak laut berperang hebat. Suara meriam (cannon) berdentum-dentum. Setidaknya masing-masing kapal bajak laut itu melepaskan 5 kali tembakan meriam. Tentu saja meriam yang digunakan bukan meriam sebenarnya yang membahayakan lawan dan penonton festival. Tapi meriam bohongan yang hanya mengepulkan asap dan dentuman suara yang hebat.
Atraksi air yang berlangsung di dermaga Gloucester lainnya adalah flyboarding. Pertunjukan ini tak kalah seru. Dimana seorang atlet flyboarding terbang di udara dengan kekuatan tekanan air dari bawah.
Atraksi lainnya adalah pentas musik. Area panggung diseting sedemikan rupa hingga menarik. Diberi rumput sintesis, diletakkan banyak bangku pula. Jadi yang tidak kebagian tempat duduk, penonton bisa duduk-duduk santai di rumput tersebut sambil menikmati sajian musik dan curahan sinar matahari yang semakin siang semakin hangat.
Area panggung dilingkup stand bazaar aneka makanan dan minuman. Pas benar. Makan minum, duduk-duduk santai, berjemur, menikmati sajian musik.
Di bagian area lainnya masih ada panggung kecil, pameran barang antik, mobil antik, serta puluhan stand bazaar lainnya yang tidak hanya menjual makanan dan minuman tapi juga kerajinan tangan, pernak-pernik, pakaian, tas dsb.
Korsel, bouncy castle, serta permainan anak lainnya ikut memeriahkan suasana. Tukang balon, tukang es krim, permen, cotton candy memberi warna lainnya.
Yang tak lah seru, banyak panitia yang hilir mudik memakai pakaian bajak laut yang heboh. Banyak anak-anak minta berfoto bersama mereka. Sesekali para bajak laut gadungan itu berakting drama di tengah jalan.
Buat yang pengen penasaran seperti apa serunya festival ini silakan intip dimari: