Semua yang “ter” biasanya menarik perhatian. Tercantik, terganteng, terpintar, termegah, terkaya, terimut, dan ter ter lainnya. Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang rumah terkecil di Inggris. Inggris di sini maksudnya Great Britain alias Britania Raya atau kerennya kita menyebut UK aka United Kindom dimana Wales masuk di dalamnya.
Dalam rangka mengisi liburan musim panas, saya, suami dan si bungsu merancang road trip menyusur Wales, negara bagian UK. Dari sekian destinasi wisata yang menarik di Wales, rumah terkecil di UK ini salah satunya. Setelah berjam-jam melakukan perjalanan tibalah kami di desa kecil bernama Conwy. Desa yang terletak di pesisir pantai ini memiliki keindahan alam yang memesona.
Rumah terkecil seInggris ini letaknya tak jauh dari bibir pantai. Saking banyaknya wisatawan yang tertarik pada rumah mungil ini, kami harus mengantri panjang sekali. Meski lumayan pegal mengantri lama, tak surut niat kami demi rasa penasaran. Seperti apakah isi rumah yang berukuran 3,1 meter kali 1,8 meter dengan tinggi 3 meter tersebut.
Meski tingginya hanya 3 meter, rumah ini terbagi dua lantai. Lantai bawah terdiri dari ruang duduk dan tempat masak. Lantai atas ruang tidur. Uniknya, rumah yang dibangun pada abad 16 ini pernah dihuni oleh seorang nelayan yang memiliki tinggi badan 1,9 meter.
Ingin tahu seperti apa uniknya rumah tersebut, klik aja videonya.
Menurut prakiraan cuaca, Inggris bakal mendung dalam seminggu ke depan. Kecuali hari Sabtu, cerah dari pagi hingga sore, selebihnya hujan.
Ya gitu deh, buat kami yang tinggal di Inggris, prakiraan cuaca pegang peranan dalam menentukan sebuah rencana. Hari ini bakal ujan apa cerah, bakal gede angin apa enggak, cocoknya pake baju apa, enaknya dengan cuaca begini ngapain, pergi kemana dll.
Melihat kondisi cuaca yang bakal mendung seminggu ini, langsung deh, ngak pengen buang waktu untuk menikmati matahari.
“Jalan, yuk!” kata sang mantan 😀 “Tapi kemana ya….”
“Kemanapun itu, aku akan senang pergi bersamamuh.”
Eaaaaa…. 😛
Akhirnya, disimpulkan, destinasinya dekat, bisa menikmati matahari sambil duduk-duduk di taman (lagaknya.. kayak bule aja deh) 😀 Dan tentunya bernilai lebih, hahaha… teuteupppp…
Moto kami: Boleh Maen Ogah Rugi 😛
Jadi, maen kemana kita?..
Ke Rumah Shakespeare!
*Dora the explorer mode on
Ini bukan kali pertama kami ke sini. Meski demikian, kami belum bosan maen ke daerah kelahirannya Shakespeare ini. Setiap sudutnya ada kenangan tersendiri. Saya masih ingat waktu bawa anak-anak kemari. Saat itu mereka masih bocah-bocah menggemaskan. Piknik, lari berkejaran, ngasih makan bebek dll.
Sekarang, apa kabarnya anak-anak?
Si sulung lagi liburan ke Indonesia. Saya paksa si bungsu untuk ikut, tapi dia lebih memilih bermain skateboard bersama teman-temannya. Diiming-imingi apapun gak mempan.
Gitu deh, ada masa dimana anak-anak tak mau lepas dari kita. Dan akan tiba masa anak-anak gak mau lagi ikut emaknya, meski dipaksa.
So, buat emak-emak yang masih kerepotan bawa pasukan krucil, nikmatilah masa-masa itu. Karena akan ada masa, dimana kita sebagai emak merindukan hal itu, sedangkan anak-anak lebih asik dengan teman-temannya, dengan dunianya.
“Jadi, kita pergi berdua aja nih,” tanya sang mantan.
Ya udah, just the two of us (jadul amat nih lagu) 😀
Empat puluh menit perjalanan di cuaca Inggris yang hangat cenderung panas, tibalah kami di daerah tempat kelahirannya Shakespeare. Siapa yang tak kenal Shakespeare? Kalau masih ada yang belum tahu siapa Shakekpeare itu? sungguh ter.. la.. lu.. baca aja buku Jelajah Inggris halaman 115.
Eaaa… promosi terselebung nih 😀
Setelah mobil terparkir mulailah kami berjalan menyusuri area wisata tempat kelahirannya Shakespeare. Sambil menikmati suasana, rekam sana-sini tentunya. Sesudah dirasa cukup, kami duduk-duduk di taman, makan es krim dan bersantai berduaan aja, serasa jaman pacaran 😀
Dan hasil jalan-jalan tersebut diramu kemudian tayanglah di NET12 hari ini.
Inggris selalu menjadi salah satu pilihan para pelancong untuk dikunjungi. Tidak hanya karena mercusuar gaya hidup internasional, tetapi juga karena kaya akan budaya. Tidak heran banyak penulis lahir dari negeri Ratu Elizabeth ini. Seperti Arthur Conan Doyle yang terkenal dengan tokoh detektifnya, Sherlock Holmes.
Tokoh detektif Sherlock Holmes lebih terkenal ketimbang penulis novelnya. Ada 56 cerpen dan 4 novel yang fenomenal, kesemuanya telah dialihbahasakan ke berbagai bahasa dan tersebar ke seluruh dunia. Selain itu Sherlock Holmes telah dijadikan dalam film, mulai klasik hingga yang modern dan juga dijadikan serial. Karena, fenomenalnya Sherlock Holmes pula, maka dibuatlah museum Sherlock Holmes.
Museum Sherlock Holmes adalah kantor atau rumah Sherlock dan temanya Dr. Watson yang dipakai dalam film klasiknya. Letaknya hanya berjarak satu blok dengan Museum Madame Tussaud, tepatnya di Baker Street No. 211b. Di depan pintu museum ada pegawai museum yang memakai seragam polisi. Sebelum masuk ke museum, harus membeli tiket dulu di toko suvenir sebelah museum.
Resensi Jelajah Inggris dimuat di Koran Radar Sampit,16 Agustus 2015
Wales adalah Negara Bagian Inggris yang memiliki banyak objek wisata nan amat beragam. Wisata alam, wisata sejarah dan budaya, wisata bangunan tua dan masih banyak lagi. Agar keragaman pesona wisata yang terkandung di wilayah seluas 21 ribu km persegi ini terjelajah sempurna, maka tak cukup hanya sekali – dua kali kunjungan saja.
Ini perjalanan saya ke Wales untuk kesekian kalinya. Jika kunjungan pertama tertarik pada Lembah Valley yang eksotik. Kunjungan kedua tertarik akan bangunan sejarah dan kastil-kastilnya. Kunjungan ketiga tertarik Pontcysyllte Aqueduct, alias jembatan airnya. Maka kunjungan keempat ini saya tertarik akan air terjunnya.
Just Pack and Go
Waktu itu Lebaran kedua, si bapak masih ada cuti tersisa. Ketika sarapan, tiba-tiba muncul tanya: “Mau kemana kita hari ini?” Begitulah kami, terkadang muncul ide travel secara spontan.
Target, wisata alam yang tak jauh dari tempat kami tinggal. Setelah browsing dan berunding dengan teman-teman yang akan ikut berwisata bersama. Maka jatuhlah pilihan pada Brecon Beacon National Park. Dengan tujuan utama mengunjungi empat air terjun yang ada di dalamnya.
Setelah rencana matang dan menyiapkan perbekalan serta mencatat post code pada satnav, mobil pun meninggalkan Kota Worcester. Dengan perkiraan waktu tempuh kurang dari dua jam. Sedangkan dua keluarga/dua mobil lainnya berangkat dari Kota Bristol.
Kami janjian di titik henti yang telah ditentukan. Sesuai dengan yang tertera di website Brecon Beacon National Park. Ternyata, kami tiba lebih dahulu. Setelah menunggu beberapa saat, yang ditunggu tak kunjung tiba. Maka, kami, saya, suami beserta dua bujang cilik memutuskan untuk memasuki Taman Nasional tersebut.
Begitu memasuki Taman Nasional Brecon Beacon (TNBB), nyep.. hening, sunyi, dingin terasa. Meski hari itu matahari bersinar terang, namun udara TNBB begitu sejuk. Akibat rimbunnya pepohonan yang memayungi kami. Sinar mentari tak diberi ruang untuk memasukinya.
Namun, sesekali, ada dedaunan terhampar di tanah yang berkilau keemasan. Itulah dedaunan yang terkena jatuhan sinar mentari yang berhasil menelusup payung pohon yang amat rindang. Indah sekali.
Kami menapakai jalan bebatuan yang lebarnya sekira satu setengah meter. Di sebelah kiri jalan datar tersebut menjulang dinding bebatuan. Plus pepohonan yang lebat dan tinggi pula. Sedang di sebelah kanan jalan berbatas jurang rendah/lembah yang cukup curam menuju sungai nan elok.
Dikatakan elok, karena sungai berair bening itu bentuknya unik berkelok-kelok tajam dengan apitan bebatuan besar di kiri-kanan lekukan sungainya. Beberapa sisi sungai tersebut berdinding batu yang tinggi. Eksotik sekali. Ada beberapa lekukan sungai yang dalam. Menjorok ke dinding sungai yang gelap, terkesan angker. Seperti menyimpan misteri.
Kicauan burung yang beraneka rupa dan suara, sungai nan elok, airnya nan bening, suasana nan senyap, udara nan segar, bebatuan masiv, pepohonan tinggi dan rimbun, dinding bantuan alam yang gagah, sesekali terdapat gua kecil, membuat langkah kami terhenti-henti. Demi merasakan detail indah KuasaNYA.
Sekitar satu jam langkah perlahan, tak juga terlihat tanda-tanda air terjun di depan sana. Padahal kami sudah membayangkan keindahan air terjun itu sedari tadi. Seperti yang terdapat di papan informasi di muka pintu masuk TNBB tadi.
Bagaimana ini? Tak ada kabar dari dua keluarga lainnya. Karena begitu memasuki kawasan TNBB sinyal ponsel langsung lenyap. Sehingga kami tak bisa bertukar kabar. Akhirnya kami memutuskan untuk berputar balik, kembali ke pintu masuk tadi. Dengan niat menunggu mereka di gerbang masuk TNBB dan untuk mendapatkan sinyal ponsel.
Ditengah gontai perjalanan balik, perut kami mulai keroncongan. Maklumlah sedari pagi baru terisi ketupat sayur. Akhirnya kami menemukan tempat membuka bekal makan siang di spot yang tepat. Viewnya indah. Di pinggiran sungai, di sana terdapat sebuah batu besar nan datar yang cukup luas. Saya tertakjub pada batu yang telah mengkilat dimakan waktu. Batu itu bak karpet alam yang disediakan untuk kami yang ingin menikmati indahnya pingiran sungai itu.
Kami membuka bekal makan. Menunya sederhana dan biasa, namun romansanya sungguh luar biasa. Makan dalam keheningan alam. Dimana di hadapan mata tersaji keindahan sungai yang eksotik lengkap dengan aliran airnya yang bening dan tenang. Hingga dasar sungai, lumut-lumut, bebatuan serta ikan-ikan yang tengah berenang terlihat jelas.
Sengaja kami makan sedikit sekali. Karena masih ada sesi makan siang bersama yang lainnya. Setelah cukup menganjal perut dan merekam keindahan alam dalam ingat, segera kami bergegas, tanpa meninggalkan sampah. Malu rasanya jika meninggalkan sampah. Karena sedari gerbang masuk TNBB tak secuil sampahpun kami temukan di sana.
Tiba di muka TNBB, sinyal kembali kuat. Ternyata, benar saja, dua keluarga lainnya terpencar. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya semuanya berkumpul. Meski benar post code menunjuk di titik pintu masuk TNBB, namun ada jalan lain yang lebih pendek menuju air terjun yang kami maksud. Begitu menurut petugas tourist information centre yang berada di sana. Ketiga mobil pun melaju mengitari separuh kawasan TNBB.
Saatnya Makan, Main, Shalat, Bertadabur Alam
Sekira dua puluh menit, tibalah kami di sebuah area parkir plus lapangan piknik yang luas. Hanya ada dua mobil terparkir di sana. Hmm, mungkin bukan akhir pekan. Pantas saja sepi. Kami segera membuka perbekalan makan siang dan bertukar menu di meja piknik yang tersedia di sana.
Sementara itu, bocah-bocah berlarian ke sana kemari sambil menyeprotkan air lewat water gun-nya. Dimana airnya didapat dari sungai yang berada di tepi area piknik tersebut. Cukup lama kami menghabiskan waktu di sana. Setelah puas, segera kami mengambil air wudhu di sungai jernih yang amat sangat dingin itu. Hingga kaki kami memerah nyaris beku.
Karpet dan sejadah digelar. Kami ber-shaf. Iqomat diperdengarkan. Takbir, lafaz-lafaz, rukuk, sujud, hening, senyap. Hanya suara serangga, desir angin serta gemericik sungai sajalah yang memecah sunyi. Sendu sekali. Rasanya, saat itu, hanya kami, Tuhan dan Alam.
Usai dzuhur dan Ashar yang disatukan, semua barang dimasukan bagasi. Barulah perjalanan menuju empat air terjun kami mulai. Tiga keluarga, dua belas orang. Ayah, bunda dan anak-anak. Riuh sekali perjalanan kami menapaki jalanan bebatuan, sempit, dipeluk alam yang sunyi dan pepohonan lebat. Riuh itupun kemudian tak terdengar lagi setelah lelah datang.
Swing.. swing…
Kurang dari satu jam, tibalah kami di air terjun pertama. Segera kami merapat, penuh antusias. Di tepi air terjun tersebut terdapat swing atau gelayutan/ayunan yang terbuat dari seutas tambang nan kuat dengan dudukannya dari kayu melintang. Kehadiran swing itu menarik perhatian kami. Beberapa dari kami mencobanya. Lumayan ekstrem. Letaknya tinggi, ketika terayun jauh, sejajarlah badan kita di tengah sungai yang curam, beraliran deras dengan bebatuannya yang tajam. Namun demikian, saya menikmati ayunan alam tersebut. Ngeri-ngeri sedap. Semakin terayun jauh, semakin ngeri sedap. Jika tak ingat waktu dan yang lain menunggu, rasanya ingin berlama-lama berayun-ayun liar di swing tersebut.
Lepas dari air terjun pertama, perjalanan dilanjutkan, kembali didekap alam. Jalan yang kami lalui cukup sempit. Sesekali melewati jembatan kecil, di bawahnya mengalir air yang sepertinya dari mata air menuju sungai besar. Kurang dari satu jam, tibalah kami di air terjun kedua yang letaknya lagi-lagi di lembah. Segera kami menuruni jalanan yang curam bebatuan penuh antusias. Karena jalanan licin, kami harus berhati-hati terutama anak-anak.
Setibanya di area air terjun semua langsung melebur. Ayah bunda ada yang duduk-duduk di bebatuan besar di tepian air terjun, sekedar melepas lelah, menikmati polah para bocah yang bermain air sesuka hati. Ada pula yang ikut bermain air bersama anak-anaknya.
Sesekali diantara kami terpeleset. Akibat bebatuan dasar sungai/air terjun yang licin berlumut. Pecah tawa seketika. Sorak ledek pun menggema. Ruih dan hangat sekali suasana air terjun yang hanya milik kami ber-12 sore itu.
Hari kian merambat senja. Mau tak mau, kami harus menyudahi petualangan alam bebas di salah satu sudut alam Wales itu. Terpaksa dua air terjun yang sedianya akan kami singgahi di depan sana harus digagalkan. Tak hanya karena waktu, tapi juga karena tenaga. Biarlah lain kesempatan kami bertandang lagi ke sini. Ke wisata alam yang masih perawan dan sepertinya akan terus perawan. Asri alami. Tanpa tangan-tangan usil yang berniat merusaknya, mengotorinya, mengubahnya. Benarlah, empat kali mengunjungi setiap sudut wisata di Wales belum cukup sudah.