Category Archives: Tulisan Perjalanan

Tips Menulis, Foto Untuk Tulisan Perjalanan

Menulis tulisan perjalanan yang akan dikirimkan ke media pastinya sangat berhubungan erat dengan foto. Foto adalah bentuk visual dari apa yang kita deskripsikan dalam narasi. Jadi tulisan perjalanan itu akan bernilai plus jika didukung oleh kualitas foto yang baik.

Sebelum sedikit berbagi tentang foto untuk tulisan perjalanan, saya kilas balik. Dulu saya sangat awam dalam tulisan perjalanan. Ketika membaca rubrik tulisan perjalanan sebuah koran, terbersit, ah, saya juga bisa menulis seperti ini mah. Lalu, saya kirimlah tulisan perjalanan tersebut.

Tunggu punya tunggu, tulisan itu tak muncul juga. Bertanyalah saya kepada editornya. Beliaupun membalas kemudian. “Tulisannya sudah okey. Tapi maaf, fotonya pendukungnya tidak ada yang sesuai. Kalau bisa tolong kirimkan lagi foto-foto destinasi/objek wisata, minus penulisnya. 😀

Olala, itulah pelajaran pertama otodidak yang saya dapatkan dalam menulis tulisan perjalan. Saya liat lagi attach email yang saya kirimkan. Benar saja, dari sekian foto yang saya kirimkan semua ada foto sayanya yang lagi mejeng. Heuheu.. jadi malu, kenarsisan. Baiklah.

Untungnya, lokasi destinasi itu tidak jauh dari rumah saya. Di lain kesempatan, saya kembali ke sana hanya untuk mengambil foto. Dikirimlah foto tersebut. Dan tak lama, tulisan pertama di itu pun mejeng di sini.

Kesimpulan 1:

Kurangilah kenarsisan anda. Yang dibutuhkan adalah foto destinasinya/objek wisatanya, bukan andanya 😀

***

Sejak itu, saya mengurangi kenarsisan saya. Bahkan, sekarang saya lebih senang memotret teman seperjalanan. Terbukti waktu ke London kemarin. Perbandingan foto saya dan teman-teman, mungkin ada 1:12 😀

Pelajaran otodidak kedua, setelah re-take foto untuk koran SM di atas. Saya juga re-take foto untuk sebuah majalah keren. Dimana foto-foto yang mejeng di sana hasil jepretan para fotografer andal.

Re-take ini bukan karena ada sayanya. Tapi karena kualitas gambarnya. Maklumlah, saya kan cuman emak-emak yang asal jepret kalo lagi motret. 😀

Demi sebuah kebaikan dan ilmu yang bermanfaat, akhirnya saya re-take foto untuk artikel ini (untung lokasinya gak begitu jauh). Sedikit bocoran, seorang fotografer majalah ini sangat baik sekali mau mengajari saya gimana cara ngambil gambar yang baik. Makasih mas. Makasih juga Bu Pemred yang baik hati 😉

Kesimpulan 2:

Kualitas foto harus diperhatikan.

Rasanya ada kepuasan tersendiri ketika foto kita berhasil nampang dengan kualitas yang memuaskan.

Itulah pelajaran yang saya dapatkan, selalu ada ilmu baru.

Bagi saya, setiap media yang saya jajal, ada ceritanya masing-masing.

Dan ini adalah artikel kelima di Majalah tersebut (tulisan lama sih) 😀

Griya asri 1

griya asri 2

Lake Distric Captured

Tersesat di Gunung Burangrang (2)

Seperti yang saya janjikan kemarin, di sini
Inilah sambungan ceritanya:

Awalnya kami turun bersamaan. Tapi kemudian terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama bergerak cepat mengikuti langkah dua bocah ajaib. Akmal dan Fikri. Kakak beradik kelas 1 SMP dan 3 SD, anaknya Mang Epul.

Saya masuk kelompok dua, bersama 4 orang lainnya. Maklum, faktor usia. Selambat-lambatnya saya berjalan, masih ada peserta lainnya yang lebih lambat. Itu karena ia mengalami cedera. Mungkin di sini Tuhan mengajari saya tentang arti kesabaran dan kesetiakawanan. Merasa kesal dan sok berani, akhirnya saya memutuskan diri bergerak cepat menyusul kelompok pertama.

Sayang, meski saya mengejar tanpa henti, sekuat tenaga dan penuh keberanian, kelompok satu tak terkejar. Sedang kelompok dua ditinggalkan jauh di belakang. Lebih dari satu jam saya berjalan sendiran dengan medan yang ekstrim dan dalam hening.

Saya rasa, saya salah arah. Tersesat. Saya dilanda ketakutan. Di sepanjang jalan tak henti berdoa. Rasanya mencekam sekali. Apalagi kabut mulai turun. Kini saatnya saya untuk berteriak. Berharap ada manusia lain selain saya di sana. Panik mulai melanda. Rasanya ingin menangis kencang.

Setelah beberapa kali berteriak, akhinya ada sahutan. Bulu kuduk saya berdiri. Antara senang, lega, tapi juga was-was. Takut ia orang asing, atau mungkin mahluk asing, semacam mahluk astral sebangsa dedemit atau apalah itu.

Dengan hati berkecamuk dan diiringin doa sekencang mungkin di dalam hati, segera saya ikuti arah suara. Dari kejauhan, terlihat seseorang duduk membelakangi saya. Lelaki berjaket hitam, berpenutup kepala itu menantap jurang di depannya. Serta merta saya utarakan ketersesatan saya. Rupanya, ia pun sama. Tersesat. Tertinggal dari kelompok pertama.

Anehnya, orang itu tak juga melirik pada saya. Hingga terlintas dalam benak saya. Apakah ia mahluk lain yang menyerupai salah satu peserta hiking? Saya terus mengajaknya berbicara agar ia mau menatap saya. Dalam pikiran saya, jika ia melirik dan saya dapati wajahnya seseram yang saya bayangkan, tongkat yang berada di tangan ini siap dilayangkan. Atau, saya akan menghujani dengan doa-doa sebisa-bisanya.

Ketika doa-doa dilafalkan dalam hati, orang itu melirik kepada saya. Alhamdulillah, ternyata benar dia Ek Ing yang tersesat. Rasanya, tersesat berdua lebih melegakan dibanding tersesat sendiri. Sayangnya, dua orang yang tersesat ini makin tersesat. Kami makin menjauh dari basecamp.

Disela itu hati saya masih menyimpan rasa was-was. Bagaimana jika diakhir cerita Ek Ing ini tiba-tiba berubah jelma. Iyyhh…

Hari makin sore. Entah jam berapa. Tak ada jam tangan, karena ini jamannya Hp. Sialnya, HP kami mati. Kabut turun, angin bertiup dingin, lamat-lamat terdengar suara mengaji yang entah dari mana.

Kami memutuskan untuk terus turun. Kemana pun arahnya, jika terus turun dipastikan tiba juga di perkampungan. Dalam pada itu saya terus mengajak Ek Ing berbincang, memastikan kalau ia bukan mahluk jadi-jadinya. Semakin lama saya semakin yakin dan percaya ia Ek Ing yang sebenarnya.

Kami melewati jalanan sempit yang menghimpit badan. Sebentar! Ini benar. Benar-benar salah jalan! Turun tak menemukan jalan, naik sudah tak memungkinkan. Mengingat lutut Ek Ing yang melemah.

“Masih kuat jalan, Ek?” Sering kali saya tanyakan itu. Lenguh lelah dibalas anggukkan. Dua kali naik, dua kali pula turun lagi. Tapi titik terang tak dijumpai pula.

Dalam frustasi, terjadi kesepakatan. Jika kondisi memaksa, kami akan bermalam di sebuah tegalan yang cukup aman. Meskipun tanpa tenda. Hanya berbekal jas hujan. Dalam renung, kami melepas lelas, sesekali kami berteriak, namun tak ada sahutan di sana.

Tak putus asa, selang beberapa saat saya berteriak-teriak lagi. Alhamdulillah, Allah menakdirkan kami bertemu dengan kelompok dua yang juga sama-sama tersesat.

Ah.. akhirnya. Tersesat berenam jauh melegakan dibandingkan tersesat berdua. Apalagi tersesat sendiri. Walhasil kami tiba di basecamp magrib. Sungguh pengalaman tak terlupakan dalam dekapan Burangrang.

Bagaimana mencapainya?

Untuk bisa menuju puncak Gunung Burangrang ada beberapa titik start pendakian. Bisa dari lembang. Bisa juga dari Cimahi seperti yang kami lakukan. Jalan yang mudah di tempuh, patokan pertamanya adalah menuju kota Cimahi, Kabupaten Bandung.

Dengan menggunakan angkot Cimahi turunlah di perempatan kolonel Masturi. Selanjutnya menuju arah Kampung Nyalindung. Sayangnya, tak ada angkutan umum untuk menuju ke sana. Alternatifnya, Anda bisa memakai ojek atau sewa angkot. Kalau mau ekstrim tanpa mengeluarkan uang, atau memberi sekedarnya, Anda bisa naik mobil bak milik petani sayuran yang sering naik turun ke kawasan itu.

Turun dari Kampung Nyalindung, tanyakan saja daerah Tanah Mati, warga setempat siap memberikan informasi/rute bagaimana cara mencapai puncak Gunung Burangrang.

Masih bersambung…

****
Saya senang sekali tulisan sederhana ini dimuat di Koran PR, Rubrik Backpaker, Edisi 1 Maret 2015. Tapi ada yang kurang senengnya, ituloh masalah fotonya, hahaha…
Dari sekian foto yang saya kirimkan banyak foto yang lagi pose sebelum naik gunung. Wajah dan pakaian masih enak diliat. Ada formasi ladies lengkap, ada foto ketua KUJ, tapi yang tayang ko malah Kang Koces (kuncen G Burangrang :D) dan kastrolnya, serta peserta yang tepar bobok siang di bawah tugu Gunung Burangrang 😀
Barangkali, justru disitu kadang saya merasa sedih seni fotonya 😉

PR- burangrang

gunung-burangrang

Tersesat di Gunung Burangrang (1)

Bagi saya, bertemu dengan orang-orang baru dan lingkungan baru, memiliki keseruan tersendiri. Ketika mudik yang tak seberapa lama itu, saya beruntung bisa bergabung di Komunitas Ulin Jarambah yang kukenal sebelumnya di sosmed.

Seperti yang telah saya ceritakan di sini dan diabadikan di sini, inilah kisah lengkapnya…

Dalam Dekapan Burangrang

Saya tak ingat pasti, kapan terakhir kemping di tanah air, mungkin sekitar 25 tahun lalu. Memang di Inggris, tempat kini bermukim, setiap musim panas saya menyempatkan kemping bersama keluarga. Tapi, kondisi dan suasananya berbeda. Kemping di camp site. Dimana listrik, internet dan fasilitas lainnya tersedia.

Maka, ketika mudik kemarin, saat Komunitas Ulin Jarambah (KUJ) mengajak saya kemping dan mendaki  Gunung Burangrang, saya langsung ambil kesempatan itu.

Kini Bandung super macet. Berkendara umum dari Kiaracondong – Cimahi, memakan waktu 2,5 jam. Ah, perjalanan ini melempar saya ke masa belasan tahun lalu. Apalagi saat tiba di meeting point, perempatan Kolonel Masturi. Saya pernah tinggal di daerah ini.

Nyaris jam 8 malam, dalam hujan, di meeting point saya jumpai 15 peserta lainnya, beragam usia. Mulai dari bocah 3 SD, remaja unyu-unyu, sampai emak-emak usia kepala 4 seperti saya.

Usia bukan halangan yang penting petualangan. Terbukti, penyambutan pertama, kami disediakan mobil bak terbuka menuju lokasi. Ah, lagi-lagi kenangan menghampiri saya.  Bahkan jaman kemping Pramuka dan PMR dulu saya terbiasa naik truk tentara.

Menuju Kampung Nyalindung jantung saya dibuat deg-degan terus. Pasalnya, jalan terus menanjak, kondisi jalan kurang bagus, malam, gelap, hujan rintik pula. Saya takut mobil tergelincir lalu masuk jurang. Atau, mobil mundur karena tak ada daya mengangkut kami.

“Tenang saja, kata supirnya, mobil bak ini pernah mengangkut dua ekor sapi perah ke lokasi yang sama,” begitu kata Mang Epul. Masih menurut Mang Epul, jika ditambah dua penumpang lagi, ekuivalen dengan berat dua sapi tersebut.

Akhirnya, kami tiba selamat di Kampung Nyalindung. Dari sana kami masih harus jalan menanjak dalam gelap dan dingin, melalui pekuburan, menuju Tanah Mati, basecamp. Sesuai namanya, tempat itu didekap pemakaman umum. Konon, setiap warga Nyalindung yang meninggal dimakamkan di sana.

Dalam gelap, tenda dipasang, api unggun dinyalakan, nasi liwet ditanak. Tanpa intruksi, tangan-tangan anak alam bergerak cepat. Tenda berdiri, api unggun menyala, makan malam ala kadarnya pun disantap.

Gelegar dan gemerecak kembang api yang mungkin berasal dari Lembang, lamat-lamat terdengar dan terlihat dari kejauhan. Di sana mereka riuh merayakan pergantian tahun 2014-2015. Sedang kami menikmatinya dalam hening dan kesahajaan.

Pagi menjelang, melipat tenda, sarapan nasi liwet sekedarnya, mulailah kami naik gunung. Menurut Kang Rudy, ketua KUJ, diperkirakan kami sampai di puncak jam 12 siang. Atau, 3 jam perjalanan. Setidaknya itu menurut pengalaman dia.

Jujur, buat emak-emak seperti saya dan anak muda yang lebih suka jalan di mall, naik Gunung Burangrang itu diluar perkiraan. Medannya sulit. Tajakannya curam, licin pula. Karena tersiram hujan beberapa hari belakangan.

Jalannya sempit. Bahkan ada yang hanya setapak kaki. Kiri kanannya jurang. Banyak pohon tumbang menghalangi jalan. Akar-akar pohon yang mungkin usianya lebih dari seabad menjadi pijakan kami. Di tengah perjalan, satu peserta cidera. Terpaksa 2 lainnya menemani turun.

Walhasil, setelah 4 jam melewati medan hebat tibalah kami di puncak Burangrang. Di ketinggian 2050 mpdl semua lelah terbayar sudah. Nampak cakrawala Bandung dari ketinggian. Terlihat petak-petak sawah menghijau, gurat-gurat jalan. Langit, awan, pepohon, elang beterbangan, udara segar. Kami bertafakur atas KuasaNYA yang sempurna.

Sejauh mata memandang, tak henti ketertakjuban. Terlihat Gunung Tangkuban perahu berselimut awan. Terlihat juga Situ Lembang yang menenangkan. Bak mangkuk alam. Dimana dinding melengkung yang mengelilingi situ itu adalah dinding dalam dari kaldera Gunung Sunda, begitu menurut Bapak Bachtiar.

Dalam naungan sejuknya puncak Burangrang kami beristirahat hanya satu jam saja. Bukan tak ingin berlama-lama di sana. Menikmati suasananya, menghirup udara segarnya, mentafakuri KuasaNYA. Ini hanya masalah waktu. Kami takut, kabut menghalau sebelum tiba di basecamp nanti.

Tersesat

Perjuangan belum usai. Naiknya penuh perjuagan, turunnya apalagi. Diperlukan ekstra tenaga dan lutut yang kuat. Apalagi kontur tanahnya menukik, menyempit, berkelok serta diapit jurang. Belum lagi jenis tanah merah seperti ini jika terguyur air menjadi sangat licin sekali. Sungguh berbahaya dan diperlukan ekstra kehati-hatian.

Saya jatuh dan tergelincir lebih dari 15 kali. Celana dan kemeja bagian pantat sudah tak jelas rupa. Telapak tangan saya yang bertugas menyangga badan saat terjatuh telah memar kebiruan. Bahkan belakangan saya sadari kuku jempol kaki kanan saya nyaris terlepas. Hingga kini berbekas biru kehitaman. Saking beratnya menahan beban badan yang terus turun menukik lima jam lamanya. Tak apalah anggap saja ini sebuah tanda mata yang manis untuk dikenang.

Menghitung jatuh dan tergelincir merupakan hiburan dan keseruan tersendiri diantara kami. Jika saya kurang dari 20 kali, teman saya ada yang lebih dari 20 kali jatuh tergelincir.

Awalnya kami turun bersamaan. Tapi kemudian terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama bergerak cepat mengikuti langkah dua bocah ajaib. Akmal dan Fikri. Kakak beradik kelas 1 SMP dan 3 SD, anaknya Mang Epul.

Saya masuk kelompok dua, bersama 4 orang lainnya. Maklum, faktor usia. Selambat-lambatnya saya berjalan, masih ada peserta lainnya yang lebih lambat. Itu karena ia mengalami cedera. Mungkin di sini Tuhan mengajari saya tentang arti kesabaran dan kesetiakawanan. Merasa kesal dan sok berani, akhirnya saya memutuskan diri bergerak cepat menyusul kelompok pertama.

Sayang, meski saya mengejar tanpa henti, sekuat tenaga dan penuh keberanian, kelompok satu tak terkejar. Sedang kelompok dua ditinggalkan jauh di belakang. Lebih dari satu jam saya berjalan sendiran dengan medan yang ekstrim dan dalam hening.

Saya rasa, saya salah arah. Tersesat. Saya dilanda ketakutan. Di sepanjang jalan tak henti berdoa. Rasanya mencekam sekali. Apalagi kabut mulai turun. Kini saatnya saya untuk berteriak. Berharap ada manusia lain selain saya di sana. Panik mulai melanda. Rasanya ingin menangis kencang.

Setelah beberapa kali berteriak, akhinya ada sahutan. Bulu kuduk saya berdiri. Antara senang, lega, tapi juga was-was. Takut ia orang asing, atau mungkin mahluk asing, semacam mahluk astral sebangsa dedemit atau apalah itu.

Dengan hati berkecamuk dan diiringin doa sekencang mungkin di dalam hati, segera saya ikuti arah suara. Dari kejauhan, terlihat seseorang duduk membelakangi saya. Lelaki berjaket hitam, berpenutup kepala itu menantap jurang di depannya. Serta merta saya utarakan ketersesatan saya. Rupanya, ia pun sama. Tersesat. Tertinggal dari kelompok pertama.

Anehnya, orang itu tak juga melirik pada saya. Hingga terlintas dalam benak saya. Apakah ia mahluk lain yang menyerupai salah satu peserta hiking? Saya terus mengajaknya berbicara agar ia mau menatap saya. Dalam pikiran saya, jika ia melirik dan saya dapati wajahnya seseram yang saya bayangkan, tongkat yang berada di tangan ini siap dilayangkan. Atau, saya akan menghujani dengan doa-doa sebisa-bisanya?….

Bagaimana kelanjutan ceritanya? sy lanjutkan, silakan merapat.
Telah dimuat di Koran Pikiran Rakyat, Rubrik Backpaker, terbit hari ini 1 Maret 2015.

PR- burangrang

 

Kuis GA Buku Jelajah Inggris

Dalam rangka promo Buku Traveling Jelajah Inggris, saya mau ngadain kuis GA nih.
cover buku jelajah inggris

Adapun pertanyaannya, berikut ini:

1. Siapakah pencipta tokoh Sherlock Holmes?
2. Apakah nama makanan khas orang Cornwall?
3. Era Victoria, ialah jaman Ratu Victoria berkuasa. Pada tahun berapa kah itu?
4. Anda tahu CS Lewis dan JRR Tolkien atau pencipta tokoh Narnia dan Hobbit? Semasa muda, mereka pernah tinggal di kota kecil yang terkenal akan perbukitannya. Di sana pulalah penulis buku Jelajah Inggris pernah tinggal. Apakah nama kota kecil tersebut?
5. Sebutkan nama jalan/kawasan perniagaan bernuansa islami di Kota Birmingham.

1. Jawaban dikirim melalui “Message” (DM) Twitter:https://twitter.com/rosmeryashalba.
2. Peserta kuis harus mem-follow penulis terlebih dahulu.
3. Kirim jawaban selambatnya hari Minggu, 28 September 2014 jam 23.59 BST (British Summer Time) aka Senin, 29 Sept 2014 jam 5.59 WIB.
4. Setelah mengirim jawaban, silakan twitt:
ikutan @kuisgiveawaybukujelajahinggris
Mention https://twitter.com/rosmeryashalba dan Elex Media

Penulis menyediakan 4 buku untuk 4 pemenang.
Pengumuman pemenang Hari selasa, 30 September 2014.

Buat anda yang telah memiliki buku #jelajahinggris pasti bisa menemukan semua jawaban di atas.
Tapi, jangan khawatir, buat yang belum memiliki buku tersebut, bocorannya ada di di twitter saya. Makanya buruan follow.

Salam manis selalu 😀
Rosmel