Semenjak di tinggal di sini, jadi suka nasi briyani euy..
Soalnya kalo ke Resto Asia Selatan, ini masih jadi udah familiar aja di lidah.
Dulu kirain bikinnya susah, tapi ternyata enggak juga tuh.
Soalnya udah praktekin sendiri.
Tapi ya.. ala-ala saya gitu…
Mau tahu cara bikinnya?
Intip di sini!
Sebagai tukang jalan, bagi saya, tas adalah barang yang sangat esensial untuk dibawa.
Dan bagi saya, tas jalan itu ya ransel. Bukannya apa, soalnya kalau tas selempang kadang pegel aja bawanya gitu, udah gitu gak bisa memuat banyak barang, gak seimbang pula karena talinya cuman satu. Slempang kiri-slempang kanan, bergantian. Kalau perjalanan gak begitu jauh sih okey-okey aja.
Tas tenteng pun, saya kurang suka. Kecuali menghadiri acara resmi dong ya?
Jalan bawa tas tenteng ala-ala ibu-ibu itu bawanya ribeud, bok. Karena kalau bawa tas tenteng pasti tangan satu gak bisa lepas dari tas. Sedangkan yang dimaksud “jalan” disini adalah jalan sambil nyari “bahan”. Bahan apa? bahan yang satu ini nih 😉. Yang pastinya kedua tangan saya harus free gak nenteng apapun. Karena harus siap siaga pegang kamera begitu nemu objek tertentu.
Makanya kalau kamu liat foto jalan saya di IG ataupun video saya di NET_CJ 95%nya nemplokin ransel di punggung.
Ransel seperti apakah yang asik dibawa jalan?
Pertama, ukurannya harus pas sesuai kebutuhan.
Acara “jalan” setengah hari atau seharian, tentunya tidak sama dengan ransel yang diperlukan untuk beberapa hari jalan, ya kan?
Kedua, pilih model yang sesuai dengan yang kamu sukai.
Beneran, kalau kita pake sebuah barang, apapun itu, kalau kita suka modelnya, pasti dipakenya juga lebih PD.
Ketiga, bukan hanya modelnya bagus tapi juga kualitasnya bagus.
Kualitas bagus salah satu penentunya ialah materialnya yang bagus juga proses produksinya yang bagus.
Sering kali, kalau barang itu punya “merek” biasanya itu bisa dijadikan jaminan mutu.
Masih masuk dalam kualitas bagus ialah ransel itu bandel aka tahan lama alias gak rusak-rusak 😀
Keempat, modelnya sesuai dengan tema “jalan” kita.
Kenapa? karena ransel-ransel jaman sekarang makin banyak modelnya yang disesuaikan dengan kebutuhan kita.
Misal, ransel kerja tentunya gak sama dengan ransel gunung dong ya?
Yaealah… 😉
Dari keempat hal di atas itu, saya sering menggunakan tas ransel yang berikut ini:
Lokasi: China Town London
Saya memilih ransel ini karena memenuhi 4 kriteria di atas tadi. Ukurannya pas sesuai kebutuhan kami (saya dan suami). Kalau kami travel ke London, dari pagi hingga malam banyak tempat yang kami jajal untuk dijadikan liputan. Alhamdulillah seperti beberapa waktu lalu, sekali kayuh 2-3- 5-7 objek terlampui. Sehingga segala kebutuhan kita mampu ditampung di ransel segede gitu doang itu. Pakaian, makanan-minuman, peralatan rekam dan tektek bengek lainya. Termasuk laptop. Mulai dari Sabtunya ke Oxford, minggunya ke London.
Modelnya saya suka banget. Keren aja gitu. Bentuknya juga ngotak, sehingga penyusunan barang-barang di dalamnya lebih rapi teratur. Udah gitu, banyak bagian-bagiannya yang terdiri dari belasan kantong didalamnya, termasuk buat printilan yang kecil-kecil seperti untuk bolpen dll). Sehingga tempat laptop, tempat dokumen, tempat makanan, tempat minum, tempat dompet, tempat alat make-up (hayah.. maksudnya bedak, lipstik, pelembab, hand sanitizer dll) punya tempat tersendiri. Total jendral, ransel ini memuat 16L barang bawaan.
Tentunya selain modelnya bagus kualitasnya juga bagus. Padahal itu tas udah dibawa kemana-mana, Indonesia-UK. Bebannya pun berat, sampe tripod dan stabilizer kamerapun menjadi penghuni tetapnya, tapi ranselnya bandel karena emang jahitannya kuat. Bahannya juga bikin gak kusut serta gak mudah kotor karena berbahan polyester. Kalau kotor kena goresan lumpur, tinggal dilap pake lap basah aja, beres.
Model kayak gitu tuh bisa masuk ke acara resmi, juga bisa dipake “jalan” santai. Buktinya waktu liputan Indonesian Regal Heritage beberapa waktu lalu di kampus Oxford, ransel ini cucok diajak masuk ke “dalam”.
Saking seringnya pake ransel ini kemana-mana sampai-sampai gak sadar kalau setiap kali PTC/oncam alias nampang kamera, itu ransel nemplok terus di punggung, seperti beberapa video berikut ini yang diambil di hari yang sama, kunjungi pasar Portobello London, kemudian berlanjut ke musim semi Jepang Rasa Inggris dan liputan paska kejadian serangan teror di Westminster Abbey London.
Minggu lalu, sebuah gelaran bertema Indonesia Regal Heritage digelar di salah satu kampus Oxford yang terkenal itu. Atas undangan ketua penyelenggara dari Gapura Ltd, Ibu Beth dan undangan dari President PPI Oxford, Sandoko Kosen merapatlah saya ke TKP di hari Jumat.
Worcester-Oxford ditempuh 1,5 jam dalam cuaca yang cukup bersahabat. Tiba di TKP kami langsung memasuki ruang MBI Al Jaber Auditorium, Corpus Christi College, Oxford.
Acara demi acara berlangsung cepat, dimulai Pembukaan oleh Ketua Penyelenggara Acara, Ibu Beth lalu disambung Transforming Indonesian Craftsmanship from Traditional to Contemporary by Benny Adrianto. Dilanjut Translating Indonesian Fashion and Heritage into Modern Fashion by Ghea Panggabean. Kemudian The Art of Indonesian Flavor by Petty Elliott dan ditutup The Exotic Sound of Saluang by Otti Jamalus sebelum akhirnya kami nikmati makan siang.
Acara makan siang, kami menempati dinning hall yang ada di campus tersebut. Tau dong, dinning hallnya Campus Oxford seperti apa? Yap, seperti dinning hallnya di film Harry Potter.
Usai makan siang, kami kembali ke ruang MBI Al Jaber Auditorium. Hmm, ada satu tanya tentang nama ruangan ini karena cukup menarik bagi saya. Nanti saya cari tahu deh. Kembali kami duduk manis dan menyimak presentasi dari Pa Sonny Tjahya dari Rumah Pesona Kain Ike Bakrie tentang kain ikat Geringsing.
Disela itu, mata saya menemukan sesuatu yang menarik di pojokan ruang. Sesosok bule, berpakain jawa, berblangkon, duduk bersila di depan perangkat gamelan. Eh, itu Pak Parto kah? Bisik-bisik.. ternyata betul. Beliau adalah guru gamelan yang sudah berkecimpung dengan gamelan lebih dari 20 tahun lamanya.
Beberapa waktu lalu, saya cuman bisa lihat liputannya di video BBC Indonesia yang durasinya sangat pendek namun viral itu. Setelah makin viral, saya pernah tonton lagi wawancara beliau bersama Mba Endang dan Mas Susilo di laman Facebook live. Betapa orangnya asik diajak ngobrol.
Acara berlanjut presentasi Era Soekamto dari Iwan Tirta Private Collection yang diakhiri pagelaran busana yang “wah” banget. Lebih “wah” lagi karena iringan musiknya bukan iringan musik modern, bukan dari CD pula. Melainkan live gamelan. Dimana Happy Salma ikut berlenggak-lenggok bersama peragawati lainnya.
Di acara puncak, kami terpukau penampilan sendra tari Matah Ati kreasi seniman besar ibu Atilah Soeryadjaya. Sendra tari lebih hidup dan berjiwa tak lepas dari iringan live gamelan dari tangan Pak Peter n crew tentunya. Pertunjukan haru seru ditutup aplaus yang sangat meriah luar biasa.
Usai pertunjukkan, saya hampiri Pak Pete untuk sekadar obrol-obrol sebentar. Beliau menyambut ramah ajakan saya dengan bahasa jawanya yang sangat kental, waduh… kamus mana kamusss….. (bukan kamus inggris, kamu jawa) 😀
Kurang lebih beliau bilang, bentar ya, saya ganti baju dulu. Anda dari mana? namanya siapa dan bla bla bla dalam bahasa jawa (terjemahan ngira-ngira) 😀
Saya jawab, ngak usah ganti baju dulu pa, biar keliatan jawanya, hehehe..
Lagi-lagi beliau menimpali guyonan dengan bahasa jawa (kamus…. ) 😛
Singkat kata, setelah Pak Pete terhenti-henti karena sapa-sapa dengan yang lain akhirnya kami bisa duduk manis di depan pelataran gedung pertunjukkan.
Ah, hangattt…. tumben-tumbenan hari itu matahari bersinar terang. Alhamdulillah.
Disela obrol-obrol kerap kali Pa Pete menjawabnya dalam bahasa jawa, meski saya tak paham tapi saya menikmatinya 😀
Jadi serasa ngobol sama mbah-mbah di Solo 😀
Pendek kata, Pa Pete ini orangnya nyenengin, asik diajak ngobrol ngaler ngidul 🙂
Asli, Pa Pete ini ramah banget orangnya.
Usai wawancara obrolan berlanjut santai. Dan ternyata permisah.. rumah bapaknya Pak Pete gak jauh dari kampung saya. Saya di Worcester bapane Pa Pete di Hereford. Yo wis pa, klo sampeyan sowan ke rumah bapane mampir wuster ngih pa? 😉
Dan liputan saya itupun tayang di NET TV program berita NET12 kemarin. Berikut ini youtubenya. Eh, maap ya.. mimin IT NET typo, mustinya Peter Smith 😉