Satu Tas Untuk Semua Destinasi

Sebagai tukang jalan, bagi saya, tas adalah barang yang sangat esensial untuk dibawa.
Dan bagi saya, tas jalan itu ya ransel. Bukannya apa, soalnya kalau tas selempang kadang pegel aja bawanya gitu, udah gitu gak bisa memuat banyak barang, gak seimbang pula karena talinya cuman satu. Slempang kiri-slempang kanan, bergantian. Kalau perjalanan gak begitu jauh sih okey-okey aja.

Tas tenteng pun, saya kurang suka. Kecuali menghadiri acara resmi dong ya?
Jalan bawa tas tenteng ala-ala ibu-ibu itu bawanya ribeud, bok. Karena kalau bawa tas tenteng pasti tangan satu gak bisa lepas dari tas. Sedangkan yang dimaksud “jalan” disini adalah jalan sambil nyari “bahan”. Bahan apa? bahan yang satu ini nih 😉. Yang pastinya kedua tangan saya harus free gak nenteng apapun. Karena harus siap siaga pegang kamera begitu nemu objek tertentu.

Makanya kalau kamu liat foto jalan saya di IG ataupun video saya di NET_CJ 95%nya nemplokin ransel di punggung.

Ransel seperti apakah yang asik dibawa jalan?

Pertama, ukurannya harus pas sesuai kebutuhan.
Acara “jalan” setengah hari atau seharian, tentunya tidak sama dengan ransel yang diperlukan untuk beberapa hari jalan, ya kan?

Kedua, pilih model yang sesuai dengan yang kamu sukai.
Beneran, kalau kita pake sebuah barang, apapun itu, kalau kita suka modelnya, pasti dipakenya juga lebih PD.

Ketiga, bukan hanya modelnya bagus tapi juga kualitasnya bagus.
Kualitas bagus salah satu penentunya ialah materialnya yang bagus juga proses produksinya yang bagus.
Sering kali, kalau barang itu punya “merek” biasanya itu bisa dijadikan jaminan mutu.
Masih masuk dalam kualitas bagus ialah ransel itu bandel aka tahan lama alias gak rusak-rusak 😀

Keempat, modelnya sesuai dengan tema “jalan” kita.
Kenapa? karena ransel-ransel jaman sekarang makin banyak modelnya yang disesuaikan dengan kebutuhan kita.
Misal, ransel kerja tentunya gak sama dengan ransel gunung dong ya?
Yaealah… 😉

Dari keempat hal di atas itu, saya sering menggunakan tas ransel yang berikut ini:

Ransel keren
Lokasi: China Town London

Saya memilih ransel ini karena memenuhi 4 kriteria di atas tadi. Ukurannya pas sesuai kebutuhan kami (saya dan suami). Kalau kami travel ke London, dari pagi hingga malam banyak tempat yang kami jajal untuk dijadikan liputan. Alhamdulillah seperti beberapa waktu lalu, sekali kayuh 2-3- 5-7 objek terlampui. Sehingga segala kebutuhan kita mampu ditampung di ransel segede gitu doang itu. Pakaian, makanan-minuman, peralatan rekam dan tektek bengek lainya. Termasuk laptop. Mulai dari Sabtunya ke Oxford, minggunya ke London.

Modelnya saya suka banget. Keren aja gitu. Bentuknya juga ngotak, sehingga penyusunan barang-barang di dalamnya lebih rapi teratur. Udah gitu, banyak bagian-bagiannya yang terdiri dari belasan kantong didalamnya, termasuk buat printilan yang kecil-kecil seperti untuk bolpen dll). Sehingga tempat laptop, tempat dokumen, tempat makanan, tempat minum, tempat dompet, tempat alat make-up (hayah.. maksudnya bedak, lipstik, pelembab, hand sanitizer dll) punya tempat tersendiri. Total jendral, ransel ini memuat 16L barang bawaan.

Tentunya selain modelnya bagus kualitasnya juga bagus. Padahal itu tas udah dibawa kemana-mana, Indonesia-UK. Bebannya pun berat, sampe tripod dan stabilizer kamerapun menjadi penghuni tetapnya, tapi  ranselnya bandel karena emang jahitannya kuat. Bahannya juga bikin gak  kusut serta gak mudah kotor karena berbahan polyester. Kalau kotor kena goresan lumpur, tinggal dilap pake lap basah aja, beres.

Model kayak gitu tuh bisa masuk ke acara resmi, juga bisa dipake “jalan” santai. Buktinya waktu liputan Indonesian Regal Heritage beberapa waktu lalu di kampus Oxford, ransel ini cucok diajak masuk ke “dalam”.

Saking seringnya pake ransel ini kemana-mana sampai-sampai gak sadar kalau setiap kali PTC/oncam alias nampang kamera, itu ransel nemplok terus di punggung, seperti beberapa video berikut ini yang diambil di hari yang sama, kunjungi pasar Portobello London, kemudian berlanjut ke musim semi Jepang Rasa Inggris dan liputan paska kejadian serangan teror di Westminster Abbey London.

Ini Dia Pria Inggris, Guru Gamelan yang Fasih Berbahasa Jawa Itu

Minggu lalu, sebuah gelaran bertema Indonesia Regal Heritage digelar di salah satu kampus Oxford yang terkenal itu. Atas undangan ketua penyelenggara dari Gapura Ltd, Ibu Beth dan undangan dari President PPI Oxford, Sandoko Kosen merapatlah saya ke TKP di hari Jumat.

Worcester-Oxford ditempuh 1,5 jam dalam cuaca yang cukup bersahabat. Tiba di TKP kami langsung memasuki  ruang MBI Al Jaber Auditorium, Corpus Christi College, Oxford.

Acara demi acara berlangsung cepat, dimulai Pembukaan oleh Ketua Penyelenggara Acara, Ibu Beth lalu disambung Transforming Indonesian Craftsmanship from Traditional to Contemporary by Benny Adrianto. Dilanjut Translating Indonesian Fashion and Heritage into Modern Fashion by Ghea Panggabean. Kemudian The Art of Indonesian Flavor by Petty Elliott dan ditutup The Exotic Sound of Saluang by Otti Jamalus sebelum akhirnya kami nikmati makan siang.

Acara makan siang, kami menempati dinning hall yang ada di campus tersebut. Tau dong, dinning hallnya Campus Oxford seperti apa? Yap, seperti dinning hallnya di film Harry Potter.

Dinning Hall kampus oxford

Untuk mengetahui segala sesuatu tentang Oxford yang telah saya lipu bisa diintip di serba-serbi Oxford berikut ini.

Usai makan siang, kami kembali ke ruang MBI Al Jaber Auditorium. Hmm,  ada satu tanya tentang nama ruangan ini karena cukup menarik bagi saya. Nanti saya cari tahu deh. Kembali kami duduk manis dan menyimak presentasi dari Pa Sonny Tjahya dari Rumah Pesona Kain Ike Bakrie tentang kain ikat Geringsing.

Disela itu, mata saya menemukan sesuatu yang menarik di pojokan ruang. Sesosok bule, berpakain jawa, berblangkon, duduk bersila di depan perangkat gamelan. Eh, itu Pak Parto kah? Bisik-bisik.. ternyata betul. Beliau adalah guru gamelan yang sudah berkecimpung dengan gamelan lebih dari 20 tahun lamanya.

Beberapa waktu lalu, saya cuman bisa lihat liputannya di video BBC Indonesia yang durasinya sangat pendek namun viral itu. Setelah makin viral, saya pernah tonton lagi wawancara beliau bersama Mba Endang dan Mas Susilo di laman Facebook live. Betapa orangnya asik diajak ngobrol.

Acara berlanjut presentasi Era Soekamto dari Iwan Tirta Private Collection yang diakhiri pagelaran busana yang “wah” banget. Lebih “wah” lagi karena iringan musiknya bukan iringan musik modern, bukan dari CD pula. Melainkan live gamelan.  Dimana Happy Salma ikut berlenggak-lenggok bersama peragawati lainnya.

Di acara puncak, kami terpukau penampilan sendra tari Matah Ati  kreasi seniman besar ibu Atilah Soeryadjaya. Sendra tari lebih hidup dan berjiwa tak lepas dari iringan live gamelan dari tangan Pak Peter n crew tentunya. Pertunjukan haru seru ditutup aplaus yang sangat meriah luar biasa.

Usai pertunjukkan, saya hampiri Pak Pete untuk sekadar obrol-obrol sebentar. Beliau menyambut ramah ajakan saya dengan bahasa jawanya yang sangat kental, waduh… kamus mana kamusss….. (bukan kamus inggris, kamu jawa) 😀
Kurang lebih beliau bilang, bentar ya, saya ganti baju dulu. Anda dari mana? namanya siapa dan bla bla bla dalam bahasa jawa (terjemahan ngira-ngira) 😀

Saya jawab, ngak usah ganti baju dulu pa, biar keliatan jawanya, hehehe..
Lagi-lagi beliau menimpali guyonan dengan bahasa jawa (kamus…. ) 😛

Singkat kata, setelah Pak Pete terhenti-henti karena sapa-sapa dengan yang lain akhirnya kami bisa duduk manis di depan pelataran gedung pertunjukkan.
Ah, hangattt…. tumben-tumbenan hari itu matahari bersinar terang. Alhamdulillah.

Disela obrol-obrol kerap kali Pa Pete menjawabnya dalam bahasa jawa, meski saya tak paham tapi saya menikmatinya 😀
Jadi serasa ngobol sama mbah-mbah di Solo 😀
Pendek kata, Pa Pete ini orangnya nyenengin, asik diajak ngobrol ngaler ngidul 🙂
Asli, Pa Pete ini ramah banget orangnya.

Usai wawancara obrolan berlanjut santai. Dan ternyata permisah.. rumah bapaknya Pak Pete gak jauh dari kampung saya. Saya di Worcester bapane Pa Pete di Hereford. Yo wis pa, klo sampeyan sowan ke rumah bapane mampir wuster ngih pa? 😉

Bule yang cinta indonesia

Dan liputan saya itupun tayang di NET TV program berita NET12 kemarin. Berikut ini youtubenya. Eh, maap ya.. mimin IT NET typo, mustinya Peter Smith 😉

Nah, kalau yang ini, versi uncut-nya.

SKSD Sama Kevin – Markus Juara All England 2017

Alow.. alow….

Udah lama ngak kutak-ketik di blog euy. Maklum, emak yang satu ini (sok) sibuk. Dari hari ke harinya adaa.. aja yang dikerjain. Kayak sehabis pengajian bulanan lalu, besoknya jalan bareng sama emak-emak lainnya hiking ke Malvern Hills, tempat tinggalku dulu. Dan sepulang dari hills kembali bermarkas di rumah, hingga bubaran sehabis makan malam. Moment ngumpul-ngumpul gini nih yang bikin asik buat kami-kami para diaspora.

Besoknya, bersama salah seorang MahMud aka Mamah Muda kece yang nginep di rumah, pergilah kami ke Kota Gloucester, kelayapan hingga sore hari.

Sepulang mantan dari dines LN, weekendnya jatah kelayapan buat nyari bahan liputan dong. Teuteup..

Minggu berikutnya berlangsunglah gelaran All England seminggu penuh. Kembalilah saya wara-wiri Worcester-Birmingham. Mulai di hari pertama pembukaan All England. Udah gitu, nontonnya sambil bawa bocah-bocah yang tentunya riweuh-riweuh seru. Hingga semifinal dan final, yang tentu saja serieus ngeliputnya bareng partner in crime nongkrongin Barclaycard Arena tempat dilangsungkannya All England. Mayan, liputannya langsung masuk TV keesokan harinya.

Ngomongin badminton, ngeliput All England bukanlah sebuah beban, walaupun effordnya besar. Karena si mantan, my partner in crime inipun pemain badminton pula. Dulu doi gila badminton banget. Seminggu bisa tiga kali badminton. Senin, Rabu, Jumat. Makanya, segala sesuatu berbau badminton, dia mah antusias banget. Apalagi pas liputan semi final n final.

Pas ngerayain kemenangan semifinal kami kan makan-makan sama jagoan-jagoan All England kita tuh.. Deuh, si doi mepet koh Hendra, Kevin n Markus terus. Belum lagi pas final. Sehabis liputan, doi kawal terus Kevin n Markus sampe ke hotel tempat mereka menginap yang kebetulan emang parkiran mobil kami berada di belakang hotel para Atlet All England kita. Sambil SKSD chit-chat sama Kevin ngulas permainan si atlet muda ini. Udah kayak coachnya aja doi 😀

Hendra Atlet Badminton Indonesia
Kokoh Hendra dan Kokoh Ade 😀

Markus-Kevin-Markis Kido

Ngomongin badminton, si mantan ini emang nge-fans sama atlet-atlet Indonesia. Makanya, gak heran kalo setiap All England menyempatkan diri mejeng sama sang Atlet. Foto atas, juara All England 2017, Kevin-Markus. Sedangkan bawah All England 2014, Markus-Markis. Foto diambil ketika kami lagi duduk manis di cafe shop tetiba dua atlet kita ini berjalan depan kami, dari hotel menuju Arena All England. Jarak 3 tahun, Markus tak mengalami perubahan. Sedangkan sang mantan? hmm…. 😀

Sekarang, karena kesibukan kerja yang mana sering bolak balik Selasa-Kamis kerja di Munich dan sisanya balik kandang, jatah badminton doi cuman di hari Jumat malam doang.

Dulu, waktu doi gila badminton, itu yang namanya perlengkapan badminton beserta tek-tek bengeknya kerap kali dia beli. Kaos badminton gak keitung banyak. Raketnya, grip raket, dan lain sebagainya. Bahkan senarpun doi nyetok sendiri. Jadi kalo raket putus langsung dia pasang sendiri. Alat pasang senar ini mayan juga harganya. Maka dari itu, doi sekalian terima orderan pasang senar, haha..  dasar!

Trus soal sepatu, kupikir, sepatu mah sepatu apa aja kali ya? Etapi ternyata ngak gitu juga. Soal sepatu badminton doi mah punya standar khusus. Ya kudu sepatu sport dong, say. Tepatnya sepatu khusus untuk badminton. Udah gitu, stok sepatunya gak cuman satu pula. Benaran si bapak ini hambur banget sama sepatu badminton. Tapi gak papa juga sih. Karena sejatinya bapak-bapak itupun harus diberi ruang untuk menyenangkan dirinya sendiri. Asal positip dong ya? 😀

Soklah, main badminton sana. Biar bisa jadi juara lagi 😉 😀

Mantan atlet badminton

Mantan juara Badminton kecamatan Worcester Inggris 😛

Info Seputar Locker di Bandara

Di postingan lalu, saya ceritakan tentang kepulangan saya ke Inggris yang penuh drama di link berikut ini:

Rekor, Perjalanan Indonesia-Inggris 2,5 hari.

Di postingan tersebut, saya harus habiskan waktu 7 jam di bandara sebelum terbang ke Inggris memeluk orang-orang terkasih yang selama sebulan itu saya tinggalkan.

7 jam? di bandara? kebayangkan kan kesel bin BTnya minta ampun.

Waktu itu, saya berpikir, hmm.. baiknya saya ke kost’an sepupu saja aja dulu. Mayan kan bisa rebahan, tiduran, makan-makan atau jalan-jalan mungkin. Atau, janjian ketemuan sama teman.

Dalam memikirkan hal itu, saya berpikir, ngak mungkin kan saya membawa koper sebanyak dan seberat ini. 2 koper besar (bagasi), satu koper kecil (kabin) dan sebuah ransel. Klo ransel mah enteng, saya gak bisa travel tanpa nemplokin benda yang satu ini di punggung saya.

Baiklah, hal pertama yang harus saya lakukan adalah, mencari informasi. Setahu saya, kalau di bandara luar negeri ada locker tempat penitipan koper. Harusnya di Bandara Soeta juga ada dong ya? Iya dong.

Saya hampiri meja informasi. Oh, ternyata ada di lantai bawah. Bergegaslah saya menuju lift yang harus melewati pintu bandara. Adempun berganti panas. Waktu itu, waktunya musim umroh, maksudnya, Desember-Januari itu memang peminat umroh cukup membludak sehingga saya harus menunggu antrian lift. Dimana dari dua lift hanya satu yang beroperasi. Yang mana masing-masing orang membawa troley pula seperti halnya saya.

Tiba di bawah, saya clingukan. Saya pikir konter atau tempat locker penitipan koper itu gede. Taunya kecil banget 😀
Letaknya dekat terminal kedatangan Internasional (terminal 2)

Saya pun masuk dan coba bertanya berapa tarifnya, mudah-mudahan gak mahal dan mudah-mudahan bisa itungannya per jam.

Ternyata, ngitungnya per hari alias per 24 jam. Walaupun sebenernya saya cuma mau nitipin sekitar 5-6 jam doang. Tapi ya gimana ya.. ya sutralah..

Petugas: Ditimbang dulu yang bu!
Saya       : saya?
Petugas: kopernya bu! 😀
Oh… 😀

Saya pikir, itungannya total berat barang bawaan. Taunya ditimbang per-koper.
Bentar, saya cari bukti slipnya tapi kok ya ilang.
Seingat saya, total saya bayar 115k apa 135k gitu. Dengan rincian, 1 koper L, 2 koper M.
Karena itungan berat koper berdasarkan ukuran S, M, L, EL (kayak ukuran baju ya?) 😀

Small             =    0 – 10kg
Medium        = 11 – 20kg
Large             = 21 – 30kg
Extra Large = 31 – 50kg

Nah, soal harga per-kriteria itu yang saya lupa, klo liat websitenya urutannya 25k, 35k, 45k, 55k (2011).
Duh, sayang slipnya gak tau nyelip dimana, biasanya saya tertib loh dalam pengarsipan. Mungkin karena waktu itu saya BT kali ye.. Ntar klo slipnya ketemu n ada ketidakcocokan tarif, nanti saya koreksi.

Kalau ada pembaca yang mengalami hal serupa dengan saya (nitip di locker Bandara Soeta) boleh dikoment ya kaka…

Tempat penitipan barang di bandara

Anyway, ketiga koper itupun saya titipkan, plus bonus, jaket Eiger, si jaket kojo itupun saya titipkan pula. Setelah slipnya saya masukin ke ransel Eiger yang juga ransel kojo melengganglah saya dengan bebas dan ringan.

Ransel keren

Setelah itu, hal pertama yang saya lakukan adalah makan dulu. Di salah satu resto cepat saji yang ada di Bandara Soeta. Sambil kontak-kontakan dengan sepupu saya yang kerja di Jakarta. Jauh dari bandara sih, sekitar 40 menit perjalanan. Tapi tak mengapa, tadinya mau sekedar ngaso bentar di rumahnya dia. Etaunya beliau lagi dinas ke luar kota.

KFC Bandara

Hmm.. yasud. Dengan dititipkannya koper tersebut saya jadi bebas ke toilet. Tadinya sempet berpikir ini troley isi 3 koper klo sy ke toilet pengimane urusannya? trus klo mau sholat pegimane pula urusannya?

Dengan dititipkannya ketiga koper itu kan saya jadi khusuk sholat di mushola bandara sambil leyeh-leyeh santai di dalam bandara.

Ruang tunggu bandara
Ngaso dulu ah.. untung sepatu dan celana panjangnya nyaman dipake jarah jauh.

Singkat cerita, selang beberapa jam kemudian, saya pikir, sudah waktunya saya check in.

Saya ambilah ketiga koper itu di tempat penitipan barang aka Left Baggage Service atau istilah lainnya locker.

lalu, chek in lah saya.

Dan taukah pemirsah? drama ketinggalan passport berPermanent Resident yang tertinggal di Bandung itu? Kalau belum tau tragedinya, silakan baca dulu artikel berikut ini 😀

Seperti kesimpulan drama di malam itu, akhirnya saya memutuskan menginap di rumah emak. Dan tau dong, betapa rempongnya bawa-bawa 3 koper ini. Akhirnya, saya kembali ke tempat Penitipan Barang aka Left Baggage bin Locker.

Maksud saya, penitipan barang di sana itu kan berlaku 24 jam. Nah, tadi kan saya cuma nitipin sekitar 5 jam doang. Saya pikir, boleh dong nerusin yang tadi 😀

Ealah.. tapi tak begitu kawan. Katanya, karena saya sudah menandatangi pengambilan barang. Kalau mau nitip lagi harus bikin slip baru lagi dan bla.. bla.. bla…

Baiklah, ketiga koper itupun kubawa keluar bandara, padahal besok bakal kesini lagi pulak.

Bener ya, pengalaman itu gak selalu harus manis, sesekali miliki pengalaman ngenes seperti ini tuh bikin hidup makin hidup. Bikin kita mangkin banyak tau segala hal.

Satu hal lainnya, saya jadi bisa berbagi informasi kepada Anda. Semisal kamu transit di Bandara Soeta terus mau travel kemana dulu gitu tanpa rempong bawa koper gede, titipin aja di sini.