Kuliner Libanon di Bristol Inggris, Round Four, Cukup Untuk 7 Perut

Sebagai kota besar, penduduk Bristol, Inggris terdiri dari berbagai ras dan berbagai negara asal. Maka tak heran jika di Bristol banyak terdapat restoran dengan cita rasa yang sangat beragam. Restoran bercita rasa Asia, Afrika, Italia, Timur Tengah dan lain sebagainya.

Nah, salah satu restoran bercita rasa Timur Tengah itu diantaranya ialah Restoran Lona yang menyajikan kuliner bercita rasa Libanon. Seperti halnya makanan Timur Tengah lainnya, di restoran libanon ini menunya banyak menawarkan sajian berbahan dasar daging kambing dan kelebihannya, semua sajian kambing di restoran ini tidak berbau kambing, dagingnya empuk dan rasanya enak.

Restoran ini berkonsep open kitchen sehingga kita bisa melihat secara seksama mereka mengolah makanan yang kita pesan. Open kitchennya terletak di samping ruang resto, dekat pintu masuk. Disana tersaji aneka daging (kambing, ayam, sapi, udang, ayam) dalam etalase kaca nan panjang, rapi dan bersih. Serta dua tusuk kebab (kambing dan ayam) super jumbo yang  tak henti berputar agar tetap hangat di open kitchen tersebut.

Menu yang ditawarkan beragam, dengan harga yang bervariasi mulai dari yang termurah berupa makanan pembuka seharga £2,50 (sekitar 50.000 rupiah) sampai yang termahal seharga £69,95 (sekitar 1.650.000 rupiah). Mahal? tidak juga! karena menu super jumbo ini merupakan paket makan bersama dalam sebuah wadah yang sangat besar.

Paket makan seperti ini tidak asing lagi bagi kuliner timur tengah, dimana mereka biasa makan rame-rame dalam satu wadah besar secara bersama-sama. Kami pun memesan makanan yang tertulis di menunya: “Lona round four”

Meski menu tersebut diseting untuk 4 orang namun sungguh diluar batas kemampuan makan orang Indonesia seperti kita ini. Walhasil satu nampan keramik itu habis oleh kami ber-7 orang dewasa.

Adapun isi dari nampan keramik super jumbo itu diantaranya: lapisan bawah berupa dua macam nasi (nasi gurih berwarna putih dan nasi kuskus berwarna kecoklatan), kentang goreng dan irisan kebab kambing serta ayam.

Lapisan kedua dan ketiga disusun chiken wing, chiken musahab, chiken kofta, lamb kufta, lamb mashwi, lamb arayas, shish taouk, iga sapi, ikan salmon, udang jumbo, serta potongan daging kambing, kesemuanya dibakar.

Pokoknya wuih.. menumpuk tinggi aneka daging di bawah nasi yang tak seberapa banyaknya. Karena orang indonesia terbiasa makan dengan porsi nasi yang lebih banyak dibandingkan lauknya. Pelengkap karbohidrat lainnya ialah roti naan yang lagi-lagi berukuran jumbo. Jadi sebetulnya porsi nasi bisa diganti dengan kentang goreng dan roti ini.

Menu rame-rame ini sangat cocok dimakan bersama teman dan keluarga. Jadi, meski harganya lebih dari 1,5 juta rupiah tapi jika dipukul rata ber-7 jatuhnya per orang hanya £10 saja atau sekitar Rp.195.000 dengan kondisi perut yang super penuh.

Jadi ceritanya, makan-makan di resto Libanon ini sehari setelah acara BIS Gathering tempo hari, mumpung sedang di Bristol, ada yang ultah, sekalian perpisahan seorang teman yang akan kembali ke tanah air.

Warga Inggris mendongeng Bawang Merah Bawang Putih di Bristol Inggris

 

 

 

N10. NRosmel26052016

Mau intip cemilan khas Inggris lainnya? intip juga artikel berikut ini:

Cornish Pasty, kue pastel ala Inggris

 

Tersesat di Scotland, Jadilah Cernak di Bobo

Beberapa tahun lalu saat road trip ke Scotland, kami tersesat. Tepatnya di pusat kota Edinburgh, yang artikel perjalanannya mejeng di sini.

Jadi ceritanya begini, waktu itu parkiran di tengah kota Edinburgh waduh.. susyahnya minta ampyun. Dua kali muter city center gak dapat tempat parkir (maksudnya nyari gedung parkir gitu). Di sini kan gak bisa parkir di pinggir jalan sembarangan. Kalau bandel parkir sembarang siap-siap aja £60 melayang ;).

Ketika itu kami masih suka jalan dengan pasukan komplit. Papi, mami, teteh, dede 😀 Baiklah, akhirnya pasukan dipecah dua 😉 Saya dengan si sulung, papinya dengan si bungsu. Cewek dengan cewek, cowok sama cowok dong ya… haha..

Saya dan si teteh turun duluan, sementara itu pa supir masih kebingungan nyari tempat parkir yang rencananya bersama si dede bakal nyusul kami di tempat yang telah dijanjikan.

Akhirnya, saya jalan duluan bersama si sulung di tengah kota Edinburgh yang kala itu sedang ada festival yang ramenya minta ampyun. Nonton festival, jalan, jajan, poto-poto, berburu suvenir dll. Sementara itu, pasukan cowok dengan acaranya masing-masing.   Diantara waktu itu kami telpon-telponan mau janjian dimana.

Karena sibuk dengan acara masing-masing sedangkan jatah parkir (berbayar, di pinggir jalan) sebentar lagi habis, maka suami memutuskan janjian di tempat parkir saja. Untuk menuju destinasi berikutnya sebelum malam menjelang.

Via telpon Pa Suami memandu dimana letak parkir itu. Karena gak hapal areanya, walhasil kami (saya dan si sulung) malah nyasar kemana-mana, mana waktu parkir habis lagi (padahal udah diperpanjang bayarnya).

Waktu makin mepet, takut kemalaman tiba di kota berikutnya, capek, hujan, nyasar lagi, jatah parkir habis, pa supir cabut, marah-marah ia. Oiya, untung si pa supir ini melek tekno, doi bilang suruh buka App “Find Friend” di smart phone saya. Hayah! Hpnya mati akibat dipake telponan mandu jalan dari tadi. Untunglah HP si kuteh masih bisa dipake, meski lowbat. Akhirnya, tersambunglah kami (dua grup ini) dengan App “Find Friend” tsb. Oh, syukurlah..

Waktu itu hujan gerimis. Duh, Scotland! (boleh intip artikel yang ini :D) kamu emang gitu deh. Bentar panas, bentar hujan. Bentar gelap, bentar terang. Akhirnya, pa supir nyuruh kami nunggu di satu tempat. Yasud, saya dan si kuteh nunggu di pelataran sebuah gedung tua di Kota Edinburgh yang cantik.

Di App tersebut titik merah terus bergerak-gerak menghampiri kami. Ehm.. semakin dekat nih, saya tengok ke arah kanan sesuai titik merah di Smart Phone si kuteh. Dan, tak lama, berkat titik koordinat yang diberikan satelit, memandu pa sopir menghampiri kami. Alhamdulillah… tersesat di kota cantik inipun menjadi kenangan tersendiri buat saya.

Dan ketika saya ingin membuat cerpen anak, saya angkatlah tema ini. Tapi, tentunya ubah seting tempat, ganti penokohan, ganti alur dsb. Cuman idenya saja yang saya ambil.

Jadi, masih bingung nyari ide untuk sebuah cernak? plis deh! ide itu bisa kita dapat di sejuta tempat, sejuta kenangan, sejuta kejadian kita sehari-hari 😉 Seperti ide-ide cernak saya lainnya yang nyaris 90% merupakan pengalaman pribadi.

Dan, cerita beride awal tersesat di Scotland itupun jadilah cernak yang dimuat di Majalah Bobo edisi 6 yang terbit tanggal 19 Mei 2016 berikut ini:

Majalah bobo rosimeilani.com

Buat yang masih bingung nyari ide untuk cerpen anak, bisa diintip pengalaman konyol bapak saya yang berhasil saya buatkan cerpen anaknya berikut ini.

Ana-Fia Lolos Semifinal Britain’s Got Talent, Promosikan Indonesia

Ada kabar gembira dari Inggris untuk semua saudara di tanah air, Indonesia. Bahwa Ana dan Fia,  ibu anak peserta Britain’s Got Talent asal Indonesia yang tinggal di Kota Essex lolos ke babak semifinal.

Sejak penampilan perdananya di babak penyisihan, malam sabtu 14 mei 2016, Ana dan Fia mencuri perhatian karena kualitas vokal, kekompakan serta aksi panggungnya di  Britain’s Got talent (BGT) yang masuk ke tahun 10 ini.

Merekapun mendapat standing aplausse dari  penonton dan semua juri yang terkesima, termasuk simon cowell. Maka adalah suatu kebanggaan ketika simon berdiri dan bertepuk tangan untuk mengapresiasi aksi panggung Ana dan Fia di minggu lalu.

Setelah semua peserta BGT 2016 tampil di Sabtu malam (waktu inggris), 21 mei 2016, kini waktunya juri untuk memilih siapa saja yang berhak maju ke babak semifinal.

BGT adalah salah satu acara TV yang banyak disukai warga Inggris. Maka tak heran jika kami rela menonton dari awal hingga akhir untuk melihat hasil resultnya. Termasuk saya dan orang-orang Indonesia yang mukim di Inggris. Karena ada yang special di BGT tahun ini. Tentu saja untuk terus memantau jagoannya, Ana dan Fia, apakah mereka bakal lolos ke babak semifinal dan selanjutnya?

Pengumuman di segmen terakhirpun keluar, dan sunguh mengharukan serta menyenangkan ketika juri mengatakan Ana dan Fia lolos ke babak semifinal yang akan berlangsung mulai hari Minggu, 22 Mei 2016 hingga hari Kamis, 26 Mei 2016. Setiap pukul 19.30 hingga pukul 21.00. Empat hari berturut-turut di jam yang sama.

Ana Promosikan Indonesia

Setelah result keluar disambung acara bincang-bincang dengan para peserta yang masuk ke babak semifinal. Satu yang paling menarik pertahian, khususnya bagi kita orang Indonesia, adalah ketika Ana menanyakan satu hal kepada Stephen Mulhern, presenternya.

Diawali dengan Ana dan Fia masuk belakang panggung dimana ada Stephen Mulhern di sana. Bagi Ana dan Fia adalah sebuah mimpi ketika bertemu Stephen Mulhern yang mereka idolakan dan sebelumnya hanya bisa melihatnya di layar TV.

Maka di malam special itupun Stephen Mulhern mempersilakan Ana dan Fia untuk menanyakan kepadanya tentang apa saja  yang ingin mereka ketahui tentangnya. Diluar dugaan, Ana menanyakan hal ini kepada Stephen Mulhern:
“Apakah anda pernah ke indonesia?”

Pertanyaan tersebut disambut tawa crew, dengan sedikit malu Stephen Mulhern menjawabnya “no”. Semoga saja dengan pertanyaan Ana yang mengelitik Stephen Mulhern ini menjadi salah satu jalan bagi orang Inggris yang ingin mengetahui seperti apa itu Indonesia? dimana itu Indonesia dan semoga (pesan implisit ini) menjadikan orang Inggris berbondong-bondong berwisata ke Indonesia 😀

Mau tahu obrolan Ana dan Stephen Mulhern tentang Indonesia? ini dia videonya..

Sisi Lain Ana & Fia

Sejak penampilan perdananya di layar kaca, Ana dan Fia yang makin terkenal. Viralnya meraja lela di dunia maya. Contohnya saja artikel rosi meilani di rosimeilani.com yang diunggah pada 17 mei mampu mendatangkan sekitar seribu pembaca dalam satu hari. Linknya bisa dilihat di sini:

Ana dan Fia Bikin Bangga Indonesia di BGT 2016

Di postingan tersebut diulas sisi lain Ana dan Fia yang biasa manggung di acara yang diselenggarakan KBRI London. Di link di atas terlihat bahwa Ana mampu menyanyikan berbagai jenis aliran musik. Tak hanya Pop, rock and roll tapi juga lagu Jawa “Rek Ayo Rek” berikut ini:

Saking viralnya Ana dan Fia, video berjudul Dancing Queen, Ana dan Fia yang diunggah di youtube Rosi Meilani beberapa hari lalu inipun ditonton lebih dari 20 ribu orang.

Ide Cerpen Anak Dari Bapak, Dimuat di Majalah Bobo

Minggu kemarin, saya dapat info dari seorang teman kalau cerpen anak karya saya dimuat di Majalah Bobo yang keren itu.

Seperti cernak saya lainnya yang berhasil dimuat di koran dan majalah, idenya tak jauh dari pengalaman pribadi. Entah pengalaman saya ataupun pengalaman orang-orang di sekitar saya. Nah, untuk cernak kali ini ide awalnya adalah kejadian yang dialami bapak saya ketika ABG.

Untuk diketahui, bapak saya sekarang usianya sudah kepala 7. Pesan yang ingin saya sampaikan ialah: ide itu bisa datang dari mana saja, dari masa kapan saja, bahkan pada masa tahun 60’an sekalipun 😀

Jadi ceritanya begini, ketika saya mudik dulu, saya ke rumah keluarga bapak di Bandung. Rumah itu penuh kenangan bagi kami. Di setiap sudutnya memiliki kenangan dan cerita tersendiri. Salah satunya ialah sebuah sumur yang terletak di samping rumah nenek-kakek saya itu. Meski di tahun 90’an rumah kakek saya itu sudah dipasang air ledeng, namun keberadaan si sumur tua ini tak tersisihkan hingga kini.

Ketika mudik itu, kami, saya, uwa, bibi dan sodara-sodara lainnya ngumpul bersama sambil cerita-cerita masa lalu. Biasalah, klo mudik memang waktunya kami untuk bernostalgia. Ketika saya melonggokan kepala di jendela samping rumah, saya bilang, “Duh, sumur itu, lawas benar”

Ketika itu, mulailah uwa saya bercerita. “Tau ngak? bapamu dulu pernah (dikira) kecebur sumur itu. Hebohlah kami semua dibuatnya.”

Singkat ceritanya, ketika itu terdengar suara gedubrak di halaman samping rumah. Semua orang mengira bapa tersandung atau apalah-apalah hingga akhirnya (dikira) kecebur sumur. Hebohlah semua orang. Setelah panik dan riweuh berusaha menyelamatkan bapa yang katanya (kemungkin) tenggelam.

Selang beberapa waktu, tiba-tiba si bapa nongol begitu saja. Konon katanya baru pulang dari rumah temannya. Hahaha.. D 😀 kocak banget kan? Si uwa sambil ketawa-tawa menceritakannya, kamipun juga.

Nah, cerita-cerita seperti ini bisa kita kembangkan menjadi sebuah cernak yang kocak. Iya gak? Padahal itu kejadian terjadi setengah abad yang lalu. Taruh saja saat itu bapak saya masih ABG, dimana bapa saya sekarang usianya 71 tahun. Uwow banget kan?

So, buat kami yang masih saja bingung dengan ide untuk sebuah cernak, mungkin hal-hal seperti ini bisa dijadikan bahan masukan. Satu tips yang harus diingat, ubahlah seting waktu dan keadaannya.

Baiklah, setelah dieksekusi, ide tersebut saya kembangkan dengan seting waktu kini, tokohnya pun diubah menjadi tokoh anak-anak. Yaelah, namanya juga cerpen anak.

Ini adalah naskah aslinya, silakan nanti dibandingkan dengan cernaknya yang sudah dimuat di Bobo edisi 12 Mei 2016 kemarin. Jadi kamu bisa lihat, bagian mana yang diedit oleh editor Majalah Bobo.

Kecebur Sumur

(Rosi Meilani)

 

            “Mak, beliin sepatu bola dong, Mak!” rayu Ocid pada Emak yang sedang memasak.    

“Jangan sekarang, Cid. Emak belum punya uang.”

“Gak usah yang baru, Mak. Yang bekas aja. Kebetulan Yana mau ngejual sepatu bolanya. Cuman 30 ribu.”

“Buat Emak 30 ribu itu masih kemahalan, Cid.”

“Nanti Ocid tawar deh,” ujarnya berapi-api.

“Nanti tanya Abah dulu. Kamu kan tahu, Abah baru beli bibit tanaman,” jawab Emak sambil berlalu menuju kamar.

“Ya … Emak. Sudah capek-capek merayu, ujung-ujungnya tanya Abah juga.” Ocid mengerutu sambil berlalu.

Tak lama. Brak! terdengar sesuatu dari kamar Ocid.

“Cid! apaan tuh?” tanya emak yang tengah mengelar sejadah.

Ocid tak menjawab. Selang beberapa menit, Ocid ke kamar emak, tapi emak sedang shalat. Ocidpun berlalu keluar rumah.

Ketika hendak pergi, sandal jepit yang dikenakan Ocid putus. Ocid yang sedang kesal makin kesal saja. Spontan ia menendang bibir sumur yang ada di hadapannya.

“Huu uuhh …,” gerutunya.

Brak! Gejebyurrr … separuh dinding sumur tua itupun roboh.

Bunyi keras itu terdengar ke kamar Emak. Emak mengira, suara itu berasal dari rumah tetangga. Emak pun meneruskan shalatnya.

Usai shalat emak ke kamar Ocid. Tak ada Ocid di sana. Emak perhatikan ada pecahan celengan tanah liat di lantai kamar Ocid. Lalu emak kembali ke dapur.

Tak lama, Abah pulang dari ladang.

“Emak … emak …,” dari arah halaman belakang Abah berteriak-teriak.

Emak bergegas menghampiri Abah yang terdengar genting, lalu bertanya.

“Ada apa, Abah? pake teriak-teriak segala.”

“Lihat, sumur kita roboh separuh! Apa yang terjadi?” pekik Abah.

“Hah? Rubuh? Ya … ampun. Apa yang terjadi?” Emak balik bertanya. “Wah, jangan-jangan …,” Emak gusar dan panik.

Emak bertambah panik saat melihat sandal jepit Ocid mengambang di permukaan sumur. Emak menangis sejadi-jadinya. Hingga menarik perhatian tetangga.

“Ada apa ini, Emak? Ada apa?” Abah tak mengerti.

Sambil menangis hebat, Emak menceritakan kejadian tadi. Dalam waktu bersamaan para tetangga datang menghampiri dan berinisiatif memberikan bantuan.

Mang Tatang, Wa Eman dan Kang Sule berlari mengambil tangga bambu dari rumahnya masing-masing. Lalu tangga-tangga itu disambungkan.

“Siapa yang bersedia masuk?” tanya Mang Tatang.

“Aku, Mang!” jawab Kang Sule sigap. Mang Tatang segera melilitkan tambang ke pinggang Kang Sule.

Semua orang di sana melingkup sumur sambil tertunduk menyaksikan Kang Sule menuruni anak tangga menuju dasar sumur. Mang Tatang mengulurkan tambang perlahan.

Hampir sejam kejadian ini berlangsung. Emak semakin panik. Emak tak henti menangis, lalu berujar,

“Emak ngak tau, kalau sepatu bola itu adalah permintaan terakhir Ocid. Tau gitu, emak pasti mengabulkan permintaannya. Lain kali, apapun permintaan Ocid, emak bakal kasih,” emak sesegukan, kepalanya bersandar ke pundak Abah. Sedangkan  tangan Abah melingkar di pundak Emak.

Dalam waktu bersamaan, pundak Emak dan Abah digelayuti sepasang lengan kurus.

“Ada apaan nih,” ujar orang berlengan kurus itu.

Emak dan Abah kaget. Merinding seram bercampur senang. Dug! jantung Abah dan Emak berdebar. Keduanya menengok kebelakang.

“Ocid?!” Pekik Abah dan Emak.

“Ocid?!” seru yang lainnya.

Mang Tatang kaget, terlepaslah tambang yang ia pegang sedari tadi. Tambangpun tercebur ke sumur.

“Mang, tambangnya lepas … pas … pas … pas …,” teriak Kang Sule dari dalam sumur yang menggema.

Semua yang ada di sana memeluk Ocid erat-erat.

“Ada apa sih?” Ocid bingung sekali.

Emak menceritakanya dugaannya. Ocid pun tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha.. jadi, emak pikir Ocid kecebur sumur? Maaf, Ocid ngak pamit sama Emak. Tadi itu Ocid abis ke rumah Yana. Nih lihat, Ocid beli sendiri sepatu bolanya. Ocid tawar. Jadinya 25 ribu saja. Ocid bayar pake celengan Ocid sendiri,” Ocid memamerkan sepatunya penuh bangga.

Sekali lagi, Emak memeluk Ocid erat-erat. Emak bangga pada Ocid.

“Cid, tadi emak janji, katanya apa aja yang Ocid minta nanti mah bakal dikabulkan,” canda Mang Tatang menyeringai.

“Ah, sekarang mah ngak janji, kan Ocidnya juga udah selamat,” emak tersenyum mengelak dan semua yang ada di sana tertawa,

“Itu Si Sule gimana?” tanya Abah.

Tiba-tiba sule nongol di bibir sumur,

“Eh … gimana ini teh. Saya udah capek-capek nunggu di dalam sumur ngak ada yang ngasih instruksi,” ujarnya kesal.

Semuanya melirik pada Kang Sule dan tertawa bersama.

***

Cerpen anak di majalah bobo