Seperti kita ketahui, gamelan adalah alat musik tradisional Indonesia. Tapi tahukah kamu, bahwa saat ini gamelan sudah go internasional. Ya, gamelan mendunia. Di Eropa gamelan bukan barang asing lagi. Khususnya di Inggris, tempat saya bermukim kini. Gamelan diminati orang Inggris. 

Orang Inggris banyak yang bisa memainkan alat musik gamelan. Entah itu gamelan Bali, gamelan Jawa maupun gamelan Sunda. Semua gamelan itu sering dimainkan di Inggris. Di beberapa kesempatan. Baik saat diplomasi budaya Indonesia – Inggris. Maupun acara kumpul-kumpul orang indonesia di Inggris. Uniknya, kebanyakan pertunjukan gamelan di Inggris tersebut ditampilkan oleh orang lokal, alias orang Inggris. Iya, orang Inggris main gamelan, dan kita sebagai penontonnya.

Tak hanya gamelan, alat musik tradisional Indonesia lainnya sering pula dimainkan orang Inggris. Seperti misalnya kacapi, suling (alat musik tradisional Jawa Barat. Tarawangsa (alat musik tradisional Jawa Barat). Ataupun Sasando (alat musik tradisional Nusa Tenggara).

Orang inggris bermain kacapi suling di London

Orang Inggris Main Tarawangsa di London

Keren Banget! Orang asing bermain sasando di Inggris

Berbeda dengan video-video diatas yang mana para warga asing pegiat seni tradisional Indonesia yang ingin saya bahas kali ini adalah bocah cilik. Namanya owen, orang Nottingham, Inggris, ia masih SD tapi udah jago main gamelan.

Saya jumpai Owen dalam sebuah kesempatan pentas seni budaya Indonesia di Kota Nottingham, jauh sebelum ada pandemi corona. Nah Owen ini bisa memainkan gamelan Bali dan gamelan Jawa. 

Owen berguru pada Ibu Nikki Kemp, guru gamelan orang Inggris yang tinggal di Nottingham. Beliau pernah belajar gamelan di Solo, melalui program beasiswa Darma siswa, dibawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 

Sekembalinya ke Inggris, Ibu Nikki tergabung dalam beberapa kelompok gamelan di Inggris dan sering mentas pula. Nah, ibu Nikki ini memiliki sanggar gamelan di Kota Nottingham yang terkenal dengan tokoh ksatria Inggris, Robin Hood.

Di banyak kesempatan Ibu Nikki dah rombongan sering didampuk untuk pentas di berbagai acara. Salah satunya adalah acara yang saya hadiri ini, Indofest. 

Owen adalah salah satu pemain gamelan grupnya Ibu Nicky. Masih banyak anak-anak seusia Owen yang belajar gamelan di Inggris ini. Adapun anak-anak yang belajar gamelan di sanggarnya gamelannya Ibu Nikki mulai usia 7 tahun hingga oma opa. Jadi yang belajar disini tak terbatas usia. Baik anak kecil, remaja juga orang tua.

Ketika saya tanya, kenapa Owen suka belajar gamelan, dia bilang, senang aja dengar  suara bonang/saron ketika dibunyikan.

Buat kamu yang kepo seperti apa owen bermain gamelan? Ini dia vidoenya:

Next saya akan posting lagi tentang para pegiat seni tradisi indonesia dari tanah Inggris. Ada orang inggris yang jago ngomong sunda, ada orang inggris yang jago ngomong jawa, ada profesor inggris yang jago silat, dan masih banyak lagi. 

Owen hanya salah satu anak Inggris yang jago bermain gamelan. Masih banyak anak-anak Inggris lainnya yang pintar berlain gamelan. Entah mereka anak-anak yang belajar gamelan di sanggar gamelan di Inggris, maupun di sekolah-sekolah. Karena beberapa sekolah di Inggris ada yang mengajarkan gamelan sebagai bagian dari pelajarannya. Ya, gamelan diajarkan di sekolahan Inggris. 

Next time saya bakal posting lagi tentang anak-anak Inggris yang belajar gamelan, yang mana mereka ikut pentas juga bermain gamelan.

Net Good People #Jelajah London 1

London adalah kota kedua yang sering kami kunjungi setelah Bristol.
Selama September kemarin aja wara-wiri  Worcester-London sampai 3 kali, 3 weekend. Ada aja yang harus dikerjakan di London.
Walaupun cape, tapi senang juga sih klo lagi banyak liputan.

Mulai dari liputan fashion show, kulineranm, juga silaturahin sama teman.

Dan inilah rangkuman klipnya selama kami 2 hari di sana.

 

G30S Bristol, Beramal Sambil Have Fun

Sabtu pagi, 30 September kemarin, cuaca udah mulai dingin. Hujan rintik sedari subuh. Biasanya, hawa dan suasana gini waktunya malas-malasan tapi tidak untuk pagi ini. Ini pagi udah dinanti dari kemarin-kemarin. Pasalnya, obrol-obrol intens di WAG hari ini dieksekusi.

Cabut dari rumah jam 9, klo ngebut nyampe TKP mustinya tepat waktu. Tapi karena mampir dulu ke bakery untuk beli roti kesukaan si bungsu dan aku, terusnya lagi si bapak mau ambil lensa pesanan di kota sebelah, jadilah ngaret, ret. Nyampe TKP nyaris jam 11. Hadeuh..

Video lengkapnya disini: Charity event di Bristol

Acara pembukaan dan beberapa acara lainnya terlewat. Nyampe di sana pas anak-anak SD Meadowbrook paduan suara. Acara berlanjut tarian tradisional Indonesia, tari topi yang dibawakan anak-anak cute banget dan acara-acara lainnya.

Semua rangkaian acara tersebut merupakan bagian dari Coffee Morning MacMillan 2017. Apakah itu? Jadi, ini acara tahunan yang digelar teman kami Opy Sufinar, penderita cancer stadium 4 yang telah 5 tahun terkahir ini ia lawan. 

Disini, banyak sekali yayasan kanker yang bergerak menyuport para penderita kanker dalam segala hal. Tidak hanya dukungan finansial tapi ada juga bentuk lainnya, seperti dukungan moral serta adanya komunitas dan gathering-gathering seperti yang kami lakukan pagi ini. Membuat penderita kanker tidak sendiri. Bahwa mereka memiliki teman, saudara, komunitas dan orang-orang yang peduli, menyayangi.

Biasanya, yang namanya coffe morning ala mereka, acaranya simple. Berupa kumpul-kumpul sambil obrol-obrol di pagi hari dimana yang datang bawa kue, cake, dll. Trus sesama mereka saling beli barang bawaannya tersebut. Nah, uang yang terkumpul akan didonasikan.

Nah, coffee morning yang digagas Opy ini lain dari yang lain. Potensi orang Indonesia di Kota Bristol emang TOP. Para diaspora, profesional, pemuda dan pelajar di sini kompak dan memliki potensi yang luar biasa. Begitu gagasan Opy diluncurkan, semuanya bergerak cepat. Siapa nyumbang apa. Dari A sampai Z semuanya diatur manis.

Banyak stand tersedia. Aneka stand makanan dan minuman. Bakso, gado-gado, rendang, lontong sayur, jajanan pasar, es cendol. Wah, pokonya semua berlimpah ruah. Catatan, semunya disumbangkan oleh para donatur yang baik hati. Kita jajan-jajan sampai puas dong. Uang hasil penjualannya? didonasikan tentunya.

Tak hanya itu ada pula yang suport keahlian, waktu dan tenaga. Seperti stand pijat, stand face painting dan hena serta yang lainnya. Oiya, seperti tahun sebelumnya, Budi, suaminya Opy, merelakan rambutnya digunduli untuk penggalangan dana sekaligus sebagai bentuk dukungan yang ia berikan.

Eh ada juga raffle tiket, dimana semua hadiahnya dari para donatur, sedangkan semua hasil penjualan tiket 100% masuk kota donasi. Hadiahnya keren-keren pulak, aku dong.. dapat clutch cucok  😉

Acara makan-makan, ngopi-ngopi, nonton pertunjukan tarian, nyanyian serta ikut serta bernyanyi, menari dan bergembira adalah sebuah bentuk dukungan yang murah terasa. Bergembira, silaturahim, beramal, balas dendam santap kuliner indonesia yang jarang terpenuhi perut.

Alhamdulillah, acara berjalan lancar sesuai yang direncanakan, mulai jam 10 pagi sampe jam 1 siang. Ngaret-ngaret dikit okeylah. Secara, kita-kita tuh klo udah ngumpul kayak gini susah dibubarin 😀
Padahal tarian penutup sesuai tradisi udah dijabanin, “Maumere” n “Poco-poco” beuh.. ditambah “Goyang Dumang” pulak 😀 😀

Sambil tim sampu bersih beberes gedung sampe kinclong, tim keuangan negara itung hasil donasi, jumlah terus bergulir, terakhir menurut laporan terkumpul £1.400 atau sekitar 25 juta rupiah. Mayan banget kan..

Mau liat seperti para keramaian Gathering 30 September kemarin, ini dia liputannya

 

Mari Berwisata ke Patokan Waktu Dunia, Greenwich London

Bismillahirrahmanirrahim.

Greenwich, London

Assalamualakum semua..
Duh, udah lama banget ngak mosting euy. Kangen sih pengen nulis oleh-oleh hasil kelayapan sana-sini atau seengaknya mosting remeh temeh, tapi karena (sok) sibuk ngerjain ini itu plus klayapan sana-sini jadinya, gitu deh….

Baiklah, kali ini saya pengen otrat-otret hasil kelayapan 2 minggu lalu ke London.

Ini kali kesekian kami ke London. Iya lah, secara, kayaknya ini kota ke-2 setelah Bristol yang sering kami kunjungi. Tiap kali bilang kami, artinya saya dan suami. Secara, #duocj_aderos 😀

Kelayapan kali ini plus si bungsu, dalam rangka perpanjangan pasport si ganteng yang habis September ini. Makanya gak heran klo jalan bertiga. Ya lah, klo bukan karena alasan itu, manalah mungkin dia mau ikut 😀

Seperti biasa, perjalanan dari Worcester – London 2 jam lebih. Parkir mobil di Ealing Broadway, zona 3 jalur tube. Begitu mau bayar parkir. Yalloh, lupa. Ini hari kerja, artinya parkir jam-jaman. Biasa kami klayapan London weekend, artinya, parkiran cuman £1 doang, seharian penuh. Ya sutralah, itungannya, parkiran seharian penuh £10 (180k IDR). Jam-jaman £1. Kita masup jam hampir jam 10 lebih. Yasud, beli parkir sampe jam 6 sore. Kenafa? karena dari jam 6 sore ke atas free, nyampe besok pagi lagi. Bayarlah £8. Dari parkiran ke stasiun cuman selemparan batu.

Sesudah top up oyster card, capcus naik kereta menuju Kedutaan RI.
Stop bentar, buat kamu yang belum tau apa itu Oyster Card,

Pengen Praktis Jalan-Jalan di London, Pake ini aja!

Atau, bisa juga baca artikel yang saya tulis 3 taon laloe berikut ini:

Keliling London Pake Oyster Card

Singkat cerita, sampailah di Kantor Kedutaan RI yang baru.
Yang baru? iya. Baru aja pindahan beberapa waktu yang lalu. Jadi, ini kali pertama kami menginjakan kaki ke kantor KBRI yang baru, setelah sebelumnya sering bolak-balik kantor kedutaan yang lama. Yang mana kantor yang dulu jauh lebih cakepp…. hehehe.

Nah, di sini ada yang baru. Dimana layanan perpanjangan pasport dan lain sebagainya dilakukan secara online yang terintegrasi kedalam data basenya arsip Kedutaan RI di London. Jadi ngak usah ngisi formulir di TKP, trus ntar diupdate petugas di sana. Jadi kita bisa isi  formnya di rumah. Begitu juga yang pernah disampaikan Pa Gulfan saat saya obrol” sama beliau pada perayaan HUT RI ke-72 di rumah Pa Dubes tempo hari.

Setelah ini itu ini itu ini itu dan ada keribetan teknis yang bikin BT, singkat cerita, bereslah. Seperti biasa, pasport baru ntar dikirim ke rumah. Lalu? kemana kita? *mirip si Dora*
Ehmm… ntar, ngopi dulu dong ya..
Secara, lelah gitu bok.

Sejurus itu, saya kontak Pa Dimas, Humas KBRI yang selama ini ketemuan klo ada event aja. Tak lama, nongol deh di teras kantor. Di sebelahnya kan ada tukang kopi tuh. Kopi, obrol-obrol sambil moyan aka bejemurlah disana. Mumpung ada matahari, hangat…

Beres ngupi plus obrol-obrol, kemana lagi kita?
*Dora lagi* 😛
Capcus makan siang…

Tadinya, optionnya mau makan di blok sebelah kantor KBRI. Tapi bok.. itu warung” tenda sepanjang jalan kenangan itu penuh. No wonder, da emang waktunya orang kantoran makan siang. Padahal warung” itu tebarkan aroma sedap yang bikin netes air liur dan cacing perut ngamuk.

Baiklah, option kedua. Merapat ke warung rumpi. Apa, dimana, seperti apa warung rumpi tersebut? Ntar saya mau bikin vlognya perjalanan ini tapi blom sempet aja. So, kamu bisa intip warung makan di London ini. Barangkali aja pas kamu traveling ke London pengen nyari makanan Indonesia. Mau intip seperti apa penampakan warungnya? Ini dia!

Cari Makanan Indonesia di London? Kesini aja!

Pas nyempe warung, cipika-cipiki sama Mba Wati, ownernya yang baik hati. Makan sambil ngobrol kesana-kemari. Perut kenyang, sampe-sampe kengantukan, apalagi cuara panas. Kenyang + mager + hawa panas + lelah = ngantuk 😀

Tapi, mau ngak mau musti cabut… udah tanya ke Mba Wati, destinasi seputaran apa yang bisa diliput sekitar situ. Option A, B, C, D. Yasud, pamit…
Tak lupa aku dioleh-olehi barang berharga, hasil beliau mudik kemarin. Jengkol muda! 😀
Heuheuy..

Option yang dibincangkan tadi mentah semua. Jadinya spontan langsung merapat ke Greenwich. Perjalanannya mayan jauh sih dari sini. Pake bus sekitar sejam. Abisnya banyak brenti n macet kan. Tak apalah, woles aja, lagi pengen naek beus sih soalnya, sambil keliling London, nyantei ini.
Oiya, kita melewati Big Ben yang lagi gak cantik. Karena 1/3 body menaranya ditutupin plus “pakuranteng” scaffolding. Tak lain karena Big Ben lagi cuti beberapa taun kedepan. Dalam rangka perbaikan.

Otrey, sampailah kami ke “Patokan Waktu Dunia” Greenwich (dibaca: Greenich)
Sebenarnya itu bukan kali pertama kami ke Greenwich, tapi beberapa kali ke sini waktunya kurang pas. Alias lagi spring atau Autumn gitu deh. Sehingga ngak napsu untuk rekam-rekam 😀
Barulah kali ini semangat untuk dibikin Vlognya. Karena cuaca lagi kece, lagi mood pula nampang-nampang depan kamera.
Dan, voila… inilah dia Vlognya (udah tayang di NET10 kemarin) 😉

Takut bacanya kepanjangan n bikin kamu bosen, saya cukupkan sekian dulu ya jalan-jalan kita kali ini. InsyaAllah nanti saya posting hasil kelayapan lainny di London. Dimana saya berkesempatan nonton Pertunjukan Setan Jawa-nya Mas Garin Nugroho yang keren banget.

Bye.. sampe jumpa di postingan berikutnya.
(Klo gak lupa n gak males mosting itu juga) 😀

Wassalam…