Monthly Archives: February 2015

Resensi Buku Sekotak Cinta untuk Sakina

Saat orang tuanya memutuskan untuk memasukan ke pondok, Sakina sedih sekali. Di benak Sakina, yang namanya boarding school/pondok pesantren itu pasti membosankan. Bagaimana mungkin hari-hari tanpa TV, juga smartphone? Padahal ia senang sekali memainkan game dari Iphone-nya itu.

Benar saja, beberapa hari pertama, Sakina muram dan sering menangis. Akhirnya ada kesepakatan antara Sakina dan ayahnya. Setelah enam bulan atau tamat satu semester, Sakina boleh pindah sekolah.

Beberapa minggu berlalu, sedikit demi sedikit Sakina mulai merasa betah. Betapa ibu-ibu guru yang biasa dipanggil umi, bersikap lembut, penuh kasih dan perhatian kepada semua santri. Layaknya ibu sendiri.

Waktu berselang, Sakina merasa lebih dekat dengan alam. Setiap pagi ia saksikan indahnya Gunung Patuha dari balik jendela kamarnya. Sakina memiliki hewan peliharaan, seekor ayam jago bernama Blorok. Sakina juga menikmati permainan tradisional.

Di pondok itu Sakina mengenal Lana. Dari Lana ia banyak belajar tentang hidup. Dari Lana ia mengenal siapa itu Imam Syafi’i. Dari Lana yang sebatang kara ia membuka mata. Dari Lana pula ia mempunyai target hafal Alquran, agar bisa menghadiahkan mahkota cahaya untuk kedua orang tuanya di akhirat kelak.

Novel anak ini memiliki pesan moral yang dalam. Namun disampaikan dengan bahasa dan cara yang ringan. Tanpa terasa menggurui. Keseruan dari bab ke bab terus terjaga hingga di bab terakhir. Endingnya sangat menarik. Silakan tebak, apakah Sakina keluar dari Pondok? ataukah terus bersekolah di sana?

Penasaran kan? makanya buruan merapat ke Gramedia terdekat.

Buku ini cocok buat dijadikan hadiah ulang tahun teman, ataupun hadiah dari ummi abi yang mau memasukkan anaknya ke boarding school/pesantren.

cover sakina

Judul buku      : Sekotak Cinta Untuk Sakina

Pengarang       : Irma Irawati

Penerbit           : Qibla, 2013.

Tebal buku      : 125 halaman

Harga buku     : Rp. 30.000,-

ISBN 10          : 602-249-318-8

Somebody To Love, Kisah Tragis Freddie Mercury (1)

Kemarin tuh, waktu bikin klip Buku Jelajah Inggris, saya nyari-nyari lagu yang pas, apaaa.. gitu ya.. enaknya. Pokoknya yang ada hubungannya dengan Inggris. Tadinya mau lagu kebangsaan Inggris. “Save the Queen”.
Ih, apaan? kata Alba nyengir, saya juga.
Baiklah, beatles? boleh juga. Tapi yang mana? Oh, Hi Jude. Dicarilah itu lagu. Sampe-sampe Alba memainkan Hi Jude dengan ukulele kesayangannya. Ah, tapi, lagunya terlalu slow, walaupun hit, tapi kurang ngebit (halah, gimana sih nulisnya) 😀 kurang rame gitu..

Akhirnya, selain The Beatles, ikon Inggris yang legendaris lainnya ialah Queen. Ya sudah itu saja. Kita tau dong, lagunya ngehits banget pada masanya. Eh, sampe sekarang juga ding. Ngomongin lagu-lagu Queen, sejak SD-SMP, itu si Bohemian Rhapsody dah nyapa kuping. Sampe-sampe suka ikut-ikutan nyanyi   huming, tentu saja karena ngak bisa n gak ngerti basa Inggris. Yang jelas, pas kata “Bismillah … Bismillah…” baru deh yang bagian itu lantang banget.

Waktu berlalu, pas pindah ke sini, 8 taon lalu, Queen menyapa saya kembali. Entah itu lewat TV ataupun radio. Bahkan ada iklan TV yang terkenal n pake lagunya Queen “Don’t stop me now” Like parent, like children. Lucu juga. Banyak hal yang saya sukai di saat anak-anak, pre teen, dialami juga oleh anak saya. Sepertinya, semuanya berulang, dengan generasi yang berbeda. Jadilah si Queen melengkapi koleksi lagu-lagu kami sekeluarga. Baik saat karaoke maupun saat di mobil.

Back to laptop! topik. (pembukaannya panjang amat ya?) Nah, akhirnya dipilihkan lagu “Somebody to love” itu di klip Buku Jelajah Inggris yang saya buat. Dengan alasan tadi.

Cerita lain di balik “Somebody to love”

Tau gak sih kamu? Dibalik kepopuleran seorang Freddie Mercury ia adalah seorang yang kesepian. Harta berlimpah, tapi hatinya kering.

Sadar gak sih kamu? Pas bangun tidur ada orang tersayang di samping kita? Pasangan (suami-istri), anak-anak tercinta? Atau kalian yang masih single, ada ibu yang membangunkan, walaupun agak bawel, ada ayah, ada adik dan kakak, atau mungkin ada nenek kakek.

Buat kamu para ayah yang banting tulang cari uang, rasa lelah itu bisa terbayar oleh tatapan anak istri yang menyejukkan.

Nah, balik lagi ke si om Freddie yang sudah berpulang kepadaNYA akibat AIDS yang dideritanya. Dia begitu kesepian yang amat sangat. Bayangin..

Tiap hari dia bangun dengan hati separuh, hampa, sepi. Kadang ngak bisa bangun. Entah karena lelah hingga kakinya gak bisa  berdiri. Entah implisit menunjukkan gak ada semangat hidup. Trus  doi ngaca n ngomong sendiri.
“Oh Lord.. Ya Tuhaann… hidup gue kok gini-gini amat. Carikan aku kekasih ya Tuhan. Berulang-ulang dia memohon. Aku kerja banting tulang, peras keringat, tiap hari. Akhirnya, kubawa duit dan kuhabiskan sendiri. Dia bersimpuh dan berdoa seraya menangisi diri.

“Cariin gue kekasiihhh….” gitu deh kira-kira rintihan hatinya Om Freddy.  Itu temen-temen si om Freddy yang jadi backing vocalnya sampe menyahut, “Dia pekerja keras,” katanya. Kalo diterjemahin, masih banyak lagi ke-ngenesan hidupnya. Sedih.

Dan yang menyempurnakan lagu ini adalah komposisi musik dan backing vocalnya. Tuh si om Bryan May yang bikin lagu ini tambah menyayat hati. Emang edan melodinya.

Duh, ngenes banget ya nasibnya si om Freddie yang berpulang dalam keadaan tragis. Hampa. Lain kesempatan, saya ingin berbagi kisah tragis om Freddie lainnya.

Buat bapak-bapak yang kadang ngeluh kerja, capek, rudet, Inget! di rumah ada anak istri menanti yang siap mengisi hati dengan segudang rasa sayang.

Bayangin Om Freddy kerja banting tulang, uang banyak, tapi bingung untuk apa? untuk siapa? Tak ada yang mau berbagi hati dengannya.

Pesan moral dari lagu ini ialah, bersyukur dan berbahagialah kalian yang memiliki orang terkasih di sekelilingnya. Ayo, peluk mereka! 

Can anybody find me somebody to love?
Each morning I get up I die a little
Can barely stand on my feet
Take a look in the mirror and cry
Lord what you’re doing to me
I have spent all my years in believing you
But I just can’t get no relief, Lord!
Somebody, somebody
Can anybody find me somebody to love?

I work hard
(he works hard)
every day of my life
I work till I ache my bones
At the end of the day,
I take home my hard earned pay all on my own –
I get down on my knees
And I start to pray
Till the tears run down from my eyes
Lord – somebody – somebody
Can anybody find me – somebody to love?
(He works hard)

Everyday – I try and I try and I try –
But everybody wants to put me down
They say I’m goin’ crazy
They say I got a lot of water in my brain
Got no common senseI got nobody left to believe
Yeah – yeah yeah yeah
Oh Lord
Somebody – somebody
Can anybody find me somebody to love?
Got no feel, I got no rhythm
I just keep losing my beatI’m ok,
I’m alright
Ain’t gonna face no defeat
I just gotta get out of this prison cell
Someday I’m gonna be free, Lord!
Find me somebody to love
Find me somebody to love
Find me somebody to love
Find me somebody to love
Find me somebody to love
Can anybody find me somebody to love?

Itu Om Freddie yang sebelah kanan ya… yang popular tapi kesepian.
Klo sebelah kiri, gak popular, tapi ia dikelilingi cinta dan kehangatan dari orang-orang terkasih di sekitarnya.
Eeeaaaa…. 😛

IMG_6245

Ada Cakwe di London

Kebetulan udah lama ngak ngayap karena cuaca yang kurang bersahabat, pas sisters ngajak jalan, di ayo’in aja deh. Setelah jalan rame-rame ke Birmingham tempo hari (tulisannya mejeng di sini), kali ini sisters ngajak jalan ke London. Buat saya ini kali pertama jalan sama sisters ke London karena biasanya barengan sama keluarga.

Dari sekian destinasi ngayap, ada satu info yang ingin saya bagikan di sini. Kebetulan ingar bingar imlek masih ramai, maka china town gak boleh dilewatkan. Merapatlah kami ke sana.

Setelah clingak-clinguk kemudian blanja-blanji, seorang sister ngajak masuk sebuah toko kue di pecinan tersebut.

Wow, ternyata di dalamnya padat. Ya padat pembeli, padat pula jajanan kue yang ditawarkan. Pantesan aja, orang-orang pada bergerumul di depan tokonya. Mantengin n naksir kue-kue yang nampak dari kaca depan tokonya.

Baiklah, beli apa ya? Hei! ada cakwe, ada onde-onde, klepon juga ada. Wah! kalap. Ternyata, jajanan kita yang biasa masuk perut saat di indonesia ada pula di negri Ratu Elizabeth ini.
blog2

 

Yaudah, tunjuk ini-tunjuk itu, bungkussss…
Oiya, untuk sepotong, eh, kok sepotong? seutuh kali ya? 😀 untuk seutuh cakwe harganya £1,5 atau sekitar 30 rebu. Idih mahal bingits ya klo di rupiahin. Tapi ya.. gimana.. ini kan di Inggris 😉 Tapi harga segitu kita bisa dapet cakwe seukuran 35 centi panjangnya. Panjang banget ya?
Makanya pas nenteng plastik blanjaan itu si cakwe nongol menyapa udara segar. Saran saya, kalau beli di sini minta dua plastik. Iket deh tuh cakwe atas bawahnya.

Tips lagi nih, enakan ini cakwe makan di tempat. Atau setidaknya makan dadakan gitu. Soalnya kalau dibesokin agak keras. Mengingat si cakwe di goreng kering banget. Entah pas kebetulan saya dapatnya yang kering banget. Entah standarnya emang digoreng sekering itu. Biasanya pan, kalau kita beli cakwe di tanah air agak empuk-empuk gitu ya?

Baiklah, buat kamu yang mau ke London n pengen ngunyah-ngunyah cakwe, onde dan teman-temannya mampir aja ke China Town kota London. Untuk lebih jelasnya dimana letak Pecinan tersebut, bisa intip-intip di buku saya yang berjudul Jelajah Inggris 😉

Buku Jelajah Inggris

cover buku ji

Tentang sountrack lagu ini bisa mampir ke sini.