Category Archives: inggris dan ceritanya

KIBAR Spring Gathering 2015

Pada 2-3 Mei 2015 lalu keluarga muslim Indonesia melaksanakan hajat besar berupa kumpul bersama di The Bordesley Centre, Stratford Road, Birmingham, bertajuk KIBAR Spring Gathering 2015.

Acara yang digelar setahun dua kali ini selalu mendatangkan pembicara/penceramah utama dari tanah air. Untuk Kibar Spring Gathering kali ini, panitia KSG mengundang Bapak Habiburrahman El-Shirazy, yang biasa disapa Kang Abik, penulis best seller novel islami. Bagi para pencinta novel islami dan penikmat film islami tentu sudah tak asing dengan nama beliau. Dua novel best sellernya yang juga sukses difilmkan adalah Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih.

Seperti Kibar Gathering sebelum-sebelumnya, dihadiri pula Duta Besar Indonesia untuk Irlandia dan Britania Raya, Bapak T.M. Hamzah Thayeb beserta istri dan rombongan dari KBRI London.

KGS yang mengangkat tema “Enriching Civil Society” ini dihadiri sekitar 350 peserta yang datang dari berbagai penjuru Inggris Raya. Dari Skolandia (Aberdeen, glasglow, Dundee, Edinburgh). Dari Belfast Irlandia. Dan peserta terbanyak tentunya berasal dari England, diantaranya dari kota Birmingham sebagai tuan rumah, London, Bristol, Worcester, Manchester, Oxfordshire & Swindon, Leicestershire, Nottinghamshire, Newcastle, Southampton, Sheffield, Leeds,  dan kota-kota lainnya.

Kang Abik mengisi dua sesi kajian/ceramah/dialog/diskusi yang berjudul Moeslem Role in Developing Civilization. Sesi lainnya berupa sambutan dari Duta Besar Indonesia untuk Irlandia dan Britania Raya, Bapak T.M. Hamzah Thayeb, Ketua Panitia KSG 2015 dan ketua KIBAR.

Selain acara utama dibuka juga sesi lainnya di ruang terpisah. Diantaranya untuk anak-anak dan muslimah. Untuk kelas muslimah mengambil tema keluarga dan karir.

Hari pertama berlangsung padat, diawali dengan registrasi di jam 9 pagi hingga berakhir pada jam 9 malam. Disambung hari kedua dengan kegiatan olah raga, games, cerdas cermat, dan pertunjukkan anak-anak.

Untuk para pria diadakan tanding fulsal antar lokaliti pengajian. Pengajian Al Hijrah Bristol dan Pengajian Manchester berhasil masuk final yang dimenangkan oleh tim sepak bola Pengajian Manchester. Untuk para ibu dan remaja putri berlangsung olah raga ringan yang lebih ke permainan tradisional berupa gobak sodor.

Acara yang paling dinanti di hari kedua adalah bazaar. Betapa tidak, aneka jajanan, makanan, minuman khas Indonesia tersedia di sini. Gudeg, sate, sate padang, bakso, siomay, bubur ayam, pempek, getuk, onde, es cendol dan masih banyak lagi menjadi obat kangen akan makanan Indonesia.

Liputan acara tersebut telah dimuat di koran Tribun Timur edisi 7 Mei 2015 dan berikut penampakkan artikelnya 😉

Kibar 2015 tribun

Sedangkan berikut ini merupakan penampakkan videonya,

Wisata Belanja London

Harrods tampak depan
Harrods

Berbicara wisata belanja London, sering kali dikaitkan dengan Oxford Street dan Harrods. Banyak faktor yang menjadikan Harrods popular di kalangan wisatawan. Diantaranya karena Harrods menyajikan aneka barang branded yang banyak diburu wisatawan berkantong tebal.

Harrods juga sering dikaitkan dengan Dodi Al Fayed dan Putri Diana. Pasangan kasih yang tak mungkin dipersatukan. Hingga berujung tragis di Prancis. Entah untuk menarik pasar ataukah murni penghormatan terakhir dari Harrods. Di lantai dasar gedung berlantai tujuh ini terdapat monumen  Dodi dan Lady Di.

Banyak pengunjung berfoto di monumen bermaterialkan marmer coklat berbaur hitam ini. Foto Dodi dan Lady Di berdampingan dalam frame bulat berwarna kuning keemasan. Sepasang merpati keemasan menaungi keduanya. Senada dengan dinding latar belakang monument tersebut.

Sepasang lilin putih berukuran besar, tiga bucket mawar putih, serta kolam kecil berisi koin keberuntungan berserakan, melengkapi monument. Di depan monument terdapat patung Dodi dan Lady Di yang tengah berdiri. Mirip sedang menari. Mereka berpegangan,   seekor burung berada di atas tangan mereka. Tertulis dibawah patungnya, innocent victims.

Puluhan hingga ratusan barang branded

Bagi wisatawan yang berkantong tebal Harrods adalah surga wisata belanja. Betapa tidak, ratusan barang bermerek ternama bertenger manis di sana. Parfum, tas, sepatu, pakaian, perhiasan, emas, berlian, jam tangan dan sebagainya mengisi 330 gerai toko.

Harga yang dibantrol mulai dari ratusan, ribuan, belasan ribu, hingga puluhan ribu pounsterling. Sebut saja, untuk sebuah tas wanita ada yang dibandrol £15.000 (sekitar 300.000.000,-)

Harrods memiliki section coklat yang menempati bagian khusus. Seperti bagian lainnya, interior section coklat terlihat mewah. Tata lampunya agak remang. Sama halnya lift yang ada di sana. Tidak seperti mall modern yang terang benderang dan serba simple. Interior lift Harrods lebih ke detail, artistik, remang, kuning keemasan.

Harga coklat yang ditawarkan beragam. Mulai dari sepotong coklat seharga £2,75 hingga sekaleng praline seharga £250 (sekitar lima juta). Di sebelah section coklat terdapat section sea food. Sepertinya tak lumrah menempatkan section seafood di sebuah gedung perbelanjaan luxury. Tapi Harrods lain. Tak ada kesan bau amis, ataupun menurunkan selera belanja. Justru banyak wisatawan berfoto di sini. Seafood yang dijual diantaranya caviar, lobster, udang besar, scallop, filet salmon, tuna dan sebagainya.

Bagi pengunjung cilik, Harrods menyediakan section khusus yang membuat bocah-bocah betah berlama-lama di sana. Section souvenir juga ada. Harrods dijalankan 5 ribu karyawan. Mereka berasal dari 50 kewarganegaraan. Mengingat kepemilikkannya, tak heran jika banyak karyawan ganteng berwajah timur tengah yang melayani ramah. Mengucapkan salam kepada pengunjung muslimah yang jumlahnya cukup banyak.

Bagi penghobi wisata belanja pasti betah berlama-lama di bangunan klasik usia lebih dari seabad yang luas area 90.000 m2 ini.

China Town

Selain berbelanja di Harrods yang terkenal dengan keekslusifannya, kita juga bisa berwisata belanja bernuansa Asia. Tepatnya di China Town. Letaknya dekat Piccadily Circus yang juga masuk dalam list destinasi incaran wisatawan. Enam hal untuk mendeskripsikan Piccadilly Circus adalah: ramai wisatawan, musisi jalanan, Shaftesbury Memorial Fountain, lampu neon/billboard iklan, pusat belanja dan pusat hiburan.

Wisatawan yang lelah berbelanja ataupun mencari hiburan biasanya duduk-duduk di tangga Shaftesbury Memorial Fountain. Bisa sambil makan siang, menikmati musik jalanan, ataupun duduk santai menikmati hiruk-pikuk dan kerlap-kerlip billboard iklan produk ternama yang tersemat di gedung-gedung tinggi.

Lima menit berjalan dari Piccadily Circus kearah Timur Laut, tibalah kita di China Town yang juga banyak diagendakan wisatawan. Kebetulan saya datang di hari kedua Imlek, bertepatan liburan sekolah pula. Lalu lalang orang ramai sekali. Nuansa merah, balon-balon, lampion-lampion dan aksesoris imlek lainnya menambah marak suasana. Rasanya seperti di negeri Tiongkok saja.

Saya jumpai panda. Maksudnya orang berkostum panda yang notabene ikon Negara China. Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun banyak yang berfoto bersama si panda yang besar nan lucu. Setelah berfoto, mereka melemparkan koin sekedarnya di box yang tersedia

Banyak wisatawan berselfie ria di gapura China Town. Kawasan ini merupakan surga makanan bagi wisatawan pecinta chinesse cuisine. Harga yang ditawarkan relatif murah. Dengan £8.50 (sekitar 170.000 rupiah) anda sudah bisa makan kenyang ala buffet.

Restoran Halal

Untuk Anda yang muslim, jangan khawatir. Saya merekomendasikan Restoran Rasa Sayang yang beralamat di 5 Macclesfield Street. Tertulis, Malaysia-Singaporean Cuisine. Maka tak heran jika cita rasa makanannya sesuai dengan lidah kita.

Begitu memasukinya, saya temukan kesan sempit. Kursinya penuh.  Saya pikir, kami baru bisa duduk setelah pengunjung lain pergi.

“Tunggu,” kata pramusajinya ramah. Tak lama, ia mempersilakan saya menuju lantai bawah.

Tangganya sempit, tapi di luar dugaan, lantai bawah lebih luas dari lantai atas. Harga makanan di restoran berdaya tampung sekitar 80 orang ini relatif murah. Rata-rata per porsinya £7,5 (sekitar 150.000). Ada nasi/mie/bihun goreng, rendang, nasi Hainan, aneka mie dan kwetiau, sate lontong dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak jenis minumannya saya tertarik dengan cincau bandung. Sebagai orang Bandung, rasanya di Bandung sendiri tidak ada jenis minuman seperti itu. Setelah dipesan, datanglah es cincau biasa. Oh, rupanya, bandung itu sebutan untuk evaporated milk yang digodok bersama pandan lalu diberi sirup.

Jika dipukul rata, makan,minum plus pajak, £12 (sekitar 240.000 rupiah). Puas makan, selanjutnya berbelanja di toko groceries. Maklum, Worcester tidak memiliki kawasan seperti ini. Di sini banyak toko yang menjual aneka sayur, buah dan kelontongan khas Asia. Seperti: durian, petai, kangkung, jambu batu dan sebagainya.

Disinipun banyak terdapat toko kue. Dimana dinding toko bermaterialkan kaca lebar tersebut memamerkan kue, roti dan cake yang berpenampilan cantik menarik. Membuat langkah wisatan terhenti. Begitu pun saya. Langkah terhenti ketika sederet cakwe terpajang di sana. Segera saya memasuki tokonya yang ternyata padat. Padat pengunjungnya, padat pula kue-kue yang disajikannya.

Kursi yang tersedia penuh terisi. Terpaksa, pengunjung yang baru datang harus take away. Kue-kue yang dijual di sini cukup familiar di kalangan kita orang Indonesia. Ada cakwe, onde-onde, klepon, aneka roti dan sebagainya. Untuk onde seukuran bola tenis dibandrol £1 (sekitar 20.000,-). Sedangkan cakwe sepanjang 35 centi, dibandrol  £1,5 (sekitar 30.000,-)

Oxford Street

Banyak wisatawan mengagendakan Oxford Street sebagai destinasi wisata belanja. Maka tak heran jika ia berjuluk kawasan belanja terpadat di Eropa. Berjalan diantara hiruk-pikuk orang yang berlalu-lalang di kawasan yang memiliki 300 toko ini menjadi sebuah keseruan tersendiri bagi wisatawan.

Di sepanjang jalan ini akan Anda jumpai toko: DEBENHAM, GAP, H&M, House of Fraser, John Lewis, Mark & Spencer, Next, Zara dan masih banyak lagi toko berkelas lainnya. Jika merasa lelah untuk keluar masuk toko-toko tersebut, Anda bisa masuk ke Selfridges, one-stop shopping ikon Oxford Street.

Selfridges menawarkan banyak barang branded tak ubahnya Harrods. Bedanya, meski menempati bangunan berusia lebih dari seabad, seting interiornya dibuat modern dengan lampu terang-benderang layaknya mall kebanyakan. Berbeda dengan interior Harrods yang klasik dengan tata lampu remang-remang.

Fenwick

Kurang dari setengah mile, hitungan menit, dari Selfridges berjalan kaki ke arah Barat, Anda akan temukan Fenwick. Satu lagi one-stop shopping yang bisa Anda jajal selama berwisata belanja di London.

Bangunan yang terletak di Jalan Bond Street ini juga menawarkan barang-barang bermerek. Sepertinya halnya Selfridges, Fenwick menempati bangunan usia tua klasik namun seting interiornya dimuat modern dengan tata lampu yang terang-menderang.

Apapun pilihan tempat wisata belanja yang akan akan kunjungi selama di London, satu hal yang harus diperhatikan: Anda berhak mengklaim pajak pembelian.

Pengembalian Pajak

Anda adalah wisatawan, tidak diwajibkan membayar pajak. Apa yang harus Anda lakukan untuk mencegah membayar pajak atas barang yang anda beli?

Gampang. Ketika Anda membeli barang di sebuah toko/butik/mall/one-stop shopping, mintalah form isian untuk pengembalian pajak. Ketika di Bandara, sebelum Anda pulang ke tanah air, klaimlah atas barang-barang berpajak yang telah anda beli. Lumayan kan? Lumayan banget.

Suvenir

Banyak toko souvenir yang bisa Anda jumpai selama di London. Entah itu di Harrods, di Pecinan, di Oxford Street, Piccadilly Street dan sebagainya. Namun, tip dari saya adalah, belilah suvenir di sekitar China Town. Karena harganya lebih murah.

Untuk sebuah fridge magnet dibandrol 99p, atau £5 untuk setengah lusin. Kartu pos besar model ekslusif £2 per lima lembar. Kartu pos standar £1 per sepuluh lembar. Barang souvenir lainnya berupa: gunting kuku, mug, kaos, bendera, replika Big Ben, dsb.

Menuju arah pulang, saya mampir ke Jalan Charing Cross 57, tempat Warung Padang London berada. Di sepanjang trotoar jalan ini kita jumpai pedagang suvenir. Sedikit tip, jangan terburu-buru membeli souvenir di sini. Karena untuk barang yang sama, harganya bisa berbeda. Seperti scarf bergambar ikon Inggris, harga per helainya £4. Saya membeli 3 helai seharga £10. Hanya beberapa langkah dari sana saya jumpai harga £2,99 per helai atau £10 per empat helai.

Kendaraan

Bus dan kereta bawah tanah adalah alat transportasi yang paling efektif selama di London. Dari rumah saya berkendara bus lalu turun di Victoria Coach Station, stasiun  terbesar di Inggris. Selanjutnya menggunakan bus nomor C1 menuju Harrods. Lalu menggunakan bus nomor 14 dari Harrods ke Picadilly Circus yang kemudian berjalan kaki ke Cina Town. Pulangnya, kembali ke Victoria Coach Station menggunakan bus nomor C1.

Dari Victoria Coach Station menuju Oxford Street, Selfridges ataupun Fenwick, Anda tinggal bisa menggunakan bus nomor 73. Kemanapun tujuan anda bepergian, gunakan Google map yang siap memberikan info kendaraan (bus dan underground) yang lewat ke kawasan yang akan Anda tuju.

Saya naik turun kendaraan dengan menggunakan kartu Oyster, atau kartu tiket otomatik. Saya tinggal top up £5 saja. Anda pun bisa melakukan hal yang sama. Belilah kartu Oyster selama traveling di London, karena jatuhnya lebih murah dan praktis. Anda tinggal sentuhkan chip kartu oyster di mesin tiket bus.

Hotel

Bagi Anda yang mengagendakan lebih dari sehari berwisata di London, Anda bisa menginap di hotel yang berdekatan dengan destinasi tujuan anda. Jika ingin menginap di hotel sekitar Harrods setidaknya anda harus menganggarkan £250-£350 (sekitar 5-7 juta) per kamar untuk dua orang. Harga tersebut bisa lebih murah bisa pula lebih mahal. Tergantung waktu (low season/high season), lokasi (tengah kota, pinggir kota), jenis kamar (standar, deluxe, family room dll) serta kelas hotel.

 Sale

Inggris memiliki musim sale. Ini berlaku juga di Harrods, toko-toko branded dan one-stop shopping lainnya. Biasanya awal musim panas (sekitar awal Juli), jelang natal dan tahun baru, terutama boxing day (26 Desember). Beruntunglah Anda jika melancong pada musim sale tersebut.

 How to get there

Bagi yang terbang dari Jakarta, silakan pilih maskapai penerbangannya, kelas, waktu dan option lainnya. Kesemua itu sangat mempengaruhi harga tiket, lama penerbangan dan kenyamanan yang Anda dapatkan. Sebagai gambaran, Emirats, kelas ekonomi, low season, bisa dapat tiket seharga £600-an (atau sekitar 12 juta). Setidaknya itu harga terendah.

Dari Bandara Heatrow ataupun Gatwick anda bisa menggunakan, mobil sewaan, taksi, bus maupun kereta, dengan plus minusnya. Taksi menguras kocek, tapi menghemat waktu dan tenaga. Sewa mobil, sulit urusan parkirnya. Kebanyakan wisatawan menggunakan bus dan kereta/underground selama bepergian di London. Selain lebih murah, feel dan atmosfir sebagai wisatawannya lebih terasa.

Jangan lupa gunakan Oyster Card, kartu tiket otomatis, disertai chip, sehingga memudahkan anda dalam berkendara umum. Lebih mudah dan murah. Mengenai transportasi umum bisa diliat di website berikut ini: http://www.tfl.gov.uk/

Inggris tidak termasuk dalam visa Schengen. Jadi jika Anda berniat keliling Eropa, buat jugalah Visa Inggris. Untuk mengetahui cara mendapatkan Visa Inggris bisa kunjungi website berikut ini: https://www.gov.uk/government/publications/apply-for-a-uk-visa-in-indonesia.

Tulisan perjalanan ini telah dimuat di Majalah Female edisi April 2015.

Majalah female
Tulisan perjalananku di Majalah Female

Such a small world

Adalah sebuah haru ketika buku yang saya tulis bermanfaat bagi orang lain. Selain Buku Jelajah Inggris dipakai panduan sebuah stasiun TV, ada satu cerita lainnya diantara belasan cerita yang saya terima dari pembaca buku Jelajah Inggris.

Lagi-lagi, semuanya bukan kebetulan, tapi rencana Tuhan yang sempurna. Cerita ini saya dapat dari ketua penyelenggara KIBAR gathering yang saya liput beberapa waktu.

Bayangkan, beliau tinggal di Birminghan, bersama keluarganya hari ini beliau jalan-jalan ke London. Diantara ratusan  wisatawan bahkan ribuan orang yang hilir mudik hari ini di London yang padat, kok ya bisa berbetemu dengan seorang ibu yang sedang menenteng buku Jelajah Inggris. Bisa begitu ya?

Ya bisa lah! Karena Tuhan berkehendak. Tuhan berkehendak mempertemukan ibu itu dengan Mas Agus. Kemudian Mas Agus menghubungi saya. Yang pada akhirnya saya bisa berbincang hangat dengan ibu yang ramah itu. Kebetulannya lagi, ibu itu berasal dari Bandung. Wah… benar-benar dunia ini kecil.

Ibu yang darehdeh (artinya ada di kamus Sunda :D) tersebut bernama Ibu Dian. Bersama rombongan dari Indonesia ia keliling Eropa. Sedangkan destinasi terakhirnya ialah London dengan masa wisata sehari saja.

Karena ibu tersebut ingin berlama-lama di London, maka beliau menambah masa wisatanya di London beberapa hari.

“Sejak memutuskan berwisata ke Eropa kemudian ke London, ibu teh sengaja beli buku Jelajah Inggris buat pegangan informasi,” dan seterusnya.. dan seterusnya, kami berbicara lewat handphone Mas Agus.

“Sebentar, ini suami saya ingin bicara juga dengan Rosi,” lanjut Bu Dian. Duh, suatu kehormatan besar bagi saya bisa berbincang dengan beliau-beliau.

Saya saling memberi salam. Bapak yang ramah tersebut bernama Pak Ahmad. Ia senang sekali buku Jelajah Inggris memberikan manfaat bagi ia dan istrinya. Saya apalagi. Saya merasa lebih senang karena mereka senang.

Seperti halnya kepada pembaca Buku Jelajah Inggris lainnya, saya suka minta pendapat, kritik dan masukkannya. Dengan nada ramah dan memakai kata maaf.. maaf.. beliau memberikan masukan untuk buku saya. Ada dua hal. Pertama, sebaiknya disertakan mesjid yang bisa dikunjungi dan jasa pemandu wisata orang Indonesia.

Aha.. benarlah adanya. Terima kasih masukkannya Pak Ahmad Sadikin. Semoga buku Jelajah Inggris laris manis hingga cetak ulang, sehingga saya bisa merevisi buku tersebut dan menambahkan informasi terkait tempat sholat/mesjid seputaran London. Nah, untuk jasa pengantar wisatawan atau guide saya jadi kepikiran juga nih. Kira-kira teman-teman di London, khususnya mahasiswa ada yang bisa diajak kerja sama jadi pemandu wisata gak nih? Hmm…

Dan inilah foto ibu Dian yang sempat diabadikan oleh Mas Agus di London.

Wisatawan Indonesia di London
Pembaca Buku Jelajah Inggris di London

Terima kasih Bu Dian, Pak Ahmad dan Mas Agus. Tangan Tuhan mengatur silaturahim singkat kami ini.

6 hal yang dilakukan perantau di luar negeri

Sebagai Warga Negara Indonesia yang merantau di Luar Negeri, ada beberapa hal yang tetap dilakukan oleh kami, para perantau. 6  Diantaranya ialah:

1. Makan Nasi

Beruntung saya hijrah ke Inggris tahun 2007. Dimana beras sangat mudah didapat di supermarket. Saya ingat, harga satu kilo beras long grain (beras yang jika ditanak menghasilkan nasi yang agak keras, butirannya panjang, warnanya agak kusam) 60p atau sekitar 12.000 rupiah. Sekarang, dengan jenis yang sama, harganya 40p atau sekitar 8.000 rupiah. Sedangkan untuk beras pulen setara kualitas beras pandan wangi atau jasmine rice harganya £1,1-1,2 per kilo (sekitar 22.000 – 24.000). Itu suatu pertanda, semakin kesini pasokan beras semakin banyak. Tentunya karena permintaan pasar yang juga semakin banyak.

Tidaklah mengherankan jika permintaan pasar akan beras di Inggris makin tinggi. Karena yang mengkonsumsi nasi tidak hanya orang Asia saja tapi orang Inggrispun kini menyukai nasi sebagai karbohidrat santapannya. Entah itu nasi putih ataupun rasi berempah seperti halnya makanan India yang makin familiar di lidah orang Inggris.

Efek dari itu semua, bagi kami WNI perantau, tak ada lagi kendala untuk bisa makan nasi setiap hari. Ternyata, hadirnya nasi setiap hari, tidak hanya di meja makan kami, pasangan Indonesia, tapi juga di meja makan pasangan campur, Indonesia-Inggris. Menurut teman saya yang bersuamikan bule, ia harus makan nasi setiap hari. Bahkan suaminya jadi terbawa makan nasi setiap hari.

2.Lauk yang Indonesia

Membicarakan nasi, tentunya berteman akrab dengan lauknya yang juga bercita rasa Indonesia. Oseng-oseng, sayur asem, ayam rica-rica, pepes ayam, sambal lalap, ikan asin, krupuk dan sebagainya bukan lagi perkara sulit. Semuanya itu bisa didapat di toko Asia.

Bagi saya yang tinggal di kota kecil saja bisa mendapatkan tempe, daun pisang, kangkung, nangka muda, kacang panjang, paria dan lain sebagainya. Apalagi bumbu rempah, jangan ditanya lagi lengkapnya kayak apa.

3. Berbicara bahasa daerah

Ini satu lagi identitas diri bangsa Indonesia. Jika kami bertemu dalam satu kumpulan besar, kami berbahasa Indonesia. Namun dalam kumpulan besar itu, terdiri dari suku yang berbeda. Dan jika kami bertemu dengan teman satu daerah, biasanya bahasa daerah kami keluar begitu saja. Dan itu yang jadi saling merekatkan persaudaraan. Contohnya saja, ketika kami berkumpul dalam satu komunitas besar, beberapa orang Surabaya berbicara dengan bahasa Jawa Surabayaan. Dan saya berbicara bahasa Sunda dengan orang Sunda lainnya.

4. Cara bicara

“Kenapa sih, kalian bicaranya kencang sekali?” tanya seorang teman bule kepada istrinya yang Indonesia ketika berbincang dengan saya. Kami tertawa.

Kami juga baru sadar, kenapa kami berbicara kencang sekali diantara orang-orang Inggris yang bicaranya pelan. Setelah diingatkan kami berbicara pelan, tapi kenapa semakin obrolan seru nada suara kami kencang kembali? hahaha..

Mungkin, karena nenek moyang kita dulu jarak rumahnya berjauhan satu sama lain, sehingga untuk bertegur sapa harus berteriak/bersuara kencang. Entahlah, yang jelas, jika kami ada kumpul-kumpul, riuh sangat! Dan akan terdengar sedikit quiet ketika acara makan tiba 😀

5. Gotong-royong

Dimanapun kita tinggal, kita tetap orang Indonesia yang memiliki rasa kegotongroyongan yang tinggi. Salah satu contohnya, jika komunitas kami mengadakan kumpul-kumpul, soal makanan hidangan bukan suatu hal yang memberatkan. Misalnya si A ketempatan acara, tapi soal makanan menjadi tanggung jawab bersama. Kami bergerak begitu saja mengatur semuanya, tanpa komando semuanya berdasarkan kesadaran masing-masing. Tiba hari H, semua hidangan tersaji di meja makan hasil olahan tangan si A, si B, si C dan seterusnya.

6. Arisan

Ya, arisan! sepertinya arisan hanya milik Indonesia, semoga tetangga sebelah ngak ikut ngaku 😀 Kenapa ya? Ada yang tahu sejarahnya?

Arisan itu Indonesia banget! Di komunitas saya juga ada arisan. Dulu saya ikutan, satu nomor saja. Eh, teman saya lainnya ada yang ikutan dua nomor bahkan lebih. Wah! Motivasi arisan macam-macam. Ada yang untuk bersosialisasi, ada yang tujuannya nabung, apapun itu, Arisan mencirikan kita orang Indonesia. Satahu saya, di Kota tempat komunitas saya berada ada dua komunitas arisan.

Lucunya, di salah satu komunitas arisan di Inggris ini ada WNA yang ikutan arisan. Meski awalnya agak binggung dengan aturan mainnya tapi akhirnya dia senang juga karena kebersamaannya, karena kumpul-kumpulnya, karena keseruannya, dan karena hidangan makanannya 😀

Inilah 6 hal yang  sangat Indonesia yang masih kami lakukan, meski tinggal di luar negeri. Kalau kamu?

arisan di luar negeri
horeee… akyu menang…. seneng deh pegang segepok £ 😉